Kebiasaan Aneh Orang Salatiga: Menjelaskan Kotanya Pakai Kota Orang Lain

Pernah bertanya, "Salatiga itu di mana?" Yuk simak kebiasaan unik orang Salatiga yang selalu memakai Semarang atau Solo untuk memperkenalkan kotanya.

Oleh Arika Serra Suprapto

Ada satu kebiasaan yang kayanya cuma dimiliki orang Salatiga. Kebiasaan ini otomatis sampai dilakukan tanpa latihan, tanpa aba-aba, bahkan tanpa disadari. Aku baru sadar, ternyata jadi orang Salatiga punya kemampuan yang tidak diajarkan di sekolah, yap menjelaskan letak kota sendiri pakai kota orang lain. Polanya hampir selalu sama, setiap ketemu orang baru pasti pertanyaan yang pertama muncul "Kamu asalnya dari mana?". Pertanyaan simpel sih, kalau aku jawab "Salatiga" mereka langsung mengangguk, selamat. Aku baru saja bertemu orang langka yang kemungkinan besar pernah kuliah di Jawa Tengah, punya saudara di sana, atau minimal pernah nyasar lewat jalan Semarang-Solo.

Salatiga
Sumber: Google Maps

Beda cerita, kalau percakapannya lanjut begini "Oh itu di mana?". Nah, di titik inilah orang Salatiga berubah profesi. Bukan lagi mahasiswa, pegawai, atau apapun pekerjaannya. Kita mendadak jadi Google Maps berjalan atau bahkan jadi buku Atlas berbentuk orang.

"Tau Semarang?" 

"Iya."

"Nah, sekitar sejam dari Semarang"

Kalau ternyata orangnya lebih akrab sama Solo, narasinya langsung berubah. 

"Tau Solo?"

"Tau."

"Ya, di tengah-tengah Semarang sama Solo."

Lucunya, jawaban itu keluar begitu saja. Refleks. Seolah-olah sejak lahir itu kami udah dibekali wejangan, kalau orang tidak tahu Salatiga, segera sebut Semarang atau Solo ya. Aku kadang membayangkan bagaimana kalau kebiasaan ini diterapkan kota lain.

Orang Bandung ditanya asalnya, lalu menjawab, "Bandung, deket Purwakarta." atau orang Yogyakarta bilang, "Jogja, sekitar satu jam dari Magelang." Aneh, kan? tapi bagi orang Salatiga, itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan karena kami tidak bangga dengan kota sendiri. Justru sebaliknya, kami sudah terlalu paham jika menyebut "Salatiga" saja sering menghasilkan tatapan bingung. Daripada menghabiskan waktu buat menjelaskan letak geografis, lebih baik langsung menyebut kota yang sudah dikenal semua orang. Semarang dan Solo, tanpa mereka sadari, sudah lama menjadi humas tidak resmi di Kota Salatiga.

Yang bikin menarik, orang biasanya baru mengenal Salatiga setelah mereka datang sendiri. Entah karena kuliah, ada urusan pekerjaan, atau sekadar diajak teman. Lalu, kalimat yang keluar hampir selalu sama.

"Lho, ternyata kotanya enak."

Nah, "ternyata" itu yang menarik. Seolah-olah sebelum datang, ekspektasi mereka adalah Salatiga cuma persimpangan jalan yang kebetulan diberi nama kota. Padahal, justru karena ukurannya tidak terlalu besar, hidup di Salatiga punya kemewahan yang mulai langka. Kalau berangkat telat sepuluh menit, peluang buat datang tepat waktu masih cukup besar. Kalau mau cari tempat ngopi, tidak perlu menyisihkan waktu hanya untuk mencari parkiran.

Yang paling saya suka tinggal di Salatiga itu ritme kotanya. Salatiga tidak pernah terlihat terburu-buru. Orang-orang masih sempet menyapa tetangga, jalanan tidak ada macetnya, atau masih ada waktu buat menikmati udara sore tanpa merasa hidup dikejar-kejar deadline. Mungkin karena itu pula, banyak orang yang tinggal di Salatiga selalu punya kalimat pamungkas. 

"Enak ya, tinggal di sini."

Kalimat yang ironisnya sering diucapkan oleh orang yang dulu bahkan tidak tahu kota ini ada di mana. Jadi, kalau suatu hari nanti kamu bertemu orang Salatiga, coba iseng dikit. Saat mereka bilang asalnya dari Salatiga, jangan buru-buru bertanya, "Itu di mana?". Sebaliknya, coba bilang, "Oh, aku tahu."

Percayalah, kemungkinan besar mereka akan berhenti sebentar. Mungkin sedikit terkejut. Mungkin juga diam-diam merasa lega. Karena untuk sekali itu saja, mereka tidak perlu menjelaskan kotanya dengan meminjam nama Semarang atau Solo. Akhirnya, Salatiga bisa berdiri di atas namanya sendiri.

Penulis:

Arika Serra Suprapto, berasal dari Kota Salatiga, lahir pada tanggal 6 Februari 2007.

© Sepenuhnya. All rights reserved.