Fenomena Budaya Flexing di Media Sosial dan Pengaruhnya terhadap Nilai Sosial Siswa Sekolah Dasar

Benarkah flexing bisa memengaruhi cara anak memandang diri dan teman-temannya? Yuk simak pembahasannya dan temukan langkah bijak mendampingi mereka.

Oleh Dzira Vania Putri Purnomo

Budaya flexing sekarang semakin sering kelihatan di kehidupan digital, apalagi sejak media sosial jadi tempat utama buat nunjukin diri. Flexing itu bisa dibilang kebiasaan pamer entah itu soal uang, barang, prestasi, atau gaya hidup biar dilihat keren dan dapet pengakuan dari orang lain. Dengan perkembangan teknologi yang makin cepat, anak-anak sekolah dasar juga jadi ikut terpapar sejak dini. Apalagi penggunaan gadget sekarang udah jadi hal yang biasa banget dalam aktivitas sehari-hari, jadi tren-tren di media sosial pun gampang masuk ke dunia mereka. Ditambah lagi, jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai sekitar 167 juta orang bikin penyebaran tren seperti ini makin luas dan cepat (Pakpahan & Yoesgiantoro, 2023).

Flexing

Di sisi lain, anak-anak sekarang nggak cuma jadi penonton di media sosial, tapi juga mulai aktif bikin konten sendiri. Mereka upload foto, video, atau cerita tentang kehidupan mereka sebagai bentuk ekspresi diri. Menurut Rachmadyanti (2024), anak-anak di era digital memang tumbuh sangat dekat dengan teknologi, sehingga gadget bukan lagi sekadar alat hiburan, tapi juga jadi media untuk menunjukkan siapa diri mereka. Hal ini bikin mereka lebih mudah terpengaruh oleh apa yang lagi tren, termasuk budaya flexing yang sering mereka lihat di berbagai platform.

Karena anak-anak masih dalam tahap pembentukan karakter, apa yang mereka lihat di media sosial cenderung langsung ditiru tanpa banyak pertimbangan. Nilai-nilai yang berkembang di dunia digital, termasuk kebiasaan flexing, bisa dengan cepat masuk ke pola perilaku mereka. Kalau nggak ada pendampingan yang tepat, mereka bisa mulai menilai diri sendiri dan orang lain hanya dari apa yang terlihat di permukaan, seperti barang yang dimiliki atau gaya hidup yang ditampilkan. Inilah kenapa penting banget ada arahan supaya mereka bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan nggak gampang ikut-ikutan tren yang belum tentu berdampak baik.

Bentuk flexing pada siswa sekolah dasar cenderung sederhana namun memiliki makna simbolik yang kuat dalam pergaulan mereka. Misalnya, memamerkan barang-barang baru seperti sepatu bermerek, tas sekolah dengan karakter populer, atau gadget terbaru yang dimiliki. Selain itu, ada pula yang menunjukkan aktivitas tertentu seperti liburan ke tempat wisata, makan di restoran cepat saji, atau memiliki mainan mahal. Dalam ruang digital, perilaku ini muncul melalui unggahan foto, video pendek, atau story yang menampilkan apa yang dianggap menarik dan bernilai tinggi di mata teman sebaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa barang dan aktivitas tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi simbol status sosial dalam lingkungan pergaulan anak-anak (Pakpahan & Yoesgiantoro, 2023).

Menurut (Uyun, 2025), flexing berfungsi sebagai strategi untuk membangun identitas sosial dan meningkatkan rasa percaya diri. Dalam batas tertentu, perilaku ini dapat memberikan motivasi bagi individu untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Namun, pada anak sekolah dasar, pemahaman terhadap makna tersebut belum sepenuhnya matang, sehingga flexing lebih sering dimaknai sebagai ajang pembuktian diri di hadapan teman-temannya. Hal ini berpotensi menimbulkan tekanan sosial, terutama bagi anak-anak yang tidak memiliki akses terhadap hal-hal yang dipamerkan oleh teman sebayanya.

Dampak dari fenomena ini tidak hanya bersifat individual, tetapi juga memengaruhi hubungan sosial di lingkungan sekolah. Kemudian (Wahidah & Khodijah, 2024) menjelaskan bahwa flexing dapat mendorong munculnya perilaku konsumtif dan kecenderungan menilai seseorang berdasarkan penampilan luar. Pada siswa sekolah dasar, hal ini dapat terlihat dari munculnya perbandingan sosial, rasa iri, hingga kecenderungan memilih teman berdasarkan kepemilikan barang tertentu. Interaksi sosial yang seharusnya dibangun atas dasar kebersamaan dan empati perlahan bergeser menjadi kompetisi simbolik yang tidak sehat.

Selain itu, penggunaan gadget yang tidak terkontrol juga memperkuat dampak tersebut. Penggunaan teknologi secara berlebihan pada anak dapat menyebabkan penurunan interaksi sosial secara langsung. Ketika anak lebih fokus pada dunia digital dan validasi dari media sosial, nilai-nilai sosial seperti kerja sama, kepedulian, dan kejujuran berpotensi mengalami penurunan. Situasi ini menunjukkan bahwa flexing bukan hanya persoalan gaya hidup, tetapi juga berkaitan erat dengan pembentukan karakter sosial anak.

Fenomena ini memerlukan perhatian dari berbagai pihak, terutama orang tua dan guru sebagai lingkungan terdekat anak. Edukasi mengenai etika penggunaan media sosial atau netizenship menjadi langkah penting agar anak mampu memahami batasan dalam berbagi konten digital. Pembatasan waktu penggunaan gadget serta dorongan untuk melakukan aktivitas di luar ruang digital juga dapat membantu anak membangun keseimbangan dalam kehidupan sosialnya. Pendampingan yang konsisten akan membantu anak memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh sikap dan perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya flexing di media sosial menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan modern. Kehadirannya pada siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa arus digital memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pembentukan nilai sosial sejak usia dini. Pemahaman yang tepat serta pendampingan yang berkelanjutan menjadi kunci agar anak-anak mampu menggunakan media sosial secara bijak tanpa kehilangan nilai-nilai sosial yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Referensi:

  • Pakpahan, R., & Yoesgiantoro, D. (2023). Analysis of the influence of flexing in social media on community life. Journal of Information System, Informatics and Computing, 7(1), 173–178. https://doi.org/10.52362/jisicom.v7i1.1093
  • Rachmadyanti, P. (2024). Fenomena anak SD dengan gadget: Perspektif membentuk kebiasaan positif. https://pgsd.fip.unesa.ac.id/post/fenomena-anak-sd-dengan-gadget-perspektif-membentuk-kebiasaan-positif
  • Uyun, K. (2025). Analisis flexing di media sosial: Citra, konsumsi, dan hubungan sosial Gen Z. Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial, 9(2), 30–38. http://dx.doi.org/10.30829/komunikologi.v9i2.26583
  • Wahidah, J. N., & Khodijah, K. (2024). Fenomena flexing di medsos: Dampaknya pada hubungan sosial dan ekonomi. Hidmah: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, 2(1), 22. https://doi.org/10.55102/hidmah.v2i1.5850

Penulis:

Dzira Vania Putri Purnomo | Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.