English-Medium yang Sehat: Anak Fasih Tanpa Lupa Akar Budaya

Mengapa banyak anak fasih berbahasa Inggris, tetapi mulai menjauh dari bahasa ibu? Simak cara menjaga keseimbangan bahasa dan akar budaya sejak dini.

Seorang ibu pernah bercerita dengan nada yang sulit dijelaskan, campuran antara bangga dan sedih. Anaknya, delapan tahun, mempresentasikan di depan kelas dengan bahasa Inggris yang mengalir tanpa jeda. Semua orang tua bertepuk tangan. Malamnya, saat neneknya menelepon dari Solo dan bertanya kabar dalam bahasa Jawa, anak itu hanya diam, lalu menyerahkan telepon kembali kepada ibunya. Kefasihan yang satu tumbuh subur, yang lain diam-diam mengering.

English-Medium

Cerita seperti ini semakin sering terdengar di keluarga Jakarta yang menyekolahkan anaknya di sekolah berbahasa pengantar Inggris. Dan kegelisahan yang muncul sepenuhnya masuk akal. Orang tua ingin anaknya siap bersaing di dunia yang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa kerja, sekaligus tetap menjadi anak yang bisa bercanda dengan sepupunya di kampung halaman, mengerti sopan santun keluarga, dan tahu dari mana ia berasal. Pertanyaannya, apakah keduanya benar-benar harus saling mengorbankan?

Penelitian bahasa selama puluhan tahun justru menunjukkan sebaliknya. Anak kecil punya kapasitas luar biasa untuk menampung lebih dari satu bahasa sekaligus, dan bahasa ibu yang kuat biasanya membantu, bukan menghambat, penguasaan bahasa kedua. Anak yang punya kosakata kaya dalam bahasa Indonesia lebih mudah memahami konsep abstrak dalam bahasa Inggris, karena ia sudah memiliki gagasannya di kepala dan tinggal memasangkan kata baru padanya. Masalah muncul bukan karena ada dua bahasa, melainkan karena salah satunya ditinggalkan.

Di sinilah letak perbedaan antara sekolah yang sekadar berbahasa Inggris dan sekolah yang benar-benar sehat secara kebahasaan. Yang pertama memperlakukan bahasa Indonesia sebagai gangguan yang harus dikurangi. Yang kedua memperlakukannya sebagai aset yang perlu dirawat. Perbedaan sikap ini kelihatan dari hal-hal kecil, misalnya apakah anak merasa malu saat memakai bahasa Indonesia di koridor, atau justru merasa itu wajar dan tidak ada yang perlu disembunyikan.

Perbedaan itu juga terlihat dari cara sekolah memperlakukan pelajaran bahasa Indonesia. Di sebagian tempat, mata pelajaran ini diperlakukan sebagai kewajiban administratif yang dikerjakan seadanya, dengan jam yang tersisa dan bahan yang tidak menantang. Di tempat lain, bahasa Indonesia diajarkan dengan tuntutan yang sama seriusnya, lengkap dengan bacaan sastra, latihan menulis argumen, dan diskusi yang menghargai kedalaman. Anak menangkap sinyal ini dengan sangat cepat. Ia tahu pelajaran mana yang dianggap penting oleh orang dewasa di sekitarnya, dan ia akan menyesuaikan diri dengan penilaian itu tanpa perlu diberi tahu.

Ada juga sisi yang lebih halus, yaitu bahasa membawa nilai. Cara kita menyapa orang yang lebih tua, memilih kata agar tidak menyinggung, atau menahan diri saat berbeda pendapat, semuanya melekat pada bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Ketika seorang anak kehilangan bahasa ibunya, yang hilang bukan hanya kosakata. Yang ikut memudar adalah cara terhalus untuk terhubung dengan kakek neneknya, dengan tetangganya, dengan tempat yang membentuk keluarganya. Kemampuan berbahasa Inggris tidak akan pernah bisa menggantikan itu.

Kabar baiknya, kurikulum internasional yang dijalankan dengan benar sebenarnya berpihak pada keseimbangan ini. Baik International Baccalaureate maupun Cambridge menempatkan pemahaman lintas budaya sebagai bagian inti, bukan hiasan. Anak diminta melihat sebuah persoalan dari sudut pandang yang berbeda-beda, dan untuk bisa melakukan itu ia justru perlu punya pijakan budayanya sendiri. Anak yang tidak mengenal akarnya cenderung menyerap apa saja tanpa saringan. Anak yang mengenal akarnya bisa membandingkan, memilih, lalu berdiri di atas keyakinannya sendiri.

Di Global Sevilla, pembelajaran berlangsung dalam kerangka IB, Cambridge dari CIE-UK, dan IGCSE pada Grade 9 dan 10, sementara pendekatan mindfulness dijalin ke dalam keseharian anak. Latihan sadar penuh itu punya kaitan yang mungkin tidak langsung terlihat dengan urusan bahasa. Anak yang terbiasa memperhatikan dirinya sendiri lebih peka pada bagaimana ia berbicara, pada siapa lawan bicaranya, dan pada perasaan orang lain. Kepekaan itulah yang membuat seorang anak bisa berpindah dari presentasi berbahasa Inggris di kelas ke percakapan hangat dengan neneknya tanpa merasa canggung di salah satunya.

Ada baiknya juga Anda menurunkan sedikit kecemasan soal kecepatan. Banyak orang tua panik ketika anaknya di tahun pertama terlihat lebih pendiam, atau ketika ia mencampur dua bahasa dalam satu kalimat. Keduanya normal. Anak yang sedang membangun dua sistem bahasa sekaligus sering melewati masa tenang, tempat ia menyerap banyak hal sebelum berani mengeluarkannya. Mencampur kata juga bukan tanda kebingungan, melainkan tanda otak yang sedang mencari kata paling tepat dari dua perbendaharaan sekaligus. Yang justru perlu diwaspadai adalah bila anak mulai menolak memakai bahasa ibunya karena merasa bahasa itu kurang bergengsi. Di titik itu, yang perlu diperbaiki bukan kemampuannya, melainkan sikap lingkungan di sekitarnya.

Sebagian pekerjaan ini juga ada di rumah, dan bagian itu tidak bisa didelegasikan ke sekolah mana pun. Bicaralah dengan anak dalam bahasa Indonesia yang utuh dan kaya, bukan yang dipotong-potong. Bacakan cerita rakyat, ajak ia mengobrol dengan keluarga besar, biarkan ia mendengar bahasa daerah meski belum lancar memakainya. Anak belajar bahasa dari orang yang ia sayangi, bukan dari buku pelajaran. Sekolah bisa membangun kemampuan akademiknya, tetapi kehangatan bahasa ibu tumbuh di meja makan keluarga Anda.

Konsistensi jauh lebih menentukan daripada intensitas. Lebih baik dua puluh menit percakapan yang sungguh-sungguh setiap hari daripada satu akhir pekan penuh usaha lalu berhenti sebulan. Bahasa hidup dari pemakaian yang berulang, dalam suasana yang menyenangkan, tanpa nada mengoreksi yang membuat anak takut salah. Anak yang merasa aman berbicara akan terus berbicara, dan dari situlah kefasihan tumbuh dengan sendirinya.

Yang paling ingin Anda lihat pada akhirnya bukan anak yang menang lomba pidato bahasa Inggris. Yang ingin Anda lihat adalah anak yang bisa menjelaskan gagasannya dengan percaya diri kepada siapa pun, di mana pun, tanpa kehilangan dirinya sendiri. Anak yang tidak perlu memilih antara menjadi warga dunia dan menjadi anak Indonesia, karena ia sudah terbiasa menjadi keduanya sekaligus sejak kecil.

Cara paling jujur untuk menilai apakah sebuah sekolah menjalankan keseimbangan ini adalah dengan datang dan mendengarkan sendiri. Perhatikan bagaimana anak-anak berbicara satu sama lain saat istirahat, bahasa apa yang mereka pilih, dan apakah mereka terlihat nyaman berpindah di antara keduanya. Hadirlah di sesi open house kampus Puri Indah, Jakarta Barat, ajukan pertanyaan Anda kepada guru yang mengajar langsung, dan amati suasananya dengan tenang. Anda bisa lebih dulu mengenal program dan jenjangnya melalui halaman international school jakarta, lalu putuskan setelah Anda benar-benar melihatnya dengan mata sendiri.

© Sepenuhnya. All rights reserved.