Mahasiswa KKN UNS 172 Olah Salak Tak Layak Jual Menjadi Sabun Ramah Lingkungan Melalui Program ECO-CLEAN

Mahasiswa KKN UNS 172 olah salak tak layak jual jadi sabun ramah lingkungan lewat program ECO-CLEAN di Desa Gunungtugel. Yuk simak inovasi mereka!

WONOSOBO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 172 menghadirkan inovasi kreatif di Desa Gunungtugel, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Melalui program bertajuk ECO-CLEAN, mahasiswa berhasil mengolah buah salak yang tidak layak jual menjadi produk sabun ramah lingkungan yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi bagi masyarakat.

KKN UNS 2026
Dokumentasi kegiatan Eco Clean

Program yang digagas oleh sepuluh mahasiswa ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi lokal sekaligus mengurangi limbah pertanian. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui inovasi produk berbasis sumber daya desa.

Desa Gunungtugel dikenal sebagai salah satu daerah penghasil salak di Kabupaten Wonosobo dengan hasil panen yang melimpah setiap musimnya. Namun, sebagian buah salak tidak dapat dipasarkan karena tidak memenuhi standar kualitas penjualan, sehingga sering kali terbuang atau tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN UNS 172 menggagas program ECO-CLEAN yang dilaksanakan pada 31 Januari 2026. Program ini mengajak masyarakat untuk mengolah salak yang tidak layak jual menjadi sabun serbaguna yang lebih ramah lingkungan dan aman digunakan.

Kepala Desa Gunungtugel, Budi Setiawan D. T. S., S.Pd., MM., MPd., mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang dinilai mampu membuka peluang baru bagi masyarakat dalam memanfaatkan potensi desa. 

“Kami menyambut baik program ECO-CLEAN yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UNS 172. Inovasi ini sangat sesuai dengan kondisi desa kami yang memiliki hasil panen salak cukup melimpah. Kami berharap kegiatan ini dapat terus dikembangkan oleh masyarakat sehingga dapat menjadi peluang usaha yang mendukung perekonomian desa...” ujarnya.

Penanggung jawab program ECO-CLEAN, Intan Firuiza Patria Ramadha, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa buah salak yang sering dianggap tidak bernilai sebenarnya masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bermanfaat. Dalam pelatihan ini, masyarakat tidak hanya mempraktikkan proses pembuatan sabun, tetapi juga mempelajari perhitungan biaya produksi hingga potensi harga jualnya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua KKN UNS 172, Rizky Siota, menyampaikan bahwa program tersebut merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat melalui inovasi yang berkelanjutan.

“Program ECO-CLEAN merupakan salah satu bentuk pengabdian kami kepada masyarakat. Harapannya, inovasi ini dapat menjadi salah satu produk khas Desa Gunungtugel yang tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan bagi warga,” ungkap Rizky.

Kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang digelar mendapat sambutan positif dari masyarakat. Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi penyampaian materi mengenai dampak penggunaan bahan pembersih kimia, demonstrasi pembuatan sabun dari ekstrak sari buah salak, hingga praktik langsung pembuatan serta pengemasan produk.

Dari hasil kegiatan tersebut, sabun yang dihasilkan dinilai memiliki kualitas yang layak digunakan dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai produk usaha rumahan berbasis potensi lokal.

Melalui program ECO-CLEAN, masyarakat Desa Gunungtugel diharapkan dapat memanfaatkan komoditas salak secara lebih optimal sekaligus mengembangkan produk ramah lingkungan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat desa.

Biodata Penulis

Dosen Pembimbing Lapangan KKN:

  1. Prof. Dr. Sc.agr. Ir. Adi Ratriyanto., S.Pt., M.P., IPU., ASEAN Eng | Program Studi Sarjana Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Sebelas Maret.
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 172:
  1. Intan Firuiza Patria Ramadha | Progam Studi Sarjana Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret.
  2. Clara Dhita Ayu Shauma | Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret.
  3. Dini Aulia Mawarni | Program Studi Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret.
  4. Kanaya Neyla Putri Dydanti | Program Studi Sarjana Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret.
  5. Medina Nur Cantika Putri Prasetyo | Program Studi Sarjana Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret.
  6. Muhammad Ar Roffi | Program Studi Sarjana Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret.
  7. Muhammad Daffa Alfareza | Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret.
  8. Rizky Siota | Program Studi Sarjana Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret.
  9. Shava Dewi Saputri | Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret.
  10. Shaviera Juanda Dewi Bambang Bangun Wibowo | Program Studi Sarjana Kebidanan, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.