Oleh Arina Fitriya Azhari
Pernahkah kamu bertemu seseorang yang bersikap manis di depanmu, tetapi berubah menjadi sosok yang berbeda di belakangmu? Dunia ini penuh dengan wajah-wajah yang kita kenakan, kadang demi sopan santun, kadang demi bertahan. Namun, di balik setiap wajah, selalu ada kisah yang tidak terlihat.
Pernahkah kamu mendengar pepatah ini “Hargailah orang lain, maka engkau akan dihargai”?
Lalu, bagaimana dengan orang yang sudah dihargai sedemikian rupa, tapi ternyata dia tidak menghargai sama sekali? Atau bagaimana jika ada seseorang yang menganggap dirinya orang yang paling istimewa sehingga dia tak butuh pendapat orang lain. Seolah dirinya yang paling benar di antara yang lain.
Ada juga pepatah yang mengatakan, “Jika kamu mengikuti kemauan manusia, tidak akan habisnya”.
Hal seperti ini sering kita temui, bukan? Di kehidupan sehari-hari, di tempat kerja, kampus, di jalanan, bahkan dari orang yang kita tak kenal sekalipun.
Kita juga sering mendengar nasihat “Jika ada yang jahat kepadamu, balaslah ia dengan kebaikan. Bisa jadi, dengan kebaikanmu, ia akan berubah”.
Nasehat itu terdengar indah, tapi bagaimana jika yang jahat itu seolah-olah buta terhadap kebaikan? atau justru membenci orang yang berbuat baik padanya?
Aku juga pernah mendengar “Jangan berlebihan terhadap sesuatu; jangan terlalu percaya, takutnya kamu nanti akan sering dikhianati, jangan terlalu mencintai….” dan sebagainya.
Namun kenyataannya, sering kita jumpai, bahkan melakukannya sendiri. Melakukan dengan terlalu dan berakibat keterlaluan juga. Bukankah begitu? Sedikit dari kita yang menyadarinya.
Aku pernah berkata pada diriku sendiri “Orang itu punya muka dua. Di depanku dia baik, di belakangku seolah ingin menerkamku.”
Setelah kupikir lagi, mungkin “muka dua” bukan hanya berarti menyerang dari belakang. Bisa juga ketika seseorang membicarakan keburukan orang lain di belakang, tapi di depan seolah baik-baik saja.
Meski begitu, ada pula orang yang berbicara di belakang bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memperingatkan, memberi tahu bahwa seseorang punya perilaku buruk agar orang lain tidak menjadi korban berikutnya. Dalam hal seperti itu, niatnya berbeda. Ia tidak sedang menusuk, tapi mengingatkan. Maka, hal itu bisa menjadi pengecualian.
Sering pula kita mendengar seseorang berkata “Dia kok gak ngertiin aku sih, padahal aku selalu ngertiin dia.”
Kalimat sederhana ini sering kali menimbulkan perdebatan kecil. Entah antara kekasih atau sahabat atau siapapun yang pernah dekat. Tapi bukankah manusia memang begitu? Tak pernah puas. Selalu ingin dimengerti, tapi jarang berusaha mengerti. Selalu merasa dirinya lebih baik, seolah tahu segalanya.
Kata “capek” juga bukan hal asing di telinga kita. Kata yang hampir seluruh dunia mengucapkan dan mendengarnya.
Pada dasarnya definisi capek itu ketika sudah melakukan sesuatu yang melelahkan bukan? Namun, yang sering kita jumpai. Kata capek diucapkan ketika kita tidak melakukan sesuatu yang melelahkan atau bahkan tidak melakukan apa-apa.
Begitu pula, sering kita dengar seseorang mengucapkan kata capek, padahal dia nggak ngapa-ngapain selama ini. Kalau begitu, bisa dibilang capek itu ketika merasa tertekan gitu ya, baik itu tertekan batin yang raga tidak ngapa-ngapain tapi jiwa seolah-olah sedang keliling dunia, atau mungkin capek karena nggak ngapa-ngapain.
Selanjutnya, mendengar kata “Ngapa-ngapain”.
Sebenarnya, “ngapa-ngapain” itu banyak artinya. Melamun termasuk ngapa-ngapain. Duduk diam juga ngapa-ngapain. Jadi, apa yang salah? Mungkin tidak ada salah, hanya sekadar prinsip kerja sama saja.
Lau ada kata “maaf”.
Kata itu mudah diucapkan, tapi berat dilakukan. Yang meminta maaf sering merasa gengsi, sementara yang memberi maaf kerap masih menyimpan luka.
Namun, ada sebagian orang yang sangat mudah memberi maaf, seolah-olah hal tersebut tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Ia memilih memberi maaf, padahal punya seribu alasan untuk marah. Ia bukan tidak merasakan rasa sakit, tapi memilih jalan damai dari semuanya, karena pada dasarnya, damai lahir dari keikhlasan.
Aku juga sering mendengar “Bahagia itu sederhana.”
Tapi sebenarnya, definisi bahagia itu seperti apa? Bahagia itu bukan berarti tidak punya masalah, bukan? Kadang cukup bercanda tawa dengan teman di tengah tugas yang menumpuk dan pikiran penuh pun sudah membuat hati ringan. Bisa terbebas dari tugas dan tanggungjawab selama lima menit bagi orang yang super sibuk itu termasuk bahagia? Sesederhana itu.
Namun sering kali kita mendengar orang berkata, “Aku ingin bahagia.” Padahal, bahagia sesederhana itu, hanya untuk mereka yang mau menyadarinya. Karena sejatinya, bahagia bukan sesuatu yang dicari, melainkan disadari.
“Jadilah diri sendiri, jangan jadi orang lain”
Kalimat ini sering sekali kita dengar, bukan? Tapi nyatanya, banyak dari kita ingin menjadi “dia”, entah siapa pun yang kita anggap lebih dari kita. Iri bisa muncul kapan saja, untuk siapa saja. Tapi percayalah, kamu berharga karena dirimu sendiri, bukan karena menjadi orang lain. Kamu adalah dirimu, tak perlu membandingkan dengan siapa pun.
Kalimat motivasi seperti itu mungkin terdengar biasa. Tapi tak apa, manusia memang butuh diingatkan berulang kali. Kadang kata yang sama bisa menenangkan hati yang berbeda.
Sering juga terdengar percakapan “Enak ya, jadi kamu”.
Kalimat ini mudah diucapkan, tapi jarang benar-benar dipahami. Enak seperti apa? Apakah karena kesibukan? Atau karena waktu luang? Kita sering lupa bertanya: bagaimana perjuangan seseorang sampai bisa tampak “enak” di mata kita? Bagaimana ia bertahan di balik yang terlihat mudah itu? Manusia memang begitu, just look at the results, but not at the process.
Tentang “lupa”, pernahkah kamu marah pada seseorang yang sering lupa sesuatu? Bahkan hal-hal kecil sekalipun. Aku pernah. Tapi setelah aku sendiri mengalaminya, aku belajar satu hal: “Don’t judge other people without reason.”
Karena bisa jadi, orang yang lupa itu telah mengalami hal besar dalam hidupnya. Dia pernah stres, atau ia pernah kelelahan berpikir sehingga kepalanya terasa penuh, atau mungkin juga ia pernah mengalami pengalaman buruk sehingga apapun yang diingatnya rasanya ia tak sanggup dan trauma. Atau bisa jadi lain sebagainya.
Dan pada akhirnya, apapun yang kita lakukan, bahkan diam pun, sering dianggap salah di mata manusia. Melakukan ini salah, melakukan itu salah. Pernah dengar kisah Luqman dan Anaknya? Dari cerita itu, kita dapat belajar bahwa apapun yang kita lakukan, akan selalu ada yang menganggapnya salah.
Aku teringat pada ayat Al-Qur’an:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”
Ayat ini, bukan hanya sekadar pernyataan, pepatah atau apapun sebagainya. Namun, hal tersebut sering kita temui dalam kehidupan kita. Tapi, sedikit dari kita yang tidak menyadarinya bukan? Ya begitu kan manusia, cepat menyimpulkan dan terlalu terburu-buru menilai, padahal semua yang terjadi punya alasan dan pelajaran di dalamnya.
Aku tidak bermaksud menghakimi siapapun. Semua yang kutulis ini sering terjadi pada diriku sendiri. Ini hanya sebagai perenungan bagi kita semua. Ajakan untuk berpikir sejenak dan menyelami lagi berbagai kehidupan yang kita jalani selama ini.
Tulisan ini bukan sekadar curahan perasaan, tapi refleksi tentang manusia, tentang wajah-wajah yang kita pakai, dan tentang seberapa tulus kita bisa bertahan di tengah dunia yang penuh kepura-puraan.
Biodata Penulis
Arina Fitriya Azhari lahir di Pamekasan pada tanggal 30 November 2004. Saat ini sedang menempuh pendidikan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia memiliki minat yang besar pada bidang bahasa dan sastra serta ingin terus mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman akademik dan literasi.