Oleh Azizah Putri Janati
Sebagai manusia yang literly memiliki KTP dengan domisili ring satu di dekat Waduk Delingan atau yang nama resminya Waduk Tirtomarto, saya adalah saksi hidup dari sebuah pergeseran peradaban lokal yang sangat masif. Kalau kamu mengira tulisan ini bakal alay atau hiperbola, mohon maaf, kalian salah besar. Ini adalah kesaksian valid seratus persen tanpa rekayasa dari seorang warga lokal yang rumahnya cuma selemparan batu dari genangan air waduk.
Dulu, sebelum mengalami renovasi besar-besaran seperti sekarang, Waduk Delingan adalah perwujudan dari ketenangan yang ‘hakiki’. Suasananya sepi, syahdu, dan bener-bener cuma berfungsi sebagai infrastruktur pengairan sawah belaka. Paling-paling, keramaian hanya terjadi di waktu-waktu tertentu, itu pun didominasi oleh bapak-bapak pemancing mania berkaos partai yang hobi melamun menatap air. Warung di sekitar waduk? Bisa dihitung pakai jari satu tangan, paling cuma ada satu atau dua warung makan legendaris yang menyediakan kopi dan gorengan dingin.
Namun, mari kita lihat apa yang terjadi hari ini setelah proyek revitalisasi selesai. Begitu cuaca cerah sedikit saja, Waduk Delingan langsung berubah wujud menjadi lautan manusia. Istilah "rame banget" bahkan rasanya sudah tidak cukup lagi untuk menggambarkan kepadatannya. Waduk Delingan sekarang sudah resmi bertransformasi menjadi pusat pelarian, olahraga, dan tempat refreshing kecil-kecilan andalan warga Karanganyar yang jenuh dengan rutinitas kota.
Dampak paling ajaib dari ledakan popularitas ini adalah terjadinya fenomena melek bisnis masal di kampung saya. Dari ujung tanggul ke ujung satunya lagi, pemandangan yang tersaji sekarang adalah deretan lapak dagangan yang beranak pinak dengan kecepatan luar biasa. Ya, literly tetangga-tetangga kanan-kiri mendadak kompak banting setir menjadi pedagang es teh jumbo, dan aneka gorengan dadakan.
Variasi jajanan di sana sekarang sudah menyerupai pasar malam di Tengah Kabupaten. Mau cari apa saja ada; mulai dari aneka es berperasa, soto segar, cilok bumbu kacang, bakso bakar, sampai telur gulung yang saosnya merah menyala udah mirip kayak lava Gunung Merapi, yang anehnya masih jadi andalan pengunjung kalau mau ngemil. Dan gong dari segala gong modernisasi ini adalah munculnya "ala-ala coffee shop pinggir waduk" yang menyediakan kursi lipat camping demi memuaskan dahaga estetika anak muda zaman sekarang.
Sebagai tetangga, tentu saja saya ikut bersyukur. Alhamdulillah, waduk ini akhirnya bisa menjadi ladang rezeki yang nyata dan mengangkat roda perekonomian warga sekitar.
| Sumber: vt.tiktok.com/@Suki’s Store |
Sayangnya, di mana ada gula, di situ ada semut. Di mana ada keramaian wisata, di situ pula muncul sisi gelap yang membuat dahi warga lokal mengkerut. Minus utama yang paling bikin elus dada tentu saja adalah urusan sampah. Beberapa oknum pengunjung tampaknya menganggap bahwa cup plastik es teh jumbo dan bungkus cilok mereka bisa terurai secara ajaib di dalam air waduk, sehingga mereka dengan ringannya membuang sampah sembarangan.
Keresahan kami sebagai warlok alias warga lokal tidak berhenti di urusan sampah saja. Ada satu kelakuan pengunjung yang jujur kelakuannya sangat menguji batas kesabaran iman kami: suara berisik yang tidak tahu aturan. Entah apa yang merasuki pikiran sebagian pengunjung, mereka sering kali sengaja bolak-balik ke sana kemari di sekitar area waduk menggunakan sepeda motor yang knalpotnya sudah diganti dengan knalpot berisik bin memekakkan telinga. Suara raungan knalpot brong itu bener-bener merusak ketenangan rumah tangga warga sekitar yang berniat istirahat.
| Sumber: vt.tiktok.com/@sotopakno |
Sudah knalpotnya berisik, kalau nongkrong pun mereka sering kali lupa waktu. Banyak yang asyik mengobrol dan tertawa kencang sampai larut malam tanpa memikirkan kenyamanan warga sekitar yang besok paginya harus bangun subuh untuk beraktivitas. Ditambah lagi, pojokan-pojokan waduk yang agak remang-remang saat matahari mulai tenggelam mendadak berubah fungsi menjadi zona hijau bagi pasangan-pasangan pacaran yang berbuat mesum.
Melihat Waduk Delingan yang sekarang memang memicu perasaan campur aduk bagi saya. Di satu sisi bangga karena kampung halaman jadi ramai dan tetangga bisa kulakan modal mandiri, tapi di sisi lain rindu juga dengan ketenangan Delingan yang dulu. Akhir kata, bagi kalian yang mau berkunjung ke waduk kebanggaan kami ini, silakan datang dan boronglah dagangan tetangga saya. Tapi tolong dengan sangat: bawalah pulang sampahmu, matikan knalpot bisingmu, tahu waktu kalau nongkrong, dan tolong tahan dulu urusan asmaramu. Jangan mengotori waduk kami yang sudah estetik ini dengan kelakuan yang merugikan warga lokal.