Oleh Zidane Kurniawan
Jujur, saya lagi begadang pas nulis ini. Mata perih, kopi dingin, dan hati sedikit bersalah. Tiba-tiba saya ingat ayat ini: “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kalian beristirahat…” (QS. Al-Mu’min: 61). Astaga, Allah sudah jelas bilang malam untuk istirahat, tapi kok saya malah jadi kuli ketik sampai subuh? Saya seperti murid yang gurunya sudah kasih jawaban, tapi tetap ngerjain dengan cara yang salah.
Saya sebenarnya suka tidur. Tapi kenapa setiap ada tugas, saya berubah jadi pahlawan malam yang tidak diminta? Tugas dikasih dua minggu lalu, tapi baru terasa mendesak jam 2 malam. Pernah suatu subuh, setelah begadang, saya mendengar azan dan sadar bahwa saya melawan ayat lain: “Dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat.” (QS. An-Naba’: 9). Saya cuma bisa tersenyum miris dan bergumam, "Maaf, ya Allah. Besok aku coba tidur lebih awal." Tapi besoknya? Ya, saya ulangi lagi. Lucu, kan?
Ironisnya, saya bisa begadang sampai jam 3, tapi begitu subuh tiba, saya jadi atlet tidur profesional. Padahal Allah sudah pesan: “Jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Begadang itu memang bentuk berlebihan dalam menunda-nunda.
Saya tidak mau sok kasih tips, karena saya sendiri masih gagal. Tapi yang paling membantu adalah membohongi otak: “Tidur dulu satu jam, nanti lanjut.” Kadang berhasil, seringnya tidak. Tapi setidaknya saya belajar untuk tidak marah pada diri sendiri.
Kalau Anda sedang terpaksa begadang, ingatlah: “Allah tidak membebani seseorang di luar kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Tapi jangan jadikan ayat ini sebagai pembenaran. Bedakan darurat dan kebiasaan.
Jadi, buat Anda yang sedang begadang sekarang seperti saya, semoga cepat selesai. Dan besok, coba tidur lebih awal. Toh Allah Maha Pengampun. Tapi tolong, jangan dijadikan kebiasaan, ya. Selamat berjuang.
Biodata Penulis:
Zidane Kurniawan | Mahasiswa D4 Manajamen Kontruksi | Universitas Sebelas Maret Surakarta.