Oleh Ni'matus Sholehah
Perang yang terjadi di berbagai kawasan dunia saat ini sering kali dipandang sebagai konflik yang jauh dari kehidupan masyarakat Indonesia. Konflik Rusia–Ukraina yang belum sepenuhnya mereda, ketegangan di Timur Tengah, hingga gangguan jalur perdagangan di Laut Merah sebenarnya bukan sekadar berita internasional. Bagi negara seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, setiap gejolak geopolitik global berpotensi langsung memengaruhi stabilitas ekonomi domestik, terutama dalam hal pasokan dan harga bahan bakar minyak (BBM).
Selama ini, Indonesia kerap menegaskan diri sebagai negara yang relatif aman dari konflik militer global. Namun, keamanan geopolitik tidak serta-merta berarti keamanan energi. Realitasnya, kebutuhan minyak nasional jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi dalam negeri. Ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia berada dalam posisi rentan ketika terjadi gangguan pada rantai pasok energi dunia. Ketika konflik bersenjata menghambat distribusi minyak atau memicu lonjakan harga global, dampaknya hampir pasti akan terasa hingga ke pompa bensin di dalam negeri.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana sebenarnya ketahanan energi Indonesia telah dipersiapkan? Kekhawatiran publik terhadap stok BBM bukanlah hal yang berlebihan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat beberapa kali dihadapkan pada isu keterbatasan pasokan, antrean panjang di SPBU, hingga wacana penyesuaian harga yang selalu menjadi topik sensitif. Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, kenaikan harga BBM bukan sekadar persoalan kebijakan energi, melainkan ancaman langsung terhadap biaya hidup.
Masalahnya bukan hanya pada konflik global, tetapi juga pada kesiapan internal negara. Selama bertahun-tahun, wacana kemandirian energi sering diangkat dalam berbagai pidato dan kebijakan, tetapi implementasinya berjalan lambat. Produksi minyak domestik terus menurun sementara konsumsi meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah kendaraan. Tanpa langkah strategis yang lebih serius, ketergantungan pada impor energi akan terus memperbesar risiko krisis di masa depan.
Di sisi lain, perang global seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk mempercepat reformasi kebijakan energi. Ketahanan energi tidak cukup hanya dengan memastikan stok BBM tersedia dalam jangka pendek, tetapi juga dengan membangun sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Diversifikasi energi, penguatan produksi domestik, serta percepatan pengembangan energi terbarukan harus menjadi agenda nyata, bukan sekadar wacana politik.
Selain itu, transparansi informasi kepada publik juga menjadi faktor penting. Isu stok BBM sering kali memicu kepanikan ketika informasi yang beredar tidak jelas atau tidak konsisten. Pemerintah perlu memberikan penjelasan yang terbuka mengenai kondisi cadangan energi nasional, strategi menghadapi krisis global, serta langkah-langkah mitigasi yang sedang dilakukan. Kepercayaan publik akan lebih mudah terjaga ketika komunikasi kebijakan dilakukan secara jujur dan konsisten.
Dalam jangka panjang, Indonesia juga perlu mengubah cara pandangnya terhadap energi. Ketergantungan berlebihan pada BBM harus mulai dikurangi melalui kebijakan transportasi yang lebih efisien, pengembangan kendaraan listrik, serta investasi serius pada energi alternatif seperti panas bumi, tenaga surya, dan bioenergi. Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar di sektor energi terbarukan, tetapi potensi tersebut masih jauh dari pemanfaatan optimal.
Perang di luar negeri mengingatkan bahwa stabilitas energi bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan kedaulatan. Negara yang tidak memiliki ketahanan energi yang kuat akan selalu berada dalam posisi rentan terhadap gejolak global. Oleh karena itu, momentum krisis global seharusnya tidak hanya disikapi dengan kebijakan jangka pendek, tetapi juga dengan keberanian melakukan reformasi energi secara lebih mendasar.
Jika tidak, setiap kali dunia bergejolak karena perang, masyarakat Indonesia akan kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: apakah stok BBM aman, dan sampai kapan negara ini akan terus bergantung pada energi dari luar?
Biodata Penulis:
Ni'matus Sholehah saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Ilmu Kesehatan, Prodi S1 Keperawatan, di Universitas Muhammadiyah Surabaya.