Webinar Keuangan Digital Kupas Tantangan Uang Tak Kasat Mata Lintas Generasi

Yuk simak risiko dan peluang keuangan digital lewat webinar IKIP Widya Darma Surabaya agar finansial tetap aman dan bijak bertransaksi online.

Surabaya — Sebagai institusi pendidikan yang responsif terhadap perkembangan zaman, IKIP Widya Darma Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan kegiatan edukatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Di bawah kepemimpinan Rektor Dr. Drs. Nur Sukri, M.Si., kampus ini terus mendorong penguatan literasi masyarakat melalui kegiatan akademik yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi juga pada pembentukan kesadaran kritis dalam menghadapi tantangan era digital.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan webinar bertema “Literasi Keuangan Digital”. Kegiatan ini digagas oleh Program Studi Pendidikan Ekonomi di bawah Kaprodi Dr. Vina Budiarti Mustika Sari, M.Pd., dan di bawah koordinasi ketua PMB Tahun Akademik 2026–2027 yaitu Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, S.Si., M.Si. Webinar yang dilaksanakan pada Minggu, 24 Mei 2026 ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memahami perubahan besar dalam ekosistem keuangan, dari penggunaan uang fisik menuju sistem keuangan digital yang semakin terintegrasi.

Literasi Keuangan Digital

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat mengelola, menyimpan, dan membelanjakan uang. Transformasi dari uang fisik menuju ekosistem keuangan digital kini tidak lagi menjadi fenomena terbatas pada kelompok tertentu, melainkan telah menyentuh berbagai generasi dengan karakteristik dan tantangan yang berbeda.

Webinar ini menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat terhadap perubahan sistem keuangan modern, mulai dari penggunaan dompet digital, QRIS, layanan financial technology, hingga pola belanja daring yang semakin mempengaruhi perilaku finansial sehari-hari.

Dalam paparan materi, dijelaskan bahwa ekosistem keuangan telah mengalami evolusi signifikan. Uang yang sebelumnya hadir dalam bentuk fisik kini semakin banyak berpindah ke ruang digital. Perubahan ini memberikan banyak kemudahan, seperti transaksi yang lebih cepat, praktis, dan terintegrasi. Namun, di sisi lain, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait kontrol diri, keamanan data, serta kemampuan masyarakat dalam membedakan layanan keuangan yang legal dan berisiko.

Salah satu isu penting yang diangkat adalah perbedaan wajah literasi keuangan digital lintas generasi. Generasi Z dan Alpha digambarkan sebagai digital native yang sejak awal telah akrab dengan dunia digital, termasuk game economy dan social commerce. Sementara itu, generasi milenial berada pada posisi sebagai digital migrants yang harus beradaptasi dengan perkembangan fintech, sekaligus menghadapi tekanan sebagai bagian dari sandwich generation. Adapun Generasi X diposisikan sebagai digital learners yang lebih menaruh perhatian pada aspek keamanan dan stabilitas keuangan.

Webinar ini juga menyoroti fenomena The Invisible Money Effect atau efek uang tak kasat mata. Dalam transaksi digital, masyarakat sering kali tidak merasakan kehilangan uang secara langsung sebagaimana ketika menggunakan uang tunai. Pembayaran melalui QRIS, dompet digital, maupun transaksi sekali klik dapat mengurangi rasa sadar ketika uang keluar. Kondisi ini berpotensi mendorong perilaku konsumtif dan belanja impulsif, terutama ketika pengguna tidak memiliki batasan anggaran yang jelas.

The Invisible Money Effect

Di balik kemudahan transaksi digital, peserta juga diajak memahami berbagai strategi pemasaran yang bekerja secara halus dalam platform digital. Gamifikasi keuangan, seperti pemberian koin, daily check-in, dan papan peringkat belanja, dapat mendorong pengguna untuk terus bertransaksi. Selain itu, praktik hyper-nudging melalui notifikasi seperti “barang di keranjang hampir habis” atau “promo terbatas” menjadi salah satu cara platform menciptakan rasa mendesak agar pengguna segera melakukan pembelian.

Perhatian khusus juga diberikan pada fenomena Buy Now Pay Later atau BNPL. Layanan ini memang dapat membantu pengguna memperoleh barang tertentu secara cepat, termasuk dalam situasi mendesak. Namun, apabila tidak dipahami dengan baik, BNPL dapat berubah menjadi pintu masuk utang konsumtif. Bunga, denda, dan ilusi kemampuan membeli sering kali membuat pengguna merasa seolah-olah mampu memiliki barang tertentu, padahal secara finansial belum tentu siap menanggung kewajibannya.

Buy Now Pay Later

Selain BNPL, materi webinar turut membahas fenomena doom spending, yaitu kebiasaan belanja sebagai pelarian dari kecemasan, tekanan hidup, atau ketidakpastian masa depan. Fenomena ini banyak dikaitkan dengan situasi krisis ekonomi, pandemi, maupun ketidakstabilan sosial. Dalam konteks ini, belanja daring kerap menjadi mekanisme pelarian sesaat bagi sebagian masyarakat, terutama generasi muda, untuk meredakan stres dan kecemasan.

Aspek investasi juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Peserta diajak untuk membedakan antara investasi sehat dan spekulasi berisiko. Investasi yang sehat menuntut pemahaman, perencanaan, dan orientasi jangka panjang. Sebaliknya, spekulasi sering kali menawarkan janji keuntungan cepat tanpa dasar analisis yang kuat. Materi webinar menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap tawaran kekayaan instan, terutama yang beredar melalui aset kripto, platform ilegal, atau skema investasi yang tidak memiliki izin resmi.

Dalam menghadapi risiko digital, peserta juga dibekali pemahaman mengenai deteksi dini bahaya keuangan digital. Beberapa ancaman yang perlu diwaspadai antara lain pinjaman online ilegal, phishing, dan penyalahgunaan data pribadi. Pinjaman online ilegal umumnya meminta akses berlebihan terhadap kontak, galeri, hingga lokasi pengguna, serta tidak memiliki izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan. Sementara itu, phishing sering muncul dalam bentuk tautan palsu melalui pesan WhatsApp, email, atau situs yang menyerupai aplikasi resmi.

Untuk membangun perilaku finansial yang lebih sehat, webinar ini memperkenalkan strategi mindful spending atau belanja dengan penuh kesadaran. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah aturan 24 jam, yaitu menunda pembelian barang non-esensial selama satu hari sebelum melakukan checkout. Langkah sederhana ini dapat membantu pengguna membedakan antara kebutuhan dan keinginan sesaat.

Mindful Spending

Selain itu, peserta juga didorong untuk menggunakan digital budgeting, yakni memisahkan rekening belanja dan tabungan secara digital. Pengelolaan dana yang terpisah dapat membantu masyarakat menjaga kedisiplinan finansial. Webinar ini juga menekankan pentingnya dana darurat sebesar tiga hingga enam bulan pengeluaran, serta kemampuan mengendalikan paparan promosi digital dengan mematikan notifikasi aplikasi belanja.

Tidak kalah penting, materi webinar menegaskan perlunya cyber hygiene sebagai benteng keamanan finansial. Kebersihan digital menjadi pondasi utama dalam menjaga saldo dan aset keuangan. Peserta diingatkan untuk mengaktifkan autentikasi dua faktor atau 2FA pada aplikasi keuangan, menghindari penggunaan Wifi publik saat melakukan transaksi sensitif, serta mengganti PIN dan kata sandi secara berkala.

Melalui webinar ini, literasi keuangan digital diposisikan bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi keuangan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, mengendalikan perilaku konsumsi, memahami risiko, dan melindungi data pribadi. Keuangan digital memang menghadirkan kemudahan, tetapi tanpa literasi yang memadai, kemudahan tersebut dapat berubah menjadi ancaman bagi kesehatan finansial masyarakat.

Dengan mengangkat isu uang tak kasat mata lintas generasi, webinar ini menjadi pengingat bahwa setiap kelompok usia membutuhkan strategi literasi yang sesuai dengan karakteristiknya. Generasi muda perlu dibekali kesadaran terhadap belanja impulsif dan jebakan kekayaan instan, milenial perlu memperkuat perencanaan keuangan di tengah tekanan ekonomi keluarga, sedangkan generasi yang lebih senior perlu memperoleh pendampingan dalam memahami keamanan transaksi digital.

Pada akhirnya, keuangan digital harus dimaknai sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan sekadar alat untuk mempercepat konsumsi. Literasi, kehati-hatian, dan kedisiplinan finansial menjadi kunci agar masyarakat mampu menavigasi era uang tak kasat mata secara aman, cerdas, dan bertanggung jawab.

Penulis:

  • Nawang Wulan S.Pd., M.Pd
  • Dr. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd
  • Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, S.Si., M.Si

Para Penulis merupakan dosen tetap IKIP Widya Darma pada program studi pendidikan: Matematika dan Bahasa Inggris.

© Sepenuhnya. All rights reserved.