Oleh Ibrahim Ulin Nuha
Semua berawal dari seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang tidak dapat membeli buku dan pena. Atas kekecewaan, siswa tersebut memilih mengakhiri hidupnya. Ketidakmampuan membeli perlengkapan belajar akibat kemiskinan merepresentasikan dampak nyata ketimpangan ekonomi terhadap pendidikan, dalam konteks ini berujung tragis. Lantas apa yang dibutuhkan negara antara meningkatkan ekonomi atau pendidikan?
Pendidikan menjadi lebih penting dari ekonomi dikarenakan pendidikan merupakan proses menuju pembebasan manusia dari penindasan struktural yang justru diciptakan oleh sistem ekonomi yang tidak adil. Paulo Freire berpendapat bahwa kemiskinan dan ketimpangan ekonomi bukan masalah yang diselesaikan dengan pertumbuhan ekonomi semata. Lewat kritiknya tentang konsep pendidikan gaya bank, Freire mendefinisikan pendidikan gaya bank sebagai sistem ekonomi kapitalis yang menjadikan pendidikan sebagai ladang pemerasan atau penindasan. Sistem tersebut menjadikan manusia sebagai objek pasif, bukan sekadar tenaga kerja yang siap untuk bekerja tapi juga siap untuk dieksploitasi.
Negara yang tidak mementingkan pendidikan sama halnya menindas rakyatnya sendiri. Rakyat yang seharusnya bisa makmur karena mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan layak merupakan hak yang dijamin konstitusi dan kovenan internasional tentang hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Negara yang sadar bahwa pendidikan itu penting pasti akan memenuhi kelayakan Pendidikan, tidak hanya membangun gedung sekolah saja tapi juga memberikan akses kebutuhan harian sekolahnya. Jika di negara tersebut masih ada stigma rakyat yang menganggap “Pendidikan merupakan barang mewah” maka keadilan sosial di negara tersebut belum terwujud.
Ketika negara memprioritaskan pendidikan dengan benar, negara tidak hanya menghasilkan pekerja yang terampil, tetapi sumber daya manusia yang kritis, kreatif, yang mampu membangun tatanan ekonomi yang lebih adil dan humanis.
Dengan demikian, pendidikan bukanlah pelayan ekonomi, melainkan ekonomi yang harus dikonfigurasi ulang untuk melayani proyek humanisasi melalui pendidikan yang membebaskan. Dan tidak terjadi lagi pendidikan yang berujung kehilangan nyawa.