Ketika Gadget Menggantikan Teman: Minimnya Interaksi Sosial pada Anak Sekolah Dasar

Benarkah gadget mulai menggantikan peran teman masa kecil? Yuk simak bagaimana layar perlahan mengubah cara anak bermain, belajar, dan bersosialisasi.

Oleh Zahrotul Aulia

Dulu, pulang sekolah itu bukan waktu untuk istirahat, melainkan itu tanda resmi bahwa waktunya hidup dimulai. Tas belum sempat dirapikan, sepatu dilepas sembarangan, bahkan sampai lupa makan, diomelin orang tua? Sering, tujuannya jelas, untuk bermain dan ketemu teman.

Gadget

Mainnya pun sederhana seperti adu kelereng, petak umpet, gobak sodor, bentengan, tapi entah kenapa selalu seru, bahkan hanya ngobrol pun terasa seru kalau lagi kumpul bareng teman, walau ujungnya cuma bahas hal random, ketawa hal receh yang sebenarnya nggak lucu banget.

Kena tegur orang tua karena nggak ingat pulang pun sudah hal biasa bagi kami, ribuan omelan pun sudah kebal rasanya demi bertemu teman, karena memang di situlah letak bahagianya, punya rasa “ada teman” yang sangat terkesan.

Posisi Teman Tergantikan oleh Gadget

Sekarang? Udah beda lagi, pulang sekolah bukan teman yang dicari, tapi “Mah HP aku mana”. Udah nggak ada tuh cepet-cepet keluar rumah buat main, yang ada malah adu cepat login mabar game online.

Kalau dulu sibuk adu layangan, sekarang sibuk rebutan wifi, kalau dulu manggil teman di depan rumahnya, sekarang simpel, tinggal kirim pesan “ayo mabar”.

Lapangan yang dulu selalu ramai dengan anak-anak yang bermain, sekarang sepi. Ada juga yang tetap kumpul sih, tapi ya pada sibuk dengan gadget masing-masing. Terlihat bareng memang, tapi sebenarnya sendiri-sendiri.

Nggak ada yang ngobrol, nggak ada yang bercanda, semua sibuk dengan layar masing-masing. Ketawa hal receh sama teman dengan langsung dulu sering, sekarang hanya kirim emoji, udah cukup. Simpel sih, tapi seperti ada yang hilang.

Kejadian seperti ini sudah sering dibahas dalam berbagai kajian tentang perubahan perilaku anak di era digital, yang mana interaksi telah tergantikan oleh gadget. Ini sering terjadi sebenarnya di sekitar kita, tapi terkadang kita menganggap itu hal yang sepele.

Pertanyaannya sekarang: jangan-jangan, teman sudah mulai kalah sama layar?

Ketika Interaksi Jadi Mewah

Ini bukan tentang orang dewasa yang ingin flashback ke masa kecil, lalu terlihat lebay. Banyak pembahasan tentang perkembangan anak, disebutkan bahwa interaksi langsung sangat punya peran penting dalam membentuk kemampuan sosial. 

Pada dasarnya kemampuan sosial jelas tidak muncul dengan sendirinya, hal ini tumbuh dari interaksi dengan teman sebayanya, anak harus lebih sering dikenalkan dengan berinteraksi dengan orang lain, bukan dengan layar gadget. Karena secanggih apapun gadget, dia nggak pernah mengajarkan apa arti salah, berbagi, meminta maaf, memahami perasaan orang lain, dan sampai tahu kapan kita harus meminta maaf. 

Riset dari Kemendikbud juga pernah menyoroti hal yang sama: anak-anak yang terlalu lama menatap layar cenderung lebih pasif secara sosial. Masalahnya, ketika peran interaksi ini mulai tergeser oleh gadget, ruang belajar itu ikut menyempit. Anak memang tetap “aktif”, tapi lebih banyak di dunia layar. Sementara kemampuan yang seharusnya terbentuk dari hubungan nyata justru pelan-pelan berkurang.

Kalau kita lihat dari sudut pandang perkembangan anak, proses ini bukan suatu yang instan, anak seumuran sekolah dasar, sangat perlu berinteraksi langsung dengan teman sebayanya, tidak hanya dengan keluarga saja.

Untuk apa? Agar mereka pelan-pelan memahami aturan sosial seperti kapan harus berbagi, bagaimana menyikapi konflik kecil tanpa harus selalu bergantung pada orang dewasa.

Banyak pendapat yang mengatakan, pada anak-anak sekolah dasar, mereka sedang mengalami proses perkembangan dalam tahap menjelajahi dan berinteraksi secara langsung dengan dunia di sekitar mereka. Anak-anak sekolah dasar umumnya memiliki kecenderungan untuk menikmati berbagai hal baru yang mereka temukan melalui permainan.

Sering kali, mereka juga bermain dan memenuhi rasa ingin tahu mereka dengan menggunakan gadget, karena gadget dianggap menarik, terutama dengan adanya aplikasi permainan online yang ada di dalamnya.

Masalahnya, ketika ruang interaksi ini mulai berkurang, proses belajar itu ikut terhambat. Anak jadi lebih jarang menghadapi situasi sosial yang nyata. Akibatnya, kemampuan seperti berkomunikasi, berempati, dan beradaptasi dengan lingkungan baru bisa berkembang lebih lambat.

Dan di sinilah, tanpa disadari, peran teman yang seharusnya jadi “media belajar sosial” mulai tergantikan oleh layar yang memang nyaman, tapi nggak pernah benar-benar menantang anak untuk tumbuh.

Gadget memang selalu ada. Nggak pernah nolak diajak “main”, nggak pernah capek, dan nggak bakal ngambek. Nggak akan tiba-tiba pulang duluan, nggak akan bikin kesel karena curang, dan nggak akan diam gara-gara lagi ngambek.

Kedengarannya enak, kan? tapi justru di situ masalahnya.

Karena hidup nggak pernah “seenak” itu. Dan justru dari hal-hal yang nggak enak itulah anak belajar banyak.

Ada riset pendidikan mengatakan bahwa gadget nggak bisa ngajarin cara berbagi. Nggak ngerti rasanya kalah. Apalagi ngajarin minta maaf fitur itu belum ada, dan mungkin nggak akan pernah ada.

Akhirnya, anak jadi lebih nyaman sendiri. Bukan karena nggak butuh teman, tapi karena sudah terbiasa ditemani layar. Pelan-pelan, interaksi langsung berkurang, rasa peka ikut menipis, dan ngobrol tatap muka jadi terasa canggung.

Bukan cuma cara main yang berubah. Cara berhubungan dengan orang lain juga ikut berubah, dan itu yang diam-diam paling mengkhawatirkan.

Memang sudah sewajarnya anak dikenalkan dengan gadget yang ada sekarang agar anak tidak ketinggalan perkembangan zaman. Namun tentunya hal tersebut tidak terlalu berlebihan dalam mengenalkannya. 

Pada akhirnya, gadget memang bukan musuh. Ia cuma terlalu nyaman untuk ditinggali. Terlalu mudah diakses, terlalu menarik, dan terlalu “mengerti” keinginan kita. Tapi begitu anak-anak lebih betah di layar daripada di dunia nyata, di situlah yang mulai bermasalah.

Karena masa kecil bukan cuma soal hiburan, tapi soal belajar jadi manusia: berbagi, ribut, kalah, menang, lalu baikan lagi. Belajar memahami orang lain, belajar sabar, dan belajar menerima hal-hal yang nggak selalu sesuai keinginan.

Hal-hal yang nggak akan pernah diajarin layar, seberapa canggih pun itu.

Jadi mungkin, yang perlu dijaga bukan cuma waktu pakai gadget, tapi juga ruang buat anak-anak tetap punya teman, tawa, dan cerita di dunia nyata. Ruang untuk berinteraksi, untuk gagal, untuk belajar, dan untuk tumbuh bersama orang lain.

Karena pada akhirnya, yang bikin masa kecil dikenang itu bukan seberapa canggih gadgetnya, tapi seberapa sering kita lupa pulang karena terlalu asyik punya teman.

Referensi:

  • Kurniawati, N., dkk. (2023). Dampak Gadget terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Sekolah Dasar. Elementary School Journal PGSD FIP UNIMED. https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/elementary/article/view/46716
  • Sari, D., dkk. (2024). Eksplorasi Aktivitas Bermain Anak pada Lingkungan Outdoor Sekolah Dasar. Jurnal SARGA. https://jurnal2.untagsmg.ac.id/index.php/sarga/article/view/802

© Sepenuhnya. All rights reserved.