Melalui Jalan Salib, Gaya Hidup Hedonisme Modern Dikritik

Masih relevankah Jalan Salib hari ini? Mari gali maknanya, belajar dari penderitaan, dan tumbuhkan solidaritas sejati.

Oleh Aprianus Gregorian Bahtera

Jalan Salib dalam ajaran Kristiani bukan sekadar ritual. Jalan Salib (via Dolorosa) adalah salah satu tradisi yang tidak dihentikan dalam ajaran Kristiani, akan tetapi terus dijalankan oleh seluruh umat Kristiani sedunia dalam masa prapaskah atau puasa. Tradisi ini dijalankan setiap hari Jumat dalam masa prapaskah. Ini merupakan ritual yang tidak bisa dilunturkan dari tradisi Gereja Katolik, sebab telah ditetapkan oleh gereja sebagai devosi. Ini dijalankan dalam praktik 14 perhentian yang merupakan pengenangan akan sengsara Yesus Kristus sebelum ia dibangkitkan. Melalui ini umat Kristiani menghayati penderitaan Yesus Kristus. Di mana dalam 14 perhentian ini, Yesus diadili sewenang-wenang hingga pada pemakaman-Nya di sebuah gua kosong.

Jalan Salib

Namun, mari kita lihat di tengah hidup yang semuanya serba instan atau langsung jadi dan budaya sosial yang menempatkan konsumsi sebagai pusat kehidupan serta memprioritaskan kekayaan di atas segalanya. Dari sini muncullah sebuah pertanyaan fundamental atau eksistensial, apakah Jalan Salib masih ada maknanya dalam kehidupan manusia modern atau hanya menjadi tontonan atau rutinitas tahunan saja dalam Gereja Katolik?

Ketika direfleksikan lebih dalam, makna Jalan Salib sesungguhnya ialah pernyataan pertentangan yang fundamental dalam kehidupan manusia. Di era kini, kebahagiaan setiap insan dapat ditakar melalui angka; seperti jumlah followers di beberapa medsos pribadi, jumlah saldo rekening, kemewahan yang dipamerkan, keunggulan yang diperagakan, hingga sangat jelas ritual Jalan Salib hadir sebagai penyangkalan nyata mempersenang hati manusia modern sehingga lemahnya kesadaran.

Kemewahan pada zaman sekarang menjadi bagian dari gaya hidup yang pada prinsipnya simpel saja: penderitaan adalah kegagalan dan kesenangan adalah keberhasilan atau kesuksesan. Artinya bagi insan era kini, penderitaan merupakan pengancam bagi kelangsungan hidup karena takut pada kegagalan, sehingga mereka lebih memilih kesenangan dan hidup instan, yaitu keberhasilan tanpa penderitaan. Hidup serba instan juga dianggap sebagai pemenuhan kenyamanan dan jauh dari keadaan miskin. Ini berakibat pada manusia modern yang menjadi goyah atau tidak kokoh secara mentah saat dihadapkan dunia yang tidak sesuai dengan keinginan mereka atau idel. Bagi mereka, penderitaan dilihat sebagai usikan atau gangguan yang mesti segera dihindari dengan tindakan tanpa pertimbangan sikap komsumtif atau pelarian rekreasi atau kesenangan.

Kita memandang konteks tersebut dari pandangan seorang pakar psikolog Sigmund Freud. Ia menekankan bahwa jika seseorang secara terus-terusan lari dari penderitaan demi kesenangan instan, mereka akan terjebak dalam perilaku yang impulsif, sukar menangguhkan keinginan dan kemauan, serta tidak berhasil dalam menempuh realita. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat menjadi penghambat pertama bagi perkembangan kepribadian seseorang, karena berani belajar menghadapi tantangan hidup yang sesungguhnya. Ia hanya mau bebas dari kenyataan hidup yang sebenarnya dan memilih untuk mencari yang serba cepat.

Peran Jalan Salib di sini ialah memberikan tamparan reflektif bagaimana cara yang tepat menempuh beban hidup yang hanya sekali ini. Jalan Salib tidak mengisahkan tentang kenyamanan dan kejayaan dalam hidup, namun sebaliknya, ini memberikan penentangan terhadap kesenangan sececah, dan hidup instan, perjuangan jatuh bangun di bawah beban kayu paling yang kasar, serta penghinaan publik yang begitu kejam. Jalan Salib memperlihatkan bahwa penderitaan dan kesengsaraan bukan diartikan sebagai keburukan atau aib yang tampak aman dan senang di media sosial, melainkan sebuah unsur esensial atau mendasar dari pendewasaan spiritual dan kemanusiaan. Dengan jelas bahwa penderitaan dan kesengsaraan sangat signifikan dalam pembentukan spritual setiap orang dan kepribadiannya. Sehingga dapat memancarkan keberanian untuk melanjutkan hidup tanpa ada rasa takut.

Dia yang tersalib, Yesus Kristus melalui penderitaannya di kayu salib dan kini dikenang dengan ritual Jalan Salib, mengingatkan manusia bahwa ada makna sangat dalam di balik "sebuah luka" daripada sekadar rasa "untung saja". Jalan Salib mengajak dan mengundang kita untuk berani berdamai dengan segala kerapuhan, kekurangan dalam diri, bukan terus-menerus menjadikan kesempurnaan semu menjadi kedok.

Tolak Budaya Narsisme Diri

Sikap yang selalu mencintai dan mengagungkan diri sendiri berlebihan terhadap kesenangan sering kali berujung pada anggapan "Aku menjadi pusat perhatian". Dengan anggapan itu, segalanya harus tentang kenyamanan, kesukaan, citra diri pribadi seseorang. Namun kebanyakan dari kita tidak sadar budaya yang kita terapkan ini melahirkan benih dan masyarakat yang hidup tidak menaruh perhatian pada ketidakadilan. Sementara kita tahu bahwa esensi memikul salib adalah bagian penyangkalan diri kita demi nilai yang lebih tinggi (dapat kita bandingkan dengan Lukas 9:23).

Lalu bagaimana dengan kehidupan sosial hari ini? Kita melihat konteks yang terjadi, ada ketimpangan sosial rentan dan kemiskinan struktural, dan itu tampak di berbagai daerah di negara kita ini. Gaya hidup hedonisme yang diperlihatkan dan dipamerkan di berbagai ruang publik seperti FB, Instagram dan YouTube adalah sebuah ketidakpekaan nurani manusia.

Namun kita temukan juga ada kecondongan dari orang-orang di zaman modern ini, yakni yang memiliki ekonomi hidup kelas menengah menjadi lupa diri atau tak mengetahui lagi tentang keberadaannya, hingga berakhir pada pemameran di sosial media, layaklah orang kaya. Hal ini menjadi sebuah kesukaan hanya untuk mendapat validasi.

Jalib Salib di sini sebagai penggugat terhadap egoisme tersebut. Ini mengajak manusia untuk "berhenti" pada setiap proses perhentian hidup sesama yang sedang memikul beban berat, mereka yang tersingkir secara ekonomi, mereka yang terabaikan secara pendidikan, dan mereka yang tidak merasakan keadilan dalam hidup. Kita mesti hadirkan peran Jalan Salib dalam kehidupan kita, terutama dalam memecahkan hal-hal tersebut. Kita harus berusaha untuk merasakan hal yang sama tanpa mengutamakan keegoisan pribadi. Melalui Jalan Salib atau ritual ini kita disadarkan bahwa haus pemuasaan diri itu tak menguntungkan siapapun. Ini menuntut kita untuk menjadi manusia yang solider (homo solidaricus) daripada menjadi homo hedonistic atau manusia haus pemuasaan diri. Kita harus berjuang untuk mengimplementasikan jiwa kemanusiaan yang solider dan abaikan setiap keinginan untuk kepentingan diri.

Kritik Jalan Salib terhadap hedonisme manusia modern mempunyai ujung yang diperlihatkan dalam kehadiran sosok-sosok yang berarti dalam perjalanan Yesus menuju Golgota. Mereka adalah Simon Kirene yang menunjukkan sikap peduli terhadap kesengsaraan Yesus, yakni membantu memikul Kayu Salib berat, Veronika yang penuh keberaniannya menerobos masuk ke pertahanan Pilatus untuk mengambil bagian dari penderitaan Yesus dengan mengusap darah dan keringat pada wajah Yesus. Tindakan mereka memberikan tuntunan bagi kita di zaman sekarang bahwa kepedulian dan kepekaan terhadap penderitaan orang lain adalah bukti homo solidaricus kita. Namun tindakan mereka bertentangan di dunia individualisme, itu dianggap tindakan radikal. Paham hedonisme adalah paham yang menghantar kita menjauhkan diri dan menjaga jarak dari "masalah" yang ditempuh orang lain agar ketenangan, kebahagiaan, kedamaian dan kenyamanan kita tak terusik. Padahal ketika berpikir lebih jauh bahwa ketika meninggalkan dunia ini bukan kita sendiri yang menghantar ke kuburan atau yang menguburkan kita. Tetap ada orang yang berperan untuk menyelesaikan perjalanan hidup kita sampai pada rumah terakhir.

Sesungguhnya bukan tindakan radikal yang dilakukan mereka, melainkan contoh tindakan yang diperintahkan Jalan Salib kepada kita: berpartisipasi dalam penderitaan dan keadaan sulit orang lain serta berkotor tangan dalam kesusahan orang lain.

Hidup yang bermakna tidak terletak pada hidup yang hanya berjuang untuk memperbanyak harta demi kesejahteraan, kenyamanan, dan keamanan diri sendiri, tetapi kita dituntut mempertaruhkan hidup untuk meringankan sedikit beban orang lain. Inilah yang diajarkan ritual Jalan Salib kepada kita. Perlu dipegang bahwa hidup ini bukan hanya fokus cinta pada harta atau kekayaan semata dan itu menjadi ketergantungan, melainkan dengan pengorbanan dan pelayanan, kita temukan hidup yang sejatinya dan bermakna (Bdk Lukas 12:15). Sikap berani yang ditunjukkan Simon dan Veronika memberi simbol bahwa, kesediaan merasakan beban orang lain adalah kemanusiaan yang tegak atau hanya melalui itu kemanusiaan dapat tegak.

Perjalanan Menuju Paskah yang Membarui Diri

Jalan Salib sebagai kritik terhadap gaya hidup, berarti kita memberanikan diri untuk melawan serta menolak arus hidup modern yang sangat tak membawa kita pada hidup bermakna, seperti hidup manusia yang serba instan, suka pamer, dan narsistik. Hal ini bukan berarti kita dituntut untuk harus memuna kemiskinan, melainkan melawan segala hal yang memperbudak kita seperti keinginan yang tanpa batas. Pilihan untuk hidup sederhana dan mempraktekkan menjadi salah satu poin penting untuk menghancurkan dan melumpuhkan konsumerisme yang merusak kehidupan bidang ekonomi, sosial, pendidikan dan tatanan sosial.

Jalan Salib akan mengalami kehilangan maknanya, apabila manusia tidak bisa menjawab kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut seperti tidak bisa mengubah cara menghormati dan menghargai sesama yang kecil di sekeliling kita. Bahkan tidak mampu membuat hasrat pamer kekuasaan, kelebihan dan kekayaan di tengah publik. Maka ritual ini menjadi sia-sia kehadirannya karena tidak dihayati baik-baik. Kehadirannya tidak membawa transformasi batin tetapi hanya sebuah ritual suci yang tak berarti.

Jadi, perayaan Paskah tahun ini, yang beberapa Minggu lagi umat Kristiani rayakan harus menjadi momentum kebangkitan murni bagi kita. Kita diajak untuk berani bangkit dari segala keegoisan dan kesenangan semata menuju kepedulian dan kebahagiaan bersama. Kita menerima ajakan untuk meruntuhkan hedonisme dan materialisme, lalu berani untuk membangun serta membuktikan dalam kehidupan nyata rasa empati. Karena pada akhirnya, kita harus mengetahui bahwa ukuran kemuliaan dan keluhuran seorang manusia tidak terletak pada seberapa mewah hidupnya, seberapa kaya dirinya, seberapa banyak hartanya, akan tetapi terletak atau ada pada seberapa kuat ia menjalani hidup, berani memperlihatkan rasa empatinya dan sejauh mana ia setia menjalankan 

Melalui itu dapat membuktikan bahwa walaupun jalan dilalui penuh dengan tanjakan yang pedih, tetapi memanggul salib kebenaran dan cinta kasih Kristus menjadi bentuk kemuliaan dan keluhuran diri manusia.

Aprianus Gregorian Bahtera

Biodata Penulis:

Aprianus Gregorian Bahtera saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Filsafat, di Unwira.
© Sepenuhnya. All rights reserved.