Puisi: Zikir Bumi (Karya Tjahjono Widarmanto)

Puisi “Zikir Bumi” karya Tjahjono Widarmanto bercerita tentang seseorang yang merasa ditinggalkan di “sabana yang jauh”, di tempat tanpa alamat, ...
Zikir Bumi

selalu saja Engkau tinggalkan aku di sabana yang jauh
di sebuah peta tak beralamat hanya sepi yang kelu mengoyak luka
jalan pulang begitu remang, masa lalu yang meliuk-liuk
telah melambai-lambaikan tangan. berucap sayonara.

berdiri sendiri di sana membuatku gagap menyusun paragraf-paragraf ungu
untuk menerjemahkan kidung rindu jadi prasasti yang dipahatkan disulur-sulur waktu

di tepian sabana ini kulangitkan zikirku
serupa perdu bunga-bunga yang merajuk pada cahaya matahari
menjeritkan percik-percik kuncup mahabah yang sepi

perjalanan ini kunanti kian bermakna
menebar nuansa warna rona-rona pelangi
menaburkan cahaya seribu kunang-kunang di tubuhku.

Sumber: Qasidah Langit Qasidah Bumi (2023)

Analisis Puisi:

Puisi “Zikir Bumi” karya Tjahjono Widarmanto merupakan sajak kontemplatif yang sarat nuansa spiritual dan kesunyian batin. Melalui metafora sabana, perjalanan, dan zikir, penyair menghadirkan pengalaman keterasingan sekaligus harapan akan makna dan cahaya ilahi.

Puisi ini bergerak dari rasa ditinggalkan menuju usaha mendekatkan diri kepada Tuhan melalui zikir yang “dilangitkan” dari tepian sabana kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian spiritual dan kerinduan kepada Tuhan. Selain itu, terdapat pula tema kesepian eksistensial, perjalanan hidup, dan harapan akan makna di tengah keterasingan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa ditinggalkan di “sabana yang jauh”, di tempat tanpa alamat, hanya sepi yang mengoyak luka. Jalan pulang terasa remang, masa lalu melambai seperti perpisahan yang tak terelakkan.

Dalam kesendirian itu, penyair berusaha menyusun “paragraf-paragraf ungu” untuk menerjemahkan rindu menjadi prasasti waktu. Di tepian sabana, ia melangitkan zikir—sebuah doa dan penghambaan—yang diibaratkan seperti bunga-bunga merajuk pada cahaya matahari.

Perjalanan hidup yang sunyi itu diharapkan menjadi semakin bermakna, hingga akhirnya menebarkan warna pelangi dan cahaya kunang-kunang dalam dirinya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada simbol-simbol yang digunakan. “Sabana yang jauh” melambangkan keterasingan hidup atau kondisi spiritual yang terasa kering dan sunyi. “Peta tak beralamat” menyiratkan kebingungan arah dan kehilangan pegangan.

Zikir menjadi simbol pengharapan dan jalan kembali kepada Tuhan. Ketika penyair “melangitkan zikir”, itu berarti ia mengangkat doa dan kerinduan kepada Yang Maha Kuasa.

Pelangi dan kunang-kunang melambangkan harapan serta cahaya kecil yang mampu menerangi kegelapan batin. Dengan demikian, puisi ini menegaskan bahwa kesunyian dapat menjadi ruang perjumpaan spiritual yang mendalam.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini pada awalnya terasa sepi, hampa, dan melankolis. Ada rasa kehilangan dan keterasingan yang kuat.

Namun, menjelang akhir, suasana berubah menjadi lebih penuh harapan dan hangat. Muncul optimisme melalui gambaran pelangi dan cahaya kunang-kunang yang menyinari tubuh penyair.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa dalam kesepian dan keterasingan hidup, manusia tetap dapat menemukan makna melalui zikir dan kedekatan dengan Tuhan. Perjalanan hidup yang terasa remang dapat menjadi lebih berarti jika dijalani dengan kesadaran spiritual. Puisi ini juga mengajarkan bahwa harapan selalu ada, bahkan dalam bentuk cahaya kecil sekalipun.

Puisi “Zikir Bumi” karya Tjahjono Widarmanto menghadirkan refleksi mendalam tentang kesunyian, kerinduan, dan pencarian makna hidup. Dari sabana yang sunyi hingga cahaya kunang-kunang yang berpendar, puisi ini menunjukkan bahwa zikir dan harapan mampu mengubah keterasingan menjadi perjalanan yang bermakna.

Sajak ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap kesunyian, selalu ada ruang untuk menyebut nama-Nya dan menemukan cahaya di dalam diri.

Tjahjono Widarmanto
Puisi: Zikir Bumi
Karya: Tjahjono Widarmanto

Biodata Tjahjono Widarmanto:
  • Tjahjono Widarmanto lahir pada tanggal 18 April 1969 di Ngawi, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.