Puisi: Gandrung (Karya Kuswahyo S.S. Rahardjo)

Puisi "Gandrung" karya Kuswahyo S.S. Rahardjo mengajarkan bahwa cinta sejati adalah kemampuan untuk tetap mencintai meskipun waktu telah mengubah ...
Gandrung

Gandarung yang melekat di parasmu
tercabik oleh waktu, ketika anakcucu
riang dalam ayunan kayu pojok taman:
rajutan kasih dengan benang putus satusatu
kilau berlian penghias jemarimu

Seperempat abad itu tak lama, katamu
aku menunduk dalam rindu yang tersipu
karena berkelebatan parasmu
yang kemarin memenuhi langit bumi
tinggal sehelai mawar layu dalam tatapku

Itulah kasih pembeda harap dan nyata
Sejalan nasib yang tak tertulis dalam buku-Nya

Sumber: Astana Kastawa 2 (2015)

Analisis Puisi:

Puisi "Gandrung" karya Kuswahyo S.S. Rahardjo merupakan puisi liris yang mengangkat tema cinta, kenangan, dan perjalanan waktu. Dengan bahasa yang lembut dan penuh nuansa reflektif, penyair menggambarkan hubungan kasih yang telah melewati rentang waktu panjang hingga memasuki masa senja kehidupan.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang cinta romantis, tetapi juga tentang bagaimana waktu mengubah fisik manusia tanpa mampu menghapus kenangan dan perasaan yang pernah tumbuh di dalam hati.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta yang bertahan di tengah perjalanan waktu dan perubahan kehidupan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kerinduan, kenangan masa lalu, ketulusan kasih, serta penerimaan terhadap takdir dan usia yang terus berjalan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang sosok yang dicintainya setelah puluhan tahun menjalani kehidupan bersama. Waktu telah berlalu begitu lama hingga mereka memiliki anak dan cucu yang kini tumbuh dan bermain di taman.

Penyair melihat bahwa kecantikan dan pesona yang dahulu melekat pada orang yang dicintainya perlahan berubah karena usia. Kilau perhiasan, wajah yang dulu memikat, dan kenangan masa muda kini hanya tersisa dalam ingatan.

Meski demikian, cinta yang pernah tumbuh tidak hilang. Justru melalui perjalanan panjang itulah penyair memahami makna kasih yang sesungguhnya, yaitu cinta yang mampu bertahan melampaui perubahan fisik dan kenyataan hidup.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta sejati tidak bergantung pada kecantikan fisik atau kemegahan duniawi, melainkan pada ikatan batin yang tetap hidup meskipun waktu terus berjalan.

Penyair menunjukkan bahwa usia dapat mengubah penampilan seseorang, tetapi tidak dapat menghapus kenangan dan kasih yang telah dibangun bersama selama bertahun-tahun.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa hidup penuh dengan perbedaan antara harapan dan kenyataan. Namun kasih yang tulus mampu menjembatani keduanya sehingga seseorang dapat menerima kehidupan dengan lapang hati.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Hargailah cinta yang tumbuh dan bertahan dalam perjalanan waktu.
  • Jangan menilai kasih sayang hanya dari penampilan fisik yang bersifat sementara.
  • Terimalah perubahan yang terjadi dalam kehidupan sebagai bagian dari perjalanan manusia.
  • Kenangan indah dan kebersamaan memiliki nilai yang lebih berharga daripada kemewahan materi.
  • Jalani hidup dengan ketulusan karena tidak semua perjalanan hidup dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia.
Puisi ini mengajarkan bahwa cinta sejati adalah kemampuan untuk tetap mencintai meskipun waktu telah mengubah banyak hal.

Puisi "Gandrung" karya Kuswahyo S.S. Rahardjo merupakan refleksi puitis tentang cinta yang bertahan melintasi waktu. Melalui simbol-simbol seperti mawar layu, benang yang putus, dan ayunan anak cucu, penyair menggambarkan perjalanan hidup yang penuh perubahan. Meskipun usia dan waktu mengubah banyak hal, kasih yang tulus tetap menjadi kekuatan yang mampu menjaga kenangan dan makna kehidupan. Puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa cinta sejati tidak terletak pada keindahan fisik, melainkan pada kesetiaan dan kebersamaan yang terus tumbuh sepanjang perjalanan hidup.

Puisi
Puisi: Gandrung
Karya: Kuswahyo S.S. Rahardjo
© Sepenuhnya. All rights reserved.