Puisi: Pantun Berkota Kampung Padang Besi (Karya Marah Roesli)

Puisi “Pantun Berkota Kampung Padang Besi” karya Marah Roesli memperlihatkan bahwa janji cinta bukan sekadar kata-kata, melainkan pernyataan moral ...
Pantun Berkota Kampung Padang Besi
(Pantun Berbalas)

Sitti Nurbaya:

Berkota kampung Padang Besi,
Tempat orang duduk berjaga.
Cintamu jangan dihabisi,
Sehelai rambut tinggalkan juga.


Samsubahri:

Jika menjahit duduk di pintu,
jarumnya jangan dipatahkan.
Cintaku suci sudahlah tentu,
sedikit belum diubahkan.

Bang dahulu maka kamat,
takbir baru orang sembahyang.
Bercerai Allah dengan Muhammad,
baru bercerai kasih sayang.

Berbunyi meriam Tanah Jawa,
orang Belanda mati berperang.
Haram kakanda berhati dua,
cinta kepada Adik seorang.

Analisis Puisi:

Puisi “Pantun Berkota Kampung Padang Besi” merupakan bagian dari tradisi pantun berbalas yang dimasukkan oleh Marah Roesli dalam novel Sitti Nurbaya. Melalui dialog puitik antara Sitti Nurbaya dan Samsulbahri, pengarang menghadirkan ekspresi cinta yang disampaikan dengan gaya khas sastra Melayu lama: berirama, simbolik, dan penuh kiasan.

Pantun ini memperlihatkan bagaimana hubungan asmara dibingkai dalam nilai kesetiaan, ketulusan, dan komitmen yang kuat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesetiaan dan keteguhan cinta. Dialog pantun antara dua tokoh menegaskan pentingnya menjaga cinta agar tidak pudar atau terbagi. Selain itu, terdapat tema ketulusan hati dan komitmen yang tidak tergoyahkan oleh keadaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam pantun ini adalah pentingnya kesetiaan sebagai fondasi hubungan. Larik:

“Bercerai Allah dengan Muhammad,
baru bercerai kasih sayang.”

mengandung hiperbola religius yang menunjukkan bahwa perpisahan kasih sayang dianggap mustahil—bahkan diumpamakan dengan sesuatu yang secara teologis tidak mungkin terjadi. Ini menegaskan betapa kuatnya cinta yang diikrarkan.

Selain itu, referensi:

“Berbunyi meriam Tanah Jawa,
orang Belanda mati berperang.”

mengisyaratkan latar zaman kolonial. Namun, dalam konteks ini, peristiwa besar seperti perang pun tidak menggoyahkan keteguhan cinta. Cinta pribadi ditempatkan sebagai sesuatu yang kokoh di tengah gejolak sosial.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung romantis, penuh keyakinan, dan serius. Tidak ada nada keraguan dalam jawaban Samsulbahri; yang muncul justru ketegasan dan kesungguhan. Di sisi lain, suasana juga terasa puitis dan tradisional karena menggunakan pola pantun dengan sampiran dan isi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa cinta sejati harus dijaga dengan kesetiaan dan ketulusan. Seseorang yang mencintai dengan sungguh-sungguh tidak akan mendua hati. Komitmen dalam hubungan merupakan nilai utama yang dijunjung tinggi. Pantun ini juga memperlihatkan bahwa janji cinta bukan sekadar kata-kata, melainkan pernyataan moral yang mengikat.

Puisi “Pantun Berkota Kampung Padang Besi” karya Marah Roesli merupakan pantun berbalas menghadirkan gambaran cinta yang sakral dan tidak tergoyahkan. Karya ini sekaligus memperlihatkan kekayaan tradisi sastra Melayu dalam menyampaikan nilai-nilai moral melalui bentuk pantun yang indah dan terstruktur.

Puisi: Pantun Berkota Kampung Padang Besi
Puisi: Pantun Berkota Kampung Padang Besi
Karya: Marah Roesli

Biodata Marah Roesli:
  • Marah Roesli (dieja Marah Rusli) lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 7 Agustus 1889.
  • Marah Roesli meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 17 Januari 1968 (pada usia 78 tahun).
  • Marah Roesli adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
  • Pantun di atas merupakan bagian dari buku Sitti Nurbaya (1920).
© Sepenuhnya. All rights reserved.