Pembelajaran IPS sebagai Upaya Menumbuhkan Sikap Toleransi terhadap Keberagaman

Mengapa perbedaan suku, agama, ras, dan budaya bisa memicu konflik? Yuk pahami pentingnya toleransi dan peran IPS dalam membentuk karakter siswa!

Oleh Shally Nafatilova Azhari

Mengapa keberagaman suku, agama, ras dan budaya sering menjadi sumber konflik di lingkungan sosial? Bahkan, perbedaan pendapat atau sudut pandang juga dapat menimbulkan konflik. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Lalu, bagaimana cara menyikapinya?

Toleransi

Oleh karena itu, sikap toleransi sangat dibutuhkan untuk menghargai ataupun menyikapi keberagaman tadi. Sebelumnya apa itu toleransi? Menurut W.J.S. Poerwadarminta dalam KBBI, arti toleransi adalah sikap menghargai dan memperbolehkan suatu pendapat atau pandangan yang berbeda. Dalam hal ini, seseorang harus memaklumi bahkan harus menghargai sesuatu yang berbeda dari orang lain dengan dirinya.

Di sinilah pendidikan memiliki peran penting. Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) menjadi fondasi awal dalam membentuk karakter anak. Salah satu mata pelajaran yang paling relevan untuk menanamkan nilai toleransi adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), karena IPS membahas kehidupan masyarakat secara langsung.

Selama ini, pelajaran IPS sering dianggap hanya berisi hafalan tentang sejarah dan prasejarah, peta dunia, kehidupan sosial, ataupun budaya di setiap daerah. Padahal, IPS memiliki peran yang jauh lebih luas, IPS bisa menjadi sarana untuk membentuk cara berpikir dan membentuk karakter siswa dalam kehidupan bermasyarakat. Memahami perbedaan, menghargai keberagaman, hidup berdampingan secara damai dan tidak mudah menghakimi maupun merendahkan orang lain hanya karena adanya perbedaan.

Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan karakter dari Thomas Lickona yang menyatakan bahwa pendidikan tidak cukup hanya membuat anak “tahu yang baik”, tetapi juga harus membuat mereka “merasakan dan melakukan yang baik”. (Yasin Alsys)

Artinya, toleransi tidak cukup hanya diajarkan sebagai teori saja, tetapi harus dialami langsung oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari agar siswa mengerti cara hidup sosial yang baik.

Studi Kasus: Ketika Perbedaan Jadi Pelajaran

Bayangkan di sebuah pondok pesantren yang tentunya berisi santri yang berasal dari latar belakang berbeda. Ada yang berasal dari suku Jawa, Sunda, dan ada juga yang dari luar daerah. Mereka memiliki kebiasaan yang berbeda, logat bicara berbeda, warna kulit yang berbeda dan tentunya kehidupan lingkungan yang berbeda pasti memiliki cara berpikir yang berbeda pula.

Di pondok pesantren itu, ada seorang anak bernama Malik. Ia sering merasa tidak nyaman saat berteman dengan teman yang berbeda kebiasaan dan berbeda latar belakang dengannya. Ia lebih memilih bermain dengan teman yang memiliki kebiasaan dan latar belakang yang sama dengannya.

Suatu hari, seorang Ustadz membagikan kamar kepada tiap santri yang berisi berbagai macam santri yang memiliki latar belakang yang berbeda tadi. Mau tidak mau, Malik harus tinggal di kamar dengan teman yang berbeda latar belakang dengannya.

Pada awalnya, suasana terasa canggung. Tapi perlahan-lahan Malik mulai membaur dan saling berbagi cerita. Ada yang bercerita tentang tradisi daerahnya yang unik, ada yang menunjukkan bahasa dengan logat khasnya, ada yang menjelaskan makanan tradisional yang sangat menarik, dan ada juga yang menjelaskan budaya turun temurun di daerahnya.

Malik mulai menyadari bahwa, perbedaan itu bukan penghalang apalagi sumber perpecahan, tapi justru membuat kehidupan lebih menarik dengan keberagaman.

Sejak saat itu, ia mengalami perubahan sikap yang sangat besar dari kebiasaan awalnya yang hanya berteman dengan teman yang memiliki latar belakang yang sama dengannya. Ia tidak lagi memilih-milih teman tapi mulai memaklumi dan menghargai perbedaan karena ia sadar bahwa perbedaan di muka bumi ini pun termasuk bentuk rahmat Tuhan.

Inilah bukti bahwa pembelajaran IPS dalam kehidupan sosial dapat menjadi pengalaman nyata dalam menumbuhkan sikap toleransi.

Peran Guru dalam Menanamkan Toleransi

Keberhasilan pembelajaran IPS pada siswa sangat bergantung pada cara guru mengajar atau memberi pengalaman terhadap siswa karena guru tidak hanya penyampai materi di dalam kelas tetapi juga menjadi suri teladan dalam sikap.

Cara ustadz dalam mengisi kamar santri dengan keberagaman latar belakangnya merupakan salah satu strategi yang efektif untuk menumbuhkan sikap toleransi karena dari cara tersebut santri mulai berlatih untuk menghargai pendapat santri lain, bisa menumbuhkan rasa empati satu sama lain, membuat kerja sama dalam menjaga ketertiban kamar, dan membuat para santri lebih paham secara emosional.

Pendekatan ini sangat sesuai dengan prinsip pembentukan karakter yang menekankan praktik langsung, bukan hanya sekadar teori.

Hal ini sejalan dengan pendidikan karakter dari Thomas Lickona yang memiliki 3 unsur pokok yaitu: mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).

Penulis:

Shally Nafatilova Azhari | Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

© Sepenuhnya. All rights reserved.