Surabaya — Sebagai perguruan tinggi yang terus beradaptasi dengan dinamika perkembangan teknologi dan kehidupan masyarakat, IKIP Widya Darma Surabaya kembali mengambil peran strategis dalam menghadirkan ruang edukasi publik yang bernilai kebangsaan. Di bawah kepemimpinan Rektor Dr. Drs. Nur Sukri, M.Si., kampus ini senantiasa mendorong lahirnya kegiatan akademik yang tidak hanya memperkuat wawasan keilmuan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat dalam menghadapi tantangan baru di era digital.
Komitmen tersebut tercermin melalui penyelenggaraan webinar bertema “Membangun Wawasan Kebangsaan (Pancasila) di Ruang Digital”. Kegiatan ini digagas oleh Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di bawah Kaprodi Yuniarto Wiryo Nugroho, S.H., M.H., dan di bawah koordinasi ketua PMB Tahun Akademik 2026–2027 yaitu Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, S.Si., M.Si.
Webinar yang dilaksanakan pada Minggu, 7 Juni 2026 ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman berpikir, bersikap, dan berinteraksi di tengah derasnya arus informasi digital. Melalui forum ini, peserta diajak memahami bahwa ruang digital bukan sekadar tempat bertukar informasi, melainkan juga ruang sosial yang membutuhkan etika, tanggung jawab, dan kesadaran kebangsaan.
Dalam webinar ini dijelaskan bahwa ancaman terhadap bangsa saat ini tidak selalu berbentuk fisik. Jika dahulu ancaman identik dengan perang, senjata, atau perebutan wilayah, maka hari ini ancaman dapat hadir melalui manipulasi informasi, data, algoritma, dan opini publik. Ruang digital menjadi medan baru yang dapat memperkuat persatuan, tetapi juga dapat merusaknya jika digunakan tanpa etika dan tanggung jawab.
Salah satu persoalan utama yang disoroti adalah maraknya hoaks. Informasi palsu dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan aplikasi percakapan. Jika masyarakat langsung percaya tanpa memeriksa kebenarannya, hoaks dapat menimbulkan perpecahan, konflik sosial, dan turunnya kepercayaan publik. Karena itu, literasi digital menjadi sangat penting, bukan hanya agar masyarakat mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memahami, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Webinar ini juga menekankan bahwa kebebasan berekspresi di ruang digital tetap memiliki batas. Setiap orang memang memiliki hak untuk berpendapat, tetapi tidak boleh menyebarkan fitnah, ujaran kebencian, perundungan digital, atau informasi yang merugikan orang lain. Dalam perspektif hukum, aktivitas digital dapat memiliki konsekuensi, terutama jika berkaitan dengan UU ITE, UU Perlindungan Data Pribadi, maupun KUHP.
Selain itu, peserta juga diajak memahami ancaman baru berupa penyalahgunaan AI. Teknologi AI dapat bermanfaat untuk pendidikan, penelitian, dan pelayanan publik. Namun, AI juga dapat disalahgunakan untuk membuat hoaks, deepfake, penipuan digital, dan manipulasi opini. Oleh sebab itu, masyarakat perlu semakin kritis dalam menerima informasi, meskipun konten tersebut tampak meyakinkan.
Nilai-nilai Pancasila menjadi dasar penting dalam membangun etika digital. Sila pertama mengajarkan penghormatan terhadap keyakinan orang lain. Sila kedua mengingatkan pentingnya menjunjung kemanusiaan dan menghindari perundungan. Sila ketiga menegaskan pentingnya menjaga persatuan. Sila keempat mengajarkan kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab. Sementara sila kelima mendorong pemanfaatan teknologi untuk kebaikan bersama.
Materi webinar juga menghubungkan nilai Pancasila dengan kearifan lokal melalui tokoh pewayangan Semar dan Yudistira. Semar digambarkan sebagai simbol ketenangan, pengayom, dan pemersatu di tengah perbedaan. Sementara Yudistira mencerminkan kejujuran, integritas, dan kebenaran data. Nilai-nilai tersebut relevan untuk membangun sikap bijak dalam menghadapi hoaks, perundungan digital, doxing, cancel culture, dan provokasi di media sosial.
Melalui filosofi Semar, masyarakat diajak membangun ketahanan digital melalui empat sikap utama, yaitu mawas diri, tepa salira, rendah hati, dan tenang menghadapi provokasi. Mawas diri mendorong pengguna media sosial untuk tidak mudah terpancing emosi. Tepa salira mengajarkan empati kepada sesama. Rendah hati mencegah seseorang menyebarkan data pribadi atau menjatuhkan orang lain. Sementara ketenangan pamong membantu meredam konflik di ruang digital.
Sebagai penutup, webinar ini menegaskan bahwa menjaga bangsa pada era digital tidak cukup hanya dilakukan di ruang nyata, tetapi juga harus dilakukan di ruang maya. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk saring sebelum sharing dan pikir sebelum berkomentar. Pancasila bukan sekadar teks untuk dihafal, melainkan kompas moral dan perisai digital untuk menjaga persatuan, kemanusiaan, serta keutuhan bangsa Indonesia.
Penulis:
- Nawang Wulan S.Pd.,M.Pd
- Dr. Edy Suseno, S.Pd.,M.Pd
- Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, S.Si.,M.Si
Para penulis merupakan dosen tetap IKIP Widya Darma pada program studi pendidikan: Matematika dan Bahasa Inggris.