Bagi perantau di kota besar, "Ibu Kost" adalah sosok yang berjasa sekaligus "menakutkan" di akhir bulan. Hidup di kost memang praktis; listrik ada yang urus, air lancar, dan lokasi biasanya strategis.
Namun, pernahkah kamu iseng menghitung berapa total uang yang sudah kamu setorkan ke pemilik kost selama 3 atau 5 tahun terakhir?
Jika harga sewa kost kamu Rp2.000.000 per bulan, dalam 5 tahun kamu sudah mengeluarkan Rp120.000.000. Uang sebanyak itu hilang begitu saja tanpa menjadi aset sepeser pun. Pertanyaannya: Sampai kapan mau jadi kontraktor (baca: ngontrak sana-sini)?
Mungkin ini saatnya kamu "naik kelas" dari penyewa menjadi pemilik. Berikut adalah tanda-tanda keuangan dan mental kamu sebenarnya sudah siap untuk membeli hunian pertama.
1. Biaya Kost Sudah Setara Cicilan KPR/KPA
Coba cek pasar. Saat ini banyak apartemen tipe studio di kawasan penyangga Jakarta atau rumah tapak minimalis di area sunrise (berkembang) yang cicilannya mulai dari Rp 2 jutaan per bulan.
Jika pengeluaran kost bulanan kamu (sewa + listrik + laundry) sudah menyentuh angka yang sama, secara cashflow kamu sebenarnya sudah mampu mencicil rumah. Bedanya, yang satu uang hangus, yang satu jadi milik sendiri.
2. Punya Dana Darurat, Meski DP Minim
Dulu, orang takut beli rumah karena DP (Down Payment) harus 20-30%. Itu masa lalu.
Sekarang, persaingan developer properti sangat ketat. Banyak proyek properti primer (baru) yang menawarkan promo DP 0% atau DP yang bisa dicicil panjang.
Artinya, kamu tidak butuh tabungan ratusan juta untuk mulai akad kredit. Asalkan kamu punya dana darurat yang cukup dan penghasilan tetap, pintu kepemilikan rumah sudah terbuka.
3. Tahu Di Mana Mencari Properti yang Tepat
Kesalahan terbesar anak kost yang ingin beli rumah adalah mencari di tempat yang salah. Jangan mencari di situs jual beli barang bekas atau grup media sosial yang tidak terverifikasi karena resikonya tinggi.
Untuk pemula, sangat disarankan membeli Properti Primer (Baru dari Developer). Mengapa? Karena legalitasnya lebih jelas, bangunan masih gress, dan banyak subsidi biaya akad.
Kamu bisa mulai melakukan survei digital untuk membandingkan harga dan lokasi melalui situs https://cariproperti.com. Platform ini dikhususkan untuk pencarian proyek baru (Primary), sehingga kamu bisa berkonsultasi gratis untuk dicarikan rumah yang sesuai dengan slip gaji kamu, bukan hanya berdasarkan angan-angan.
4. Siap Berkomitmen Jangka Panjang
Membeli rumah bukan seperti membeli gadget yang bisa ganti tiap tahun. Ini adalah komitmen 15-20 tahun. Jika kamu sudah merasa betah dengan kota tempatmu bekerja dan memiliki visi karir jangka panjang di sana, tidak ada alasan untuk menunda.
Ingat, harga properti cenderung naik setiap tahun (inflasi), sementara harga sewa kost juga jarang sekali turun.
Transisi dari "Anak Kost" menjadi "Pemilik Rumah" memang butuh keberanian mental. Tapi ingat, rasa takut berhutang itu wajar, namun rasa menyesal di masa tua karena tidak punya tempat tinggal jauh lebih menakutkan.
Mulailah dari yang kecil. Cek ketersediaan unit sekarang, cari yang sesuai budget, dan bicaralah pada ahlinya. Siapa tahu, tahun depan kamu sudah tidak perlu transfer uang sewa ke Ibu Kost lagi!