Masa Kecil Tinggal di Grojogan Sewu

Masih ingat ramainya Grojogan Sewu dulu? Yuk nostalgia sejenak melihat bagaimana tempat wisata penuh kenangan itu kini berubah menjadi lebih tenang.

Oleh Verina Rosyiida Aulya

Dulu, Grojogan Sewu selalu terasa seperti tempat yang tidak pernah tidur. Setiap kali musim liburan datang, kawasan wisata itu dipenuhi kendaraan dari berbagai kota. Jalan menuju lokasi macet panjang, suara klakson bercampur dengan udara dingin pegunungan, dan deretan pedagang berjajar hampir tanpa celah di sepanjang jalan masuk. Buat versi kecil diriku, Grojogan Sewu bukan sekadar tempat wisata. Tempat itu seperti dunia lain yang selalu ramai, hidup, dan penuh cerita.

Grojogan Sewu
Sumber: Google Maps

Aku masih ingat bagaimana suasana di sana dulu terasa begitu meriah. Bahkan sebelum benar-benar masuk ke area air terjun, keramaiannya sudah terasa dari kejauhan. Pedagang sate kelinci sibuk membolak-balik dagangan di atas bara api, aroma jagung bakar bercampur dengan bau tanah basah setelah hujan, sementara suara orang-orang saling bersahutan memenuhi udara. Anak-anak kecil berlarian membawa balon warna-warni, orang tua sibuk memanggil anggota keluarga yang tertinggal, dan para wisatawan antre membeli makanan atau sekadar berfoto di depan pintu masuk.

Saat itu, rasanya semua orang pernah datang ke Grojogan Sewu.

Waktu kecil, perjalanan ke air terjun rasanya seper petualangan besar. Biar bisa sampai ke bawah, kami harus menuruni ratusan anak tangga yang panjang dan berkelok. Nah dulu tangga-tangga itu pasti ada banyak orang. Ada yang berhenti sambil ngatur nafasnya, ada yang lagi duduk bentar di pinggir jalan, dan ada juga yang lagi sibuk foto-foto keluarga dengan latar pepohonan pinus yang menjulang tinggi banget.

Di sepanjang perjalanan, suara gemuruh air terjun perlahan mulai terdengar dari kejauhan. Semakin turun, suaranya semakin besar, bercampur dengan tawa pengunjung dan suara pedagang yang menawarkan makanan. Rasanya tidak pernah benar-benar sepi.

Yang paling ikonik dari Grojogan Sewu tentu saja monyet-monyet liarnya. Mereka seperti penghuni tetap yang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan wisatawan. Monyet-monyet itu duduk di pagar, bergelantungan di pohon, atau tiba-tiba mendekati pengunjung yang membawa plastik makanan. Hampir setiap orang punya cerita sendiri tentang mereka.

Aku juga punya.

Dulu aku pernah digigit monyet gara-gara terlalu percaya diri mendekat sambil membawa makanan ringan. Waktu itu aku masih kecil dan mengira semua hewan di tempat wisata pasti ramah seperti di kartun. Dalam hitungan detik, monyet itu menyambar makananku lalu menggigit tanganku. Aku langsung menangis keras, campur takut dan kaget, sementara keluargaku sibuk menenangkan sambil menahan panik.

Sejak saat itu, aku selalu punya rasa takut sekaligus penasaran pada monyet-monyet Grojogan Sewu. Setiap kali kembali ke sana, aku selalu memperhatikan mereka dari jauh sambil memastikan tidak ada makanan terlihat di tangan.

Selain monyet, ada juga angsa-angsa yang dulu sering berkeliaran di sekitar jalan setapak. Dan entah kenapa, waktu kecil aku merasa angsa di sana galak semua. Aku pernah dikejar seekor angsa sampai lari terbirit-birit sambil teriak ketakutan. Sandalku hampir copot, sementara keluargaku malah tertawa melihat aku panik sendiri. Sekarang kalau mengingatnya lagi, kejadian itu justru terasa lucu dan hangat.

Namun waktu berjalan, dan tanpa sadar suasana Grojogan Sewu mulai berubah.

Ketika aku tumbuh lebih besar dan sesekali kembali lagi ke Tawangmangu, aku mulai menyadari bahwa tempat yang dulu terasa begitu ramai kini perlahan menjadi lebih sepi. Jalan menuju lokasi sudah tidak semacet dulu. Deretan kendaraan wisata tidak lagi memenuhi area parkir. Bahkan beberapa kios yang dulu selalu ramai kini tampak tutup dengan cat yang mulai memudar.

Anak tangga menuju air terjun yang dulu dipenuhi suara langkah kaki sekarang terasa lengang. Aku bisa berjalan turun tanpa harus berdesakan dengan pengunjung lain. Tidak ada lagi suara ramai keluarga besar yang bercanda sepanjang jalan. Tidak banyak anak kecil berlari sambil tertawa seperti dulu.

Suasana yang berubah itu terasa aneh.

Air terjunnya sebenarnya masih sama. Airnya tetap jatuh deras dari tebing tinggi, menghasilkan suara gemuruh yang menggema di seluruh kawasan. Udara dinginnya juga masih sama menusuk kulit. Hutan pinus di sekelilingnya tetap berdiri rindang seperti puluhan tahun lalu. Bahkan monyet-monyetnya masih ada, masih berkeliaran menunggu pengunjung yang lengah membawa makanan.

Tapi keramaiannya hilang.

Dan justru karena itulah, aku sadar bahwa yang sebenarnya membuat Grojogan Sewu terasa hidup dulu bukan hanya keindahan alamnya. Melainkan orang-orang yang memenuhi tempat itu. Tawa pengunjung, suara pedagang, langkah kaki di anak tangga, dan keluarga-keluarga yang datang membawa cerita mereka masing-masing.

Sekarang Grojogan Sewu terasa lebih tenang. Sebagian orang mungkin menyebutnya sepi. Namun di balik kesunyian itu, tempat ini tetap menyimpan begitu banyak kenangan.

Bagiku, Grojogan Sewu bukan cuma wisata air terjun.

Tempat itu adalah bagian dari masa kecil yang masih tinggal di kepala sampai hari ini. Tempat di mana aku pernah takut pada monyet, pernah dikejar angsa, pernah mengeluh kelelahan menuruni tangga, dan pernah merasa dunia begitu besar hanya dari perjalanan menuju air terjun.

Mungkin beberapa tempat memang berubah seiring waktu. Keramaiannya bisa hilang, pengunjung bisa berkurang, dan suasananya tidak lagi sama seperti dulu.

Tetapi kenangan yang pernah tumbuh di sana, entah bagaimana, tetap tinggal selamanya.

Penulis:

Verina Rosyiida Aulya lahir pada tanggal 11 September 2007 di Batang.

© Sepenuhnya. All rights reserved.