Urgensi Literasi Kesehatan untuk Melawan Tren Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter

Rendahnya literasi kesehatan membuat antibiotik sering disalahgunakan. Yuk simak cara bijak menggunakan antibiotik sejak sekarang.

Oleh Maulina Khamidah

Rendahnya literasi kesehatan memicu maraknya penggunaan antibiotik tanpa resep dokter di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi dunia kesehatan karena mempercepat ancaman resistensi bakteri, obat-obat yang ada saat ini terancam tidak lagi ampuh melawan infeksi (Prasetyawan, 2022; Yulia et al., 2022).

Dunia kesehatan modern saat ini tengah menghadapi ancaman yang tidak kasat mata namun sangat nyata, yakni resistensi antibiotik. Sebagai obat yang dirancang khusus untuk melawan infeksi bakteri, antibiotik sering kali dianggap sebagai "obat dewa" oleh sebagian masyarakat. Padahal, penggunaan yang serampangan tanpa dasar medis yang kuat justru menjadi bumerang yang membahayakan kesehatan masyarakat di masa depan (Meinitasari et al., 2021).

Urgensi Literasi Kesehatan untuk Melawan Tren Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter

Resistensi antibiotik sendiri terjadi ketika bakteri berubah menjadi "kebal" sehingga infeksi yang dulunya mudah disembuhkan, kini bisa berakibat fatal karena obat sudah tidak mempan lagi. Penggunaan yang tidak tepat ini secara langsung menurunkan efektivitas obat dan meningkatkan risiko buruk bagi kesehatan masyarakat luas (Meinitasari et al., 2021).

Jebakan Swamedikasi dan Pengaruh Lingkungan

Salah satu pemicu utama krisis ini adalah tren penggunaan antibiotik tanpa resep dokter atau swamedikasi. Banyak individu memutuskan untuk membeli antibiotik sendiri hanya karena mengikuti saran dari teman atau kerabat yang belum tentu memiliki latar belakang medis. Sebagai contoh, Amoksisilin sering kali menjadi jenis yang paling populer dicari masyarakat secara mandiri untuk mengobati keluhan yang sebenarnya tidak selalu membutuhkan antibiotik, seperti sakit gigi.

Di wilayah perkotaan, alasan efisiensi waktu dan penghematan biaya sering kali menjadi dalih bagi masyarakat untuk membeli antibiotik secara bebas di apotek tanpa pengawasan ketat. Tanpa penilaian klinis yang tepat dari tenaga medis, penggunaan obat ini secara langsung akan menurunkan efektivitas obat dan meningkatkan risiko buruk bagi kesehatan masyarakat luas.

Literasi Kesehatan dan Kedisiplinan Pasien

Rendahnya literasi kesehatan memiliki kaitan erat dengan bagaimana seseorang memahami informasi medis yang mereka terima. Semakin rendah pemahaman medis seseorang, semakin besar peluang terjadinya salah kaprah dalam konsumsi obat (Meinitasari et al., 2021). Hal ini berdampak langsung pada tingkat kedisiplinan pasien dalam mengikuti prosedur pengobatan.

Masalah utama yang sering dijumpai adalah perilaku pasien yang berhenti meminum obat begitu mereka merasa tubuhnya sedikit lebih baik (Ayu Zakkiyah et al., 2024). Padahal, menghabiskan dosis sesuai instruksi adalah hal yang mutlak dilakukan. Tindakan menghentikan pengobatan di tengah jalan justru menjadi pemicu utama bakteri sisa di dalam tubuh bermutasi menjadi kebal terhadap obat tersebut.

Langkah Nyata Menuju Penggunaan Antibiotik yang Bijak

Upaya memperkuat literasi kesehatan bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan demi menjaga agar antibiotik tetap ampuh dalam melindungi kesehatan generasi yang akan datang. Pengetahuan yang akurat dari tenaga medis terbukti menjadi faktor kunci dalam menekan angka pengobatan mandiri yang berisiko. Sebagai langkah nyata, kita perlu menerapkan prinsip penggunaan obat yang bertanggung jawab melalui poin-poin berikut:

  1. Gunakan hanya dengan Resep: Antibiotik harus didasarkan pada penilaian klinis yang tepat untuk menjamin kemanjuran.
  2. Habiskan Dosis: Kepatuhan yang rendah adalah masalah serius; pastikan meminum obat sampai habis sesuai instruksi untuk menghindari resistensi.
  3. Waspada Informasi Luar: Hindari membeli antibiotik hanya karena saran teman atau kerabat, karena sumber informasi yang tidak medis sering kali menyesatkan.
  4. Cari Informasi Kredibel: Pengetahuan yang baik dari tenaga kesehatan secara signifikan mencegah perilaku swamedikasi yang salah.

Meningkatkan literasi kesehatan melalui edukasi yang konsisten adalah harga mati. Hanya dengan pengetahuan yang benar, kita dapat melindungi efektivitas antibiotik agar tetap bisa menyelamatkan nyawa generasi mendatang.

Referensi:

  1. Ayu Zakkiyah, Efriani, L., & Hadi, I. (2024). Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Penggunaan Antibiotik di Puskesmas X Kabupaten Cirebon. CERATA Jurnal Ilmu Farmasi, 14(2), 118–122.
  2. Djawaria, D. P. A., Setiadi, A. P., & Setiawan, E. (2018). Analisis Perilaku dan Faktor Penyebab Perilaku Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep di Surabaya. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 14(4), 406.
  3. Meinitasari, E., Yuliastuti, F., & Santoso, S. B. (2021). Hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku penggunaan antibiotik masyarakat. Borobudur Pharmacy Review, 1(1), 7–14.
  4. Prasetyawan, F. (2022). STUDI PEMAKAIAN OBAT ANTIBIOTIK TANPA RESEP DI APOTEK GEMBLEB FARMA KABUPATEN TRENGGALEK TAHUN 2021. Jurnal Inovasi Farmasi Indonesia (JAFI), 3(2), 83.
  5. Pratiwi, A. I., Wiyono, W. I., & Jayanto, I. (2020). Pengetahuan Dan Penggunaan Antibiotik Secara Swamedikasi Pada Masyarakat Kota. Jurnal Biomedik:JBM, 12(3), 176.
  6. Restiyono, A. (2016). Analisis Faktor yang Berpengaruh dalam Swamedikasi Antibiotik pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Kajen Kebupaten Pekalongan. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 11(1), 14.
  7. Sasenga, Y. E., Wiyono, W. I., & Lebang, J. S. (2022). Evaluasi Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Penggunaan Antibiotik di Kecamatan Tahuna. Jurnal Lentera Farma, 1(01), 01–08.
  8. Yulia, M., Parsono, R., & Armal, K. (2022). PERILAKU PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP DI APOTEK X DI KOTA PAYAKUMBUH SUMATERA BARAT. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 4(3), 397–413. 

Maulina Khamidah

Biodata Penulis:

Maulina Khamidah saat ini aktif sebagai Mahasiswa Farmasi di Universitas Binawan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.