Oleh Yollanda Nabilla Suswantri
Kita adalah dua insan yang dipersekusi. Bukan oleh tangan yang kasar, bukan oleh suara yang menghardik. Tapi oleh hal-hal yang terlalu sunyi untuk disebut kekerasan. Waktu yang berlalu tanpa permisi, jarak yang tumbuh diam-diam, dan dunia yang selalu terburu-buru meminta jawaban.
Mengapa kita harus dipertemukan, di tengah senja yang belum memutuskan, antara gelap dan terang, antara runtuh dan pulih. Seolah semesta sengaja menguji dan memisahkan, sebelum sempat memberi ruang kita untuk saling mengerti. Pertemuan itu datang terlalu cepat, di tengah badai yang belum reda, seperti menanam bunga di tanah yang masih diguncang gempa.
Ada maaf yang tidak terucap. Maaf karena harus bertemu dengan jiwa yang serapuh ini. Maaf karena menghadirkan cinta di saat dunia belum bersahabat. Dan akhirnya kita pun saling melepas, namun melepaskan pun adalah bentuk cinta. Karena cinta bukan hanya tentang menggenggam, tapi juga tentang tidak ingin melihat seorang yang dicintainya ikut terluka saat semesta keras menghantamnya.
Kita dipaksa memilih antara menjadi benar atau menjadi diri sendiri, dan keduanya terasa seperti penghianatan. Persekusi itu datang tanpa tanda. Ia menyusup lewat bisikan ”kamu tidak benar, kamu harusnya begini”. Ia menempel di bahu, menekan pelan-pelan sampai nafas lebih berat dari biasanya. Ia mengikis sedikit demi sedikit, sampai datang keraguan yang tidak berani disebut luka. Luka yang ada di antara kita bukanlah luka yang terlihat, luka itu lebih dalam dan senyap.
Luka karena waktu yang tidak selaras. Cinta itu ada, tapi waktunya salah. Salah satu sudah siap, yang satu masih berantakan, luka karena harus menahan dan sadar harus melepas, akhirnya kita mengerti bahwa kadang cinta nggak cukup buat bikin dua orang bersama. Harus ikhlas ngasih orang yang kamu sayang pergi, bukan karena nggak cinta. Tapi karena cinta itu mengajarkan kamu buat nggak maksa keadaan. Karena sejatinya hidup itu nggak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Membiarkan dia tumbuh dan mekar. Melihatnya tersenyum atas pencapaian dan usahanya, sehat dan bahagia itu sudah lebih dari cukup, meskipun kita menjadi masing-masing.
Sebenarnya ini adalah bentuk cinta paling dewasa yang bisa kita kasih, poin utama yang kita pilih adalah ada batasan yang kita jaga, bukan karena nggak ada cinta, tapi kita takut akan yang menciptakan kita. Kita memilih mundur selangkah agar langkah kita tetap lurus ke arah rida-Nya. Tuhan yang menciptakan kita. Jika memang kita ditakdirkan bersama biarlah tuhan yang menuntun kita dengan caranya, jika pun kita tidak ditakdirkan untuk bersama maka biarlah tuhan memperkenalkan kita sebagai bagian dari kisah hidup kita masing-masing.
Lihatlah sekarang, dari semua yang mencoba mematahkan, kita masih bisa berdiri dengan cara kita masing-masing. Luka tidak membuat kita runtuh, luka membuat kita belajar bahasa baru. Bahasa tatap yang lebih jujur dari penjelasan, bahasa diam yang lebih jujur dari penjelasan. Di tengah bising yang terus menuntut, kita masih saling menoleh. Seolah berkata tanpa suara ”kita masih di sini”.
Kita belajar bahwa sembuh bukan berarti lupa akan lukanya. Akan tetapi, sembuh berarti berdamai dengan lukanya. Seperti retakan di tembikar Jepang, luka kita kini berkilau dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh yang tak pernah terluka.
Waktu boleh terus berlari, dunia boleh terus menuntut. Tapi kita sudah tahu yang dipersekusi tidak selalu kalah. Justru yang paling tahu cara bertahan. Dan lebih dari itu, jadi paling tahu cara tumbuh. Bukan ke arah yang diminta dunia, tapi ke arah cahaya yang kita pilih sendiri.
Kadang seseorang hadir dengan cinta bukan untuk tinggal, tapi untuk mengajarkan suatu hal. Ia datang ketika badai ada, lalu pergi meninggalkan fajar di dalam diri kita. Bersama bukan satu-satunya bentuk cinta. Kadang, bentuk paling jujur dari cinta adalah menjadi pelajaran yang membuat kita akhirnya tahu caranya mencintai diri sendiri.
Di ujung hari, kita tidak lagi bertanya mengapa harus dipertemukan di waktu yang salah. Tapi kita bertanya apa yang bisa tumbuh dari luka yang ada. Dan jawabnya adalah perlahan mulai bersemi lagi.
Penulis:
Yollanda Nabilla Suswantri lahir pada tanggal 16 Juli 2006.