Oleh Ibrahim Ulin Nuha
Terjadinya kebebasan pers dan demokrasi liberal menjadi ladang tumbuh subur partai-partai politik untuk beradu gagasan masing-masing. Partai-partai tersebut tidak bertarung dalam rapat parlemen tetapi mulai menggunakan media massa untuk mengadukan gagasannya. Partai Masyumi yang berhaluan ideologi politik islam mulai menggunakan media massa untuk menyebarkan ideologinya. Salah satu instrumen media massa yang digunakan adalah majalah Hikmah. Majalah Hikmah yang bermotto "Hendaklah kau adjak orang kedjalan Allah dengan 'HIKMAH' (bidjaksana), dengan peringatan jang ramah tamah, dan ber-tukar pikiranlah dengan mereka dengan tjara jang sebaik-baiknja”. Majalah ini lahir dari tokoh-tokoh intelektual Masyumi sehingga majalah Hikmah memiliki kedekatan ideologis partai tersebut.
Hubungan erat antara majalah Hikmah dengan tokoh Masyumi bisa dilihat dari susunan redaksi dan pemimpin umumnya yang diisi langsung oleh kader Masyumi. Majalah Hikmah dipimpin langsung oleh Mohammad Natsir. Di bawah kepemimpinan redaksi S. M. Sjaaf, jajaran sidang redaksinya diisi oleh nama-nama besar yang memiliki rekam jejak panjang dalam pergerakan Islam dan jurnalistik, seperti Z. A. Ahmad, A. R. Baswedan, Mh. Ali Alhamidy, Hamka, hingga Adnan Sjamai. Adanya tokoh-tokoh ini menandakan Hikmah sebagai media massa yang berafiliasi dengan Masyumi. Secara konten, Majalah Hikmah menyajikan rubrikasi yang sangat komprehensif, jauh dari sekadar diskursus teologis semata. Mereka membahas persoalan kenegaraan dengan tajam melalui rubrik "Dalam Negeri", seperti mengkritisi ketidakadilan distribusi kekuasaan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo, menyoroti manuver partai-partai seperti PIR dan NU, hingga masalah sosial seperti menjamurnya perjudian dan minuman keras di kalangan masyarakat. Majalah ini juga menggunakan instrumen karikatur politik yang bernas untuk menyindir lawan-lawan politiknya, termasuk propaganda komunis (PKI), sekaligus memberikan edukasi politik bagi rakyat yang tidak berpartai. Kritik-kritik ini disampaikan dengan gaya bahasa yang argumentatif, khas para intelektual Masyumi.
Sisi unik majalah ini adalah menerbitkan berita politik global melalui rubrik "Luar Negeri". Majalah ini secara aktif memberitakan perkembangan di Dunia Islam, seperti penandatanganan pakta antara Turki dan Pakistan, serta dinamika politik di negara-negara non-blok seperti Yugoslavia. Hal ini menunjukkan para tokoh intelektual Masyumi di belakang majalah ini yang ingin memposisikan umat Islam Indonesia sebagai bagian integral dari percaturan geopolitik dunia, bukan sekadar masyarakat yang terfokuskan dalam isu-isu nasional saja.
Majalah Hikmah kini sering kali dilupakan dari perbincangan utama sejarah pers politik nasional. Majalah ini adalah bukti original bahwa politik Islam pada masa itu dibangun di atas dasar literasi dan agama. Pertarungan gagasan yang elegan, serta wawasan global yang luas melalui majalah Hikmah. Dengan adanya tulisan ini dapat membaca kembali lembaran-lembaran arsip Majalah Hikmah sama halnya dengan menelusuri kembali warisan intelektual Masyumi yang mencoba mengawinkan nilai-nilai luhur Islam dengan modernitas dan praktik berdemokrasi di Indonesia.
Biodata Penulis:
Ibrahim Ulin Nuha | Mahasiswa Universitas Jember | Jurusan Pendidikan Sejarah.