Oleh Yohana Santiani Satri
Di era digital saat ini, arus informasi bergerak begitu cepat. Setiap hari, berbagai hal baru muncul dan tenggelam dalam hitungan jam. Video-video pendek hadir bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga mengedukasi. Banyak perempuan menggunakan ruang digital untuk berbagi pengetahuan: tentang hak-hak perempuan, pentingnya pendidikan tinggi, cara merawat diri, hingga pesan-pesan agar perempuan tidak lagi terjebak dalam rasa insecure.
Namun ironisnya, di balik gelombang edukasi yang progresif itu, masih muncul fenomena yang justru melemahkan perempuan dari dalam: perempuan merendahkan perempuan lainnya. Fenomena ini bukan hal baru, tetapi media sosial membuatnya semakin terlihat, semakin lantang, dan semakin menyakitkan.
Psikolog feminis Suzanne Degges-White (2018) menjelaskan bahwa internalized misogyny muncul ketika perempuan tumbuh dalam budaya yang terus-menerus menilai perempuan berdasarkan penampilan, kesempurnaan fisik, dan standar kecantikan yang sempit. Akibatnya, sebagian perempuan merasa perlu bersaing, membandingkan, bahkan merendahkan perempuan lain untuk mendapatkan validasi sosial.
Media sosial memperkuat pola ini. Algoritma platform digital cenderung mempromosikan konten yang memicu emosi kuat—termasuk ejekan dan perbandingan fisik. Maka tidak heran jika komentar-komentar merendahkan justru lebih cepat viral dibandingkan pesan edukatif.
Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui Objectification Theory yang dikembangkan oleh Barbara Fredrickson dan Tomi-Ann Roberts (1997). Teori ini menyatakan bahwa perempuan sering diperlakukan sebagai objek visual yang dinilai berdasarkan tubuhnya. Ketika perempuan terus-menerus melihat tubuh perempuan lain sebagai objek penilaian, mereka pun belajar menilai diri sendiri dan orang lain dengan cara yang sama.
Ungkapan seperti “bodi semok begini, di situ malah memilih ikan kering”, “rambut lurus begini, malah memilih rambut listrik”, atau “sudah dikasih yang putih, malah milih yang dekil” bertebaran di komentar, konten, bahkan candaan sehari-hari. Kalimat-kalimat ini bukan sekadar lelucon tetapi adalah bentuk penghinaan fisik yang dibungkus humor, tetapi tetap menyisakan luka.
Yang lebih menyedihkan, pelakunya sering kali adalah sesama perempuan.
Mengapa Ini Terjadi?
Fenomena ini tidak berdiri sendiri tetapi lahir dari budaya yang sejak lama menempatkan perempuan sebagai obyek penilaian. Perempuan dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh penampilan, warna kulit, bentuk tubuh, atau standar kecantikan tertentu.
Akibatnya, sebagian perempuan tumbuh dengan pola pikir kompetitif: untuk terlihat lebih baik, mereka merasa perlu merendahkan perempuan lain. Media sosial memperparahnya. Algoritma mendorong konten yang memicu emosi—termasuk ejekan, sindiran, dan perbandingan fisik.
Alih-alih menjadi ruang aman, media sosial berubah menjadi arena adu komentar yang menghakimi tubuh dan pilihan hidup perempuan lain.
Di satu sisi, banyak perempuan berjuang keras mengedukasi publik tentang pentingnya percaya diri, mencintai diri sendiri, dan menolak standar kecantikan yang mengekang. Mereka membuat konten positif, membangun ruang aman, dan mendorong perempuan lain untuk berdaya.
Namun di sisi lain, ada kelompok yang justru melakukan hal sebaliknya: merendahkan, membandingkan, dan mempermalukan. Kontradiksi ini menciptakan kebingungan sosial. Bagaimana perempuan bisa maju bersama jika sebagian dari mereka masih sibuk menjatuhkan sesama?
Penghinaan fisik bukan sekadar komentar lewat. Ini bisa: merusak kepercayaan diri seseorang, memicu kecemasan dan depresi, membuat perempuan takut tampil di ruang publik, menghambat perempuan untuk berpendapat, dan memperkuat budaya saling menjatuhkan.
Pada akhirnya, perempuan kehilangan ruang yang seharusnya menjadi milik mereka—bukan karena laki-laki mengambilnya, tetapi karena sesama perempuan saling menutup pintu.
Perempuan tidak harus selalu sepakat dalam segala hal. Perbedaan itu wajar. Tetapi merendahkan fisik, pilihan hidup, atau latar belakang perempuan lain bukanlah bentuk kebebasan berekspresi. Itu adalah kekerasan verbal yang dibungkus candaan.
Jika perempuan ingin mendapatkan ruang yang lebih luas di masyarakat, langkah pertama adalah berhenti saling melukai. Edukasi digital tidak akan berarti apa-apa jika di saat yang sama kita masih memelihara budaya saling merendahkan.
Perempuan bisa menjadi kekuatan besar ketika mereka saling mendukung. Tetapi kekuatan itu akan terus bocor jika sebagian dari mereka masih sibuk membuktikan diri dengan cara menjatuhkan yang lain.
Era digital memberi perempuan panggung yang belum pernah sebesar ini. Tetapi panggung itu hanya akan bermakna jika digunakan untuk saling menguatkan, bukan saling mengikis martabat.
Perempuan tidak harus sempurna. Tidak harus sama. Tidak harus memenuhi standar siapa pun. Yang dibutuhkan hanyalah ruang aman untuk menjadi diri sendiri—dan ruang itu hanya bisa tercipta jika sesama perempuan berhenti menjadi sumber luka bagi satu sama lain.
Biodata Penulis:
Yohana Santiani Satri | Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.