Bukan Malas, Tapi Capek: Kenapa Banyak Gen Z Merasa Burnout di Usia 20-an

Kenapa banyak Gen Z merasa burnout di usia 20-an? Kenali penyebabnya, dari tekanan produktivitas hingga finansial, dan cara menyikapinya dengan sehat.
Burnout

Usia 20-an seharusnya jadi masa paling seru: mulai kerja, punya penghasilan sendiri, mencoba banyak hal, dan mengejar mimpi. Tapi buat banyak Gen Z, kenyataannya justru terasa berbeda. Baru juga mulai hidup “dewasa”, tapi rasanya sudah lelah duluan. Bangun pagi berat, notifikasi kerja bikin cemas, akhir pekan pun terasa kurang untuk benar-benar istirahat.

Anehnya, rasa capek ini sering dianggap malas. Padahal bukan karena tidak mau berusaha. Banyak Gen Z justru terbiasa menuntut diri sendiri untuk terus produktif, terus berkembang, dan terus “jadi lebih baik”. Di saat yang sama, mereka juga menghadapi tekanan finansial, media sosial, ekspektasi keluarga, sampai rasa takut tertinggal dari orang lain.

Hasilnya? Banyak yang mengalami burnout bahkan sebelum merasa benar-benar “memulai” hidup. Jadi, kenapa hal ini bisa terjadi di usia yang seharusnya masih penuh energi?

Tekanan untuk Selalu Produktif (Even Saat Lagi Capek)

Salah satu hal yang bikin Gen Z cepat burnout adalah tekanan untuk selalu produktif, bahkan di saat badan dan pikiran sebenarnya sudah minta istirahat. Istilah seperti “upgrade diri”, “jangan buang waktu”, atau “kerja keras di usia muda biar sukses nanti” terus muncul, baik dari lingkungan sekitar maupun dari konten yang mereka konsumsi setiap hari.

Masalahnya, standar produktivitas ini sering kali nggak realistis. Bangun pagi harus workout, siang kerja maksimal, malam belajar skill baru, weekend ikut side hustle. Sekilas terlihat ambisius, tapi kalau dijalani terus tanpa jeda, justru jadi bumerang.

Apalagi dengan adanya media sosial, semua orang terlihat “on track” dengan hidupnya masing-masing. Ada yang sudah punya bisnis di usia 23, ada yang kerja di perusahaan impian, ada juga yang kelihatan selalu sibuk dan produktif. 

Tanpa sadar, ini bikin banyak Gen Z merasa harus selalu mengejar sesuatu tanpa benar-benar tahu kapan harus berhenti. Istirahat pun bisa terlihat seperti “bermalas-malasan”. Padahal memang sudah capek.

Overload Informasi & Perbandingan Tanpa Henti

Gen Z hidup di era di mana informasi datang tanpa jeda. Bangun tidur langsung scroll, sebelum tidur masih juga scroll. Dalam satu hari, bisa melihat ratusan bahkan ribuan potongan hidup orang lain: yang sukses, yang produktif, yang terlihat “lebih jauh” di depan.

Masalahnya, otak kita nggak didesain untuk membandingkan diri dengan sebanyak itu orang sekaligus. Dulu, perbandingan mungkin hanya sebatas teman sekolah atau lingkungan sekitar. Sekarang? Satu timeline bisa berisi CEO muda, kreator sukses, freelancer dengan penghasilan dolar, sampai teman sendiri yang terlihat sudah “lebih mapan”.

Tanpa sadar, ini menciptakan tekanan yang halus tapi terus-menerus. Selalu ada perasaan “kurangnya apa ya?” atau “kok orang lain bisa, aku belum?”. Padahal yang terlihat di layar sering kali hanya highlight, bukan realita penuh.

Akhirnya, bukan cuma fisik yang lelah, tapi juga mental. Karena setiap hari, tanpa sadar, Gen Z sedang berkompetisi dengan seluruh dunia.

Batas Kerja yang Makin Blur

Dulu, kerja itu jelas: datang ke kantor, pulang, selesai. Sekarang? Laptop bisa dibuka di mana saja, chat kerja masuk kapan saja, dan notifikasi terasa seperti nggak pernah benar-benar berhenti. Buat banyak Gen Z, terutama yang kerja remote atau hybrid, batas antara kerja dan istirahat jadi makin kabur.

Awalnya terlihat fleksibel dan menyenangkan. Bisa kerja dari kafe, atur waktu sendiri, bahkan sambil rebahan. Tapi tanpa batas yang jelas, kerja justru terasa “selalu ada”. Balas chat sedikit, revisi sebentar, cek email cepat, tanpa sadar, waktu istirahat ikut terpotong.

Masalahnya, otak kita tetap butuh jeda yang benar-benar jeda. Bukan sekadar berhenti sebentar sambil tetap “standby”. Ketika batas ini hilang, tubuh memang diam, tapi pikiran tetap bekerja.

Tekanan Finansial di Usia Muda

Di usia 20-an, banyak Gen Z sudah dihadapkan dengan realita finansial yang cukup berat. Harga kebutuhan hidup naik, biaya sewa atau beli rumah terasa jauh, sementara gaji awal sering kali belum sebanding dengan ekspektasi hidup “ideal” yang mereka lihat setiap hari.

Belum lagi munculnya standar baru: punya tabungan, investasi, dana darurat, bahkan side income, semuanya seolah harus dicapai secepat mungkin. Niatnya bagus, tapi kalau dijalani tanpa jeda, bisa berubah jadi tekanan yang terus menghantui.

Apalagi media sosial sering menampilkan gaya hidup yang terlihat “normal” padahal belum tentu realistis untuk semua orang. Liburan, ngopi cantik, gadget terbaru. Semuanya terlihat mudah dijangkau, sampai akhirnya muncul perasaan tertinggal kalau belum bisa mengikuti.

Terlalu Keras Sama Diri Sendiri

Banyak Gen Z tumbuh dengan mindset untuk terus berkembang, dan itu hal yang bagus. Tapi tanpa sadar, dorongan ini sering berubah jadi tuntutan yang terlalu tinggi ke diri sendiri. Harus cepat sukses, harus punya arah yang jelas, harus nggak boleh “ketinggalan”.

Masalahnya, hidup nggak selalu berjalan sesuai timeline yang kita bayangkan. Ada fase bingung, gagal, atau jalan di tempat. Tapi alih-alih memberi ruang untuk itu, banyak yang justru menyalahkan diri sendiri. Ngerasa kurang cukup, kurang cepat, atau bahkan merasa gagal padahal baru juga mulai.

Inner voice jadi keras: “harusnya bisa lebih”, “kenapa orang lain bisa?”. Lama-lama, pikiran-pikiran ini bukan lagi jadi  motivasi, tapi tekanan yang terus menggerus energi.

Berhenti Sejenak Bukan Kalah, Tapi Cara Biar Nggak Habis Duluan

Burnout di usia 20-an adalah sinyal bahwa ada terlalu banyak tekanan yang berjalan bersamaan, sering kali tanpa kita sadari. Dari tuntutan untuk selalu produktif, perbandingan tanpa henti, sampai ekspektasi finansial dan standar pribadi yang tinggi, semuanya pelan-pelan menguras energi.

Yang sering dilupakan, istirahat itu bukan salah satu bentuk kemalasan. Justru itu bagian penting dari proses. Tidak semua harus dikejar sekaligus, dan nggak semua orang punya timeline yang sama. Kadang, yang dibutuhkan bukan dorongan untuk “lebih keras lagi”, tapi izin untuk berhenti sebentar dan napas.

Kalau topik seperti ini terasa relate tapi sulit dijelaskan, pendekatan seperti video animasi bisa jadi cara yang lebih ringan dan mudah dipahami untuk menggambarkan apa yang sebenarnya dirasakan Gen Z. Pada akhirnya, memahami diri sendiri merupakan langkah pertama untuk keluar dari rasa capek yang tidak kelihatan ini.

© Sepenuhnya. All rights reserved.