Oleh Kheiva Aurelia Adnani
Siapa yang tidak takut kepada Bu Sutami? Di SD Tugu, nama itu sudah cukup membuat seluruh kelas tiba-tiba hening. Tak perlu berteriak, tak perlu memukul meja. Cukup Bu Sutami melangkah masuk, dan semua anak langsung duduk manis, diam seribu bahasa. Itulah gambaran awal yang dibangun dalam cerpen Bu Sutami karya Endang Firdaus sosok guru yang galak, keras, dan ditakuti hampir seluruh murid di sekolahnya.
Cerpen ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama, seorang murid yang pernah merasakan langsung hukuman Bu Sutami. Gara-gara keluar kelas mendahului Bu Sutami, kupingnya dijewer. Sakit sekali, katanya. Lebih-lebih hatinya. Sejak saat itu, ia memendam kebencian yang dalam terhadap gurunya itu. Dan ia tidak sendirian banyak anak lain yang bernasib serupa, yang karena pernah dihukum, akhirnya ikut membenci Bu Sutami.
Kisah ini berjalan tenang hingga tiba satu pagi di hari Senin, saat upacara bendera. Bu Sutami yang biasanya tampil dengan wajah angker dan sikap tegas, kali ini melangkah gontai menuju podium. Wajah angkernya yang selalu diperlihatkan tak ada lagi. Yang ada hanya kesedihan yang amat dalam di wajah tuanya. Ia berdiri di hadapan seluruh murid dan guru, lalu mengumumkan bahwa hari itu adalah pertemuan terakhir mereka. Masa pensiunnya telah tiba.
Di sinilah cerpen ini mencapai momen terdramatis sekaligus paling menyentuh. Bu Sutami meminta maaf. Bukan sekadar basa-basi, melainkan permintaan maaf yang tulus dari seorang kepala sekolah kepada murid-muridnya. Ia mengakui bahwa selama ini ia telah berlaku kasar terhadap mereka. Namun di balik semua kekasaran itu, ia menyampaikan satu hal yang selama ini tidak pernah ia ucapkan secara langsung bahwa semua itu ia lakukan karena ia tidak ingin anak-anak didiknya menjadi bodoh dan mudah diperbudak oleh orang lain yang lebih pintar.
Kalimat itu menghantam perasaan sang tokoh "aku" seperti petir di siang bolong. Ia melihat kedua bola mata Bu Sutami berkaca-kaca. Teman-temannya pun tampak sedih. Para guru pun diam dalam haru. Perasaan benci yang selama ini ia pendam sirna seketika. Ia sadar bahwa selama ini ia telah salah menilai gurunya. Betapa berdosanya ia, katanya dalam hati, kepada seseorang yang selama ini hanya bermaksud baik.
Inilah kekuatan utama cerpen ini kemampuannya membalik sudut pandang secara perlahan namun pasti. Pengarang tidak langsung membela Bu Sutami sejak awal. Ia membiarkan pembaca merasakan kebencian sang tokoh, membiarkan prasangka itu tumbuh, lalu di penghujung cerita ia memperlihatkan bahwa prasangka itu tidak sepenuhnya benar.
Bahasa yang Hidup dan Mengalir
Salah satu keunggulan cerpen ini terletak pada pilihan bahasanya. Endang Firdaus menggunakan diksi yang sederhana namun tepat sasaran. Kata-kata seperti "galak", "angker", "dijewer", dan "mencubit paha" bukan sekadar deskripsi fisik kata-kata itu membangun suasana dan karakter dengan sangat efisien. Pembaca tidak perlu penjelasan panjang untuk memahami seperti apa Bu Sutami; satu kata "angker" sudah cukup untuk melukis gambaran itu.
Majas juga digunakan dengan apik di sana-sini. Hiperbola muncul saat kelas digambarkan seketika hening begitu Bu Sutami masuk sebuah gambaran yang melebih-lebihkan namun justru terasa sangat nyata bagi siapa pun yang pernah punya guru galak. Ada pula antitesis yang kuat ketika wajah angker Bu Sutami dikontraskan dengan wajah penuh kesedihan saat ia berdiri di podium perpisahan — dua gambaran yang bertolak belakang namun keduanya milik orang yang sama.
Ironi menjadi majas paling kuat dalam cerpen ini. Tokoh "aku" yang selama ini merasa menjadi korban ketidakadilan gurunya, pada akhirnya justru menyadari bahwa dialah yang bersalah karena terlalu cepat menghakimi. Kebenaran itu tidak datang dengan cara yang keras atau menggurui, melainkan melalui air mata seorang guru tua yang sedang mengucap selamat tinggal.
Citraan dalam cerpen ini pun terasa hidup. Pembaca diajak melihat langkah Bu Sutami yang lemah menuju podium, mendengar keheningan kelas yang mencekam, dan merasakan nyeri telinga yang dijewer. Bahkan perubahan batin sang tokoh pun digambarkan dengan citraan yang kuat perasaan benci yang "sirna seketika" seolah-olah adalah sesuatu yang bisa dirasakan secara fisik, seperti beban berat yang tiba-tiba terangkat dari dada.
Pelajaran yang Tersimpan di Balik Kerasnya
Cerpen Bu Sutami bukan hanya tentang seorang guru yang galak. Ia berbicara tentang kesalahpahaman yang terjadi antara pendidik dan murid, tentang betapa mudahnya kita menghakimi seseorang dari caranya bertindak tanpa berusaha memahami alasan di baliknya. Bu Sutami keras bukan karena benci. Ia keras karena ia peduli dengan cara yang mungkin tidak selalu tepat, namun niatnya tidak pernah salah.
Ada pelajaran lain yang tak kalah penting bahwa meminta maaf membutuhkan keberanian yang luar biasa, terutama bagi seseorang yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai figur yang ditakuti. Bu Sutami melakukannya di hadapan seluruh murid dan guru, tanpa menyembunyikan apa pun. Itu bukan tanda kelemahan. Itu justru tanda kebesaran jiwa.
Di akhir cerita, tokoh "aku" berjanji dalam hati untuk mencamkan dan melaksanakan semua perkataan Bu Sutami. Kalimat penutup itu sederhana, tapi resonansinya dalam. Sebuah kebencian yang telah lama tumbuh akhirnya bertransformasi menjadi penghormatan yang tulus dan itulah mungkin warisan terbesar yang bisa ditinggalkan seorang guru kepada muridnya.
Selamat tinggal, Bu Sutami. Terima kasih sudah tidak menyerah mengajar, meski tak semua muridmu paham saat itu juga.