Oleh Shofi Nur Aini
Sebagai mahasiswa keperawatan, saya melihat bahwa isu global seperti ancaman perang dunia tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial dan mental masyarakat. Belakangan ini, isu mengenai potensi perang dunia kembali ramai diperbincangkan di berbagai media. Ketegangan antarnegara, konflik geopolitik, serta persaingan kekuatan global memunculkan kekhawatiran akan terjadinya krisis yang lebih besar. Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, ada hal yang perlu menjadi refleksi bagi bangsa Indonesia: apakah kita sudah cukup kuat secara internal untuk menghadapi dampak dari situasi global tersebut?
Jika dilihat dari kondisi saat ini, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya ancaman perang secara fisik, melainkan ancaman disintegrasi sosial yang perlahan muncul melalui ruang digital. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta polarisasi opini di media sosial menunjukkan bahwa persatuan bangsa dapat terganggu tanpa harus adanya konflik bersenjata. Dalam hal ini, ancaman nyata justru berasal dari lemahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Fenomena ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ketiga yaitu persatuan Indonesia. Di tengah isu global yang seharusnya mendorong solidaritas, masyarakat justru sering terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi kekuatan dalam keberagaman, justru berubah menjadi sumber konflik.
Sebagai generasi muda, khususnya mahasiswa, sudah seharusnya kita memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas bangsa. Kemampuan berpikir kritis, sikap bijak dalam bermedia sosial, serta kesadaran akan pentingnya persatuan merupakan bentuk nyata pengamalan nilai Pancasila di era modern. Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi agen perubahan yang mampu meredam konflik dan menyebarkan narasi yang positif.
Isu perang dunia seharusnya menjadi pengingat bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya diukur dari aspek militer, tetapi juga dari ketahanan sosial dan persatuan masyarakatnya. Indonesia tidak membutuhkan perang besar untuk hancur, jika masyarakatnya sendiri tidak mampu menjaga nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, sudah saatnya seluruh elemen masyarakat kembali merefleksikan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara nyata, tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pedoman dalam bersikap, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Biodata Penulis:
Shofi Nur Aini saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Fakultas Ilmu Kesehatan, Prodi S1 Keperawatan.