If Wishes Could Kill: Drama Korea yang Mengguncang Budaya Pop

Apakah kita benar-benar memahami harga dari setiap keinginan yang terwujud? Yuk renungkan pertanyaan itu lewat drama Korea If Wishes Could Kill.

Oleh Ara Belia Rhamadani

Saya pertama kali tahu soal If Wishes Could Kill, sebuah drama Korea bergenre horor-misteri, bukan dari rekomendasi siapa pun, melainkan dari sebuah video pendek di media sosial, yaitu dari aplikasi TikTok yang memperlihatkan adegan seorang remaja menerima notifikasi dari aplikasi bernama Girigo. Saya langsung penasaran, bukan karena saya penggemar berat horor, tapi karena ada sesuatu yang terasa sangat familiar dari premis itu sebuah aplikasi yang menawarkan sesuatu terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Drama delapan episode yang tayang di Netflix pada April 2026 ini bercerita tentang sekelompok pelajar SMA yang tanpa sadar mengunduh Girigo, aplikasi misterius yang bisa mengabulkan keinginan mereka, tapi dengan imbalan nyawa mereka sendiri akan berakhir dalam 24 jam setelah keinginan itu terpenuhi. Setelah menonton episode pertama, saya langsung sadar bahwa ini bukan sekadar drama horor biasa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang dibicarakan lewat cerita ini.

If Wishes Could Kill

Bagi saya, If Wishes Could Kill paling menarik kalau dibaca bukan hanya sebagai tontonan, tapi sebagai produk budaya yang mencerminkan keresahan zaman. Saya melihat drama ini sebagai cara Korea Selatan berbicara tentang dua hal sekaligus, yaitu warisan leluhur mereka dan kecemasan generasi muda yang tumbuh di dunia serba digital. Yang membuat saya terkesan adalah keberanian penulis naskah untuk tidak memisahkan keduanya, mereka justru menyatukan tradisi perdukunan Korea yang sudah ada berabad-abad dengan kebiasaan paling modern seperti mengunduh aplikasi di ponsel. Dari sudut pandang saya, pilihan kreatif itulah yang membuat drama ini terasa bukan cuma hiburan, tapi juga semacam refleksi tentang siapa kita sekarang dan dari mana kita berasal.

Salah satu hal yang paling saya kagumi dari If Wishes Could Kill adalah bagaimana ia membawa kepercayaan lokal Korea ke dalam konteks yang sangat modern tanpa terasa dipaksakan. Tradisi mu-sok atau perdukunan Korea yang biasanya muncul di cerita-cerita rakyat tua, di sini hadir lewat sebuah aplikasi ponsel yang bisa diunduh siapa saja seolah kutukan nenek moyang ikut berevolusi mengikuti cara hidup generasi baru. Menurut saya, inilah formula yang paling jujur dari gelombang budaya Korea atau yang kita kenal sebagai Hallyu mereka tidak meninggalkan akar mereka, tapi juga tidak berpura-pura masa lalu lebih baik dari masa kini. Drama ini pada dasarnya sedang berkata bahwa ketakutan manusia itu universal dan tidak pernah benar-benar berubah, hanya kemasannya saja yang berganti dari mulut ke mulut menjadi notifikasi di layar.

Satu hal yang membuat saya semakin yakin bahwa drama ini adalah fenomena budaya pop yang serius adalah kenyataan bahwa ia menjadi perbincangan global tanpa mengandalkan nama-nama yang sudah terkenal luas. Tidak ada aktor papan atas, tidak ada sutradara berpengalaman dengan rekam jejak panjang, para pembuatnya justru adalah pendatang baru yang membuktikan diri lewat serial ini. Buat saya, ini membuktikan bahwa penonton global sekarang sudah cukup dewasa untuk jatuh cinta pada sebuah cerita, bukan pada wajah yang membawanya. Di era Netflix di mana semua orang bisa menonton apa saja dari mana saja, kualitas narasi akhirnya menjadi mata uang yang paling berharga, dan If Wishes Could Kill adalah bukti bahwa Korea terus memahami hal itu lebih baik dari siapa pun.

Sebagai penonton dari Indonesia, saya merasa ada lapisan makna tambahan ketika menikmati drama seperti ini. Kita juga hidup di tengah dua dunia tradisi yang kuat di satu sisi dan gaya hidup digital yang makin mendominasi di sisi lain dan ketegangan itu tidak selalu mudah diungkapkan lewat kata-kata sehari-hari. Drama Korea macam If Wishes Could Kill, menurut saya, membantu kita melihat ketegangan itu dari luar, dari sudut pandang budaya lain yang ternyata mengalami pergumulan serupa. Saya tidak bilang kita harus menelan semua nilai yang ada di dalamnya, tapi setidaknya drama ini memberi kita bahan untuk berpikir seberapa jauh kita rela menukar sesuatu yang berharga demi sesuatu yang kita inginkan sekarang, dan apakah kita benar-benar sadar akan harganya.

If Wishes Could Kill bagi saya adalah salah satu contoh paling jelas bahwa budaya pop bukan sekadar hiburan yang lewat begitu saja. Drama ini datang dengan kutukan yang menakutkan, remaja-remaja yang bingung, dan darah yang mungkin terlalu banyak di beberapa adegan tapi di balik semua itu ada pertanyaan yang pelan-pelan masuk ke kepala kita lama setelah layar dimatikan. Saya pikir itulah standar tertinggi dari sebuah karya budaya pop bukan seberapa besar angka penontonnya, tapi apakah ia berhasil membuat kita duduk sebentar dan merenung. Dan untuk drama yang berdurasi delapan episode dengan aktor-aktor yang belum banyak dikenal, If Wishes Could Kill berhasil melakukan itu dengan cara yang tidak bisa saya remehkan.

Ara Belia Rhamadani

Biodata Penulis:

Ara Belia Rhamadani | Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

© Sepenuhnya. All rights reserved.