Oleh Alya Ramadhani Umi Barokah
Siang itu, suasana masih dipenuhi sisa euphoria setelah Pemilihan Presiden Indonesia 2024. Obrolan orang-orang di sekitar masih ramai membahas hasil dan harapan kedepan. Tapi di tengah itu semua, kami punya rencana sendiri yaitu perjalanan pertama yang jauh lebih mendebarkan dari sekadar ikut membicarakan masa depan.
Kami bersiap dengan cara kami masing-masing. Tas-tas dibuka, barang dimasukkan seadanya, candaan dan tawa mulai mengisi ruangan. Tidak ada yang benar-benar tahu perjalanan kita nanti akan seperti apa, tapi itulah yang membuatnya terasa seru. Ini pertama kalinya, kami berenam memutuskan untuk pergi dengan menyetir sediri, padahal biasanya diantar oleh salah satu kakak kami. Setelah semua siap kita berangkat dan tak lupa berdoa serta meminta restu kepada orang tua.
Di Jalan: Telepon Bapak dan Cerita di Dalam Mobil
Belum juga jauh meninggalkan Solo, ponselku berdering. Nama “Bapak” muncul di layar. ”Sudah sampai mana?” Pertanyaan sederhana itu terus berulang sepanjang perjalanan. Kadang terasa seperti pengingat bahwa masih diawasi dari jauh dan menjadi sumber ketenangan. Perjalanan di dalam mobil penuh warna. Kami bernyanyi mengikuti playlist, tertawa tanpa alasan jelas, dan sesekali panik ketika hampir salah arah. Duduk di balik setir terasa berbeda karena ada tanggung jawab, tapi juga kebanggaan kecil setiap kali berhasil melewati jalan yang panjang.
Sampai di Gunung Kidul: Pantai Watu Bolong dan Rasa Bebas
Setelah menempuh perjalanan panjang yang disertai banyak drama, akhirnya sampai di kawasan Gunung Kidul, rasa lelah langsung tergantikan oleh pemandangan yang terbuka luas. Kami menuju salah satu Pantai, yaitu Pantai Watu Bolong yang langsung menyambut kami dengan angin laut yang kencang dan suara ombak yang menenangkan.
Kami melepas sepatu, berjalan di pasir, dan duduk menikmati pemandangan yang terbuka luas. Di momen itu, kami juga makan bersama di tepi pantai dengan bekal makanan sederhana yang disiapkan dengan penuh perhatian oleh mama teman saya. Di tengah suasana pantai yang menenangkan, makanan sederhana itu pun terasa jauh lebih bermakna.
Kami tertawa, bercerita, dan menikmati semuanya tanpa terburu-buru. Untuk beberapa jam dunia terasa sangat sederhana--hanya kami, makanan, laut, dan kebebasan yang jarang kami rasakan.
Perjalanan Pulang: Saat Sinyal Menghilang
Namun perjalanan pulang membawa cerita yang sama sekali berbeda. Saat hari sudah mulai gelap, kami memutuskan kembali memutuskan kembali. Awalnya semua berjalan lancar, hingga tiba-tiba sinyal di ponsel menghilang, aplikasi peta yang kami andalkan berhenti bekerja. Jalanan mulai terasa asing. Tanpa sadar, kami masuk ke sekitar area Pantai Krakal. Gelap. Sangat gela. Hanya lampu mobil yang menerangi jalan sempit di depan kami. Tidak ada kendaraan lain, tidak ada suara selain angin dan mesin mobil. Suasana yang tadi penuh tawa kini perlahan berubah menjadi tegang. "Kita bener nggak sih lewat sini?" pertanyaan itu muncul berkali-kali, tapi tidak ada yang benar-benar punya jawaban.
Tersesat dan Jalan Ekstrem yang Tak Terlupakan
Kami sempat berhenti beberapa kali, mencoba mencari arah dengan mengandalkan insting. Dalam kegelapan dan ketidakpastian itu, kami belajar untuk saling percaya satu sama lain. Setelah berputar cukup lama. Namun jalan itu justru terasa sepi, panjang, dan seperti tidak berujung. Lalu kami menemukan jalan pintas. Awalnya terdengar seperti solusi, tapi ternyata jalan itu sempit, gelap, dan hanya cukup untuk satu mobil. Di kanan kiri hanya ada bayangan pepohonan dan jurang yang tidak terlihat jelas. Kami melewatinya perlahan, hampir tanpa suara. Tidak ada yang bercanda lagi. Tidak ada yang bernyanyi. Semuanya fokus dan diselimuti sedikit rasa takut yang tidak diucapkan.
Akhir Perjalanan: Lebih dari Sekadar Liburan
Kami berhasil melewati tikungan tajam dan ketegangan yang ada hingga akhirnya kembali ke jalan yang lebih aman. Saat itu, tanpa perlu banyak kata kami semua tahu bahwa baru saja yang sudah terjadi akan menjadi pengalaman yang tidak akan kami lupakan.
Perjalanan ini bukan hanya tentang sampai di tujuan atau bersenang-senang di Pantai Watu Bolong. Tapi tentang keberanian yang muncul di saat hal yang tidak terduga, rasa takut yang kita hadapi bersama, dan tentang kepercayaan yang ada sepanjang perjalanan.
Dan mungkin benar, yang paling kami ingat bukanlah pantainya atau jalan yang kami lewati, melainkan bagaimana kita pergi untuk pertama kalinya tanpa diantar oleh orang tua atau kakak kami, tetapi kami benar-benar merasa bisa mengandalkan diri kami sendiri dan satu sama lain.
Penulis:
Alya Ramadhani Umi Barokah lahir pada tanggal 5 Oktober 2006 | Mahasiswa Universitas Sebelas Maret.