Oleh Zaskia Ramadhani
Pernah nggak sih perhatiin seseorang di lingkaran pertemananmu yang dulunya hidup biasa-biasa aja, hobi nongkrong, ibadahnya masih lalai, atau berpakaian mengikuti trend, tiba-tiba putar haluan hidup 180 derajat? Mereka mendadak lebih taat, rajin ibadah seperti shalat tepat waktu, shalat sunnah, rutin membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, sampai mengubah total gaya berpakaian jadi lebih tertutup. Fenomena ini sering kali memicu bisik-bisik di lingkungan sekitar. Ada yang menganggapnya sebagai trend musiman, ada juga yang melabelinya "sok alim".
Benarkah transformasi drastis ini cuma soal ikut-ikutan trend fashion, atau jangan-jangan ini adalah sebuah fenomena glow up sekaligus grow up jalur langit dari sebuah jeritan batin yang sedang mencari ketenangan?
Kalau dibedah lewat kacamata psikologi klinis humanistik, fenomena hijrah atau perubahan ini bisa dijelaskan lewat Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow, khususnya pada tingkat tertinggi yaitu Aktualisasi Diri. Seseorang yang awalnya hidup “biasa-biasa saja” kemungkinan besar sudah memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, dan kebutuhan sosial. Namun dalam perjalanannya, banyak yang mendadak mentok di fase quarter-life crisis atau jenuh secara eksistensial. Ada momen di mana pencapaian duniawi rasanya kok hampa ya? Nah, kekosongan inilah yang mendorong jiwa untuk mengetuk puncak piramida Maslow, bukan lagi sekadar mencari validasi sosial, melainkan mencari makna dan integritas diri yang sejati.
Di sinilah ketaatan iman mengambil peran sebagai bentuk intervensi klinis mandiri. Keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, memperdalam keimanan, merutinkan shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir, itu punya cara kerja yang mirip dengan teknik intervensi Mindfulness-Based Cognitive Therapy (MBCT) dalam psikologi. Saat ibadah dijalani dengan khusyuk dan penuh kesadaran, aktivitas ini jadi semacam spiritual-focused therapy yang efektif menurunkan kecemasan dan sekaligus mereduksi kebisingan pikiran (mental clutter). Rasa tenang yang dirasakan setelah ibadah bukan sekadar kesan sesaat, dan banyak penelitian menunjukkan hal yang serupa.
Keputusan mengubah penampilan jadi lebih tertutup bukan sekedar soal tampilan luar. Dalam psikologi klinis, ini adalah bagian dari proses identity reconstruction, di mana individu menyusun ulang kepribadiannya menuju aktualisasi diri yang lebih autentik. Aktualisasi diri dicirikan oleh adanya otonomi, penerimaan diri, dan komitmen pada nilai-nilai kebaikan. Menjauhi larangan agama tidak lagi terasa sebagai kekangan, melainkan menjadi bentuk self-control yang meningkatkan subjective well-being, yaitu kepuasan hidup serta keseimbangan antara afektif positif dan negatif.
Argumen ini diperkuat oleh berbagai studi literatur psikologi humanistik-Islam yang menemukan bahwa komitmen keagamaan bagi seorang muslim merupakan bentuk positive religious coping. Rutinitas ibadah seperti shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur'an merupakan latihan jiwa (riyadhah) yang paling efektif untuk meraih integrasi kepribadian yang utuh sekaligus mencapai puncak aktualisasi diri yang sehat. Namun perlu dicatat, proses ini harus dijalani secara bertahap agar tidak memunculkan religious guilt, yaitu perasaan bersalah yang berlebihan akibat merasa melanggar norma agama, yang justru akan dapat menghambat kesehatan mental.
Jadi, perubahan seseorang yang tiba-tiba religious bukan sebuah keanehan tanpa arah. Dari sudut pandang psikologi klinis, transformasi ini adalah bentuk healing mandiri, sebuah perjalanan mental seseorang untuk meraih versi terbaik diri (Aktualisasi Diri) melalui jalan keimanan. Perilaku baru yang didasari kekuatan keimanan berfungsi sebagai positive coping mechanism yang sehat untuk mengelola stresor hidup dan memperbaiki kualitas kepribadian seseorang secara menyeluruh. Transformasi ini menjadi bukti bahwa kepribadian yang sehat mencapai puncak aktualisasinya bukan saat berhasil mengejar validasi dunia, melainkan saat ia mampu menemukan kedamaian batin melalui keimanan. Dan teruntuk lingkungan sekitar, yuk berikan support system yang hangat tanpa stigma, karena bagaimanapun juga, mereka sedang berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya. Dan mungkin, itulah glow up jalur langit yang paling bermakna.
Biodata Penulis:
Zaskia Ramadhani, saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Psikologi, di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.