Sumber: Malam Cinta (2007)
Analisis Puisi:
Puisi “Bali, Beri Kami Rumah” karya Wayan Jengki Sunarta hadir sebagai suara lirih sekaligus gugatan. Ia berbicara tentang tanah, ingatan, dan keterasingan, dengan Bali tidak hanya diposisikan sebagai tempat geografis, tetapi sebagai ruang kultural dan batin. Melalui citraan alam, simbol-simbol sakral, dan nada elegiak, puisi ini merekam kecemasan kolektif akan hilangnya rumah—dalam arti yang paling mendasar.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehilangan ruang hidup dan keterasingan manusia dari tanah asalnya. Puisi ini juga mengangkat tema perampasan identitas, ketika alam, budaya, dan sejarah perlahan terdesak oleh kekuatan luar yang tak sepenuhnya dipahami atau disadari.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok “mereka” yang larut dalam pembicaraan sia-sia, tanpa menyadari bahwa malam—sebagai simbol ancaman—telah mengepung. Di tengah situasi itu, hadir gambaran altar tua, tengkorak purba, dan perjamuan yang harus disempurnakan sebelum hutan, sawah, dan kebun berubah menjadi sekadar entri dalam ensiklopedia dunia. Seruan “beri kami rumah agar kami bisa kembali” menjadi inti emosional puisi, disusul oleh kabar dari jauh yang menggerus lapisan-lapisan batin manusia.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap proses modernisasi, pariwisata, dan komodifikasi budaya yang mengancam ruang hidup masyarakat Bali. Alam dan tradisi tidak lagi dipandang sebagai kehidupan yang dijalani, melainkan sebagai objek pengetahuan, dokumentasi, atau konsumsi. Permohonan “beri kami rumah” menyiratkan kenyataan pahit bahwa orang-orang justru menjadi asing di tanahnya sendiri.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, mencekam, dan penuh kecemasan. Malam yang digambarkan sebagai “hutan keramat” menciptakan atmosfer sakral sekaligus menakutkan. Ada rasa duka yang tertahan, bercampur dengan kegelisahan dan kelelahan kolektif.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari dan menjaga ruang hidup—baik alam maupun budaya—sebelum semuanya benar-benar hilang. Puisi ini menegaskan pentingnya keberpihakan pada manusia dan tanah, bukan sekadar pada kemajuan yang mengorbankan akar dan identitas.
Puisi “Bali, Beri Kami Rumah” adalah puisi yang bersuara politis dan kultural tanpa kehilangan kekuatan lirisnya. Wayan Jengki Sunarta berhasil meramu kegelisahan sosial menjadi doa dan ratapan, menjadikan puisi ini sebagai pengingat bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang hidup yang menautkan manusia dengan tanah, sejarah, dan jiwanya sendiri.
Karya: Wayan Jengki Sunarta
Biodata Wayan Jengki Sunarta:
- Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
