Oleh Ummu ‘Athiyah Rahmah Yuma M
Menjadi mahasiswa di zaman sekarang bukanlah hal yang mudah. Tekanan akademik, tugas kuliah yang menumpuk, dan overthinking sering kali menjadi faktor pemicu stres yang jika dibiarkan dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental, mulai dari gangguan tidur hingga penurunan produktivitas. Di tengah semua tuntutan itu, banyak mahasiswa yang memilih untuk beralih ke suatu hal yang mudah diakses, yaitu musik. Dalam ilmu psikologis, orang-orang sudah lama mengetahui bahwa musik memiliki pengaruh yang besar terhadap suasana hati dan emosi seseorang. Menurut Aristoteles, dengan musik suasana ruang batin seseorang dapat dipengaruhi, baik itu suasana bahagia atau sedih, bergantung pada pendengar itu sendiri. Musik dapat memberi semangat pada jiwa yang lelah, resah dan lesu.
Berdasarkan hasil sebuah mini riset psikologi klinis, musik terbukti memiliki peran esensial sebagai media regulasi emosi bagi mahasiswa. Dalam psikologi ini disebut sebagai emotion focused coping, yang artinya saat seseorang mendengarkan musik ia tidak sedang berusaha menyelesaikan sumber masalahnya secara langsung, melainkan berusaha mengelola emosi agar merasa lebih tenang, nyaman dan bahagia sebelum kembali menghadapi persoalan tersebut. Emotion focused coping berupa upaya mengalihkan perhatian individu dari permasalahan yang ada.
Pengalaman empiris dari para mahasiswa menunjukkan betapa berhasilnya terapi sederhana ini. Ada yang merasa perasaannya menjadi lebih plong dan bahagia setelah mendengarkan lirik yang terasa nyata, malah menjadikan musik sebagai teman saat begadang mengerjakan tugas. Ada juga yang merasakan ketenangan yang signifikan melalui alunan musik terutama musik klasik, yang mampu mengalihkan pikirannya dari rasa stres yang dialaminya. Musik disini bukan hanya sekadar alunan melodi, melainkan bentuk hiburan yang mampu menyentuh sisi terdalam dari jiwa manusia.
Tapi kita juga harus pandai menggunakan musik sebagai pelarian. Karena hasil mini riset tersebut mengatakan bahwa musik memiliki batas efektifitasnya. Mungkin musik cenderung sangat membantu tetapi hanya pada tingkat stres ringan hingga sedang. Sedangkan ketika seseorang dalam keadaan panik atau emosi yang tinggi ataupun meledak-ledak, musik bahkan bisa menjadi bumerang untuk orang tersebut. Alih-alih menenangkan, mendengarkan musik dalam kondisi seperti itu terkadang justru membuat pikiran terasa semakin berisik dan tidak nyaman.
Secara subjektif, setiap orang memiliki selera musik yang berbeda-beda dalam meredakan stresnya, mulai dari genre indie, rock, folk, pop, hingga genre klasik. Adanya perbedaan selera tersebut menunjukkan bahwa musik bekerja secara personal dan emosional bagi setiap orang. Ada individu yang merasa tenang melalui alunan melodi yang lembut dan penuh makna, ada juga yang merasa tenang ketika mendengarkan irama yang energik. Hal ini menegaskan bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan pengalaman umum yang mampu menyentuh emosi dan memberikan kenyamanan dengan cara yang unik pada setiap orang.
Singkatnya, musik adalah alat yang efektif untuk membantu mahasiswa mempertahankan kewarasannya di tengah tekanan, baik tekanan akademik, overthinking, dan lain-lain. Meskipun tidak bisa menghapus tugas-tugas kuliah kita ataupun tidak mampu menghapus/menyelesaikan sumber masalahnya, setidaknya musik mampu menenangkan hati dan membangkitkan semangat pada jiwa yang lelah. Maka, jangan ragu untuk memutar lagu favorit kalian, karena mendengarkan lagu favorit dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mengurangi stres. Tapi, tetap perlu untuk mengombinasikannya dengan strategi penyelesaian masalah yang nyata, supaya stres tidak hanya terkelola tetapi juga teratasi.
Biodata Penulis:
Ummu ‘Athiyah Rahmah Yuma M saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Psikologi, di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.