Oleh Muhammad Faiq Rizqi
Di era digital, media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Berbagai informasi, tren, dan aktivitas orang lain dapat diakses dengan mudah hanya melalui layar ponsel. Di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal informasi, pengalaman, atau momen yang sedang dinikmati orang lain.
Sekilas FOMO mungkin terlihat sebagai hal yang biasa, tetapi kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan menilai dirinya sendiri. Tidak sedikit orang yang merasa cemas atau kurang puas dengan hidupnya setelah melihat kehidupan orang lain di media sosial. Oleh karena itu, penting untuk memahami FOMO dari sudut pandang psikologis agar fenomena ini tidak dianggap sekadar tren, melainkan sebagai isu yang juga berkaitan dengan kesehatan mental.
Deskripsi Fenomena
Fenomena FOMO dapat dilihat dari kebiasaan banyak orang yang terus memeriksa media sosial agar tidak ketinggalan informasi atau tren yang sedang populer. Kehadiran media sosial membuat seseorang selalu ingin mengetahui aktivitas yang dilakukan orang lain, bahkan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, FOMO sering muncul ketika seseorang melihat teman-temannya meraih prestasi, mengikuti kegiatan tertentu, atau membagikan pengalaman menarik di media sosial. Tidak sedikit yang kemudian merasa tertinggal, meskipun sebenarnya setiap orang memiliki kondisi dan perjalanan hidup yang berbeda.
Fenomena ini juga banyak dibahas dalam berbagai pemberitaan karena berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa FOMO bukan hanya persoalan penggunaan media sosial, tetapi juga fenomena sosial yang semakin sering dialami masyarakat modern.
Analisis Antropologis
Fenomena FOMO tidak hanya dapat dipahami dari sisi psikologi, tetapi juga dapat dianalisis melalui perspektif antropologi yang mempelajari hubungan antara manusia dan budayanya. Dalam masyarakat digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari budaya sehari-hari yang memengaruhi cara individu berinteraksi, membentuk identitas, dan memperoleh pengakuan sosial. Apa yang dianggap penting, menarik, atau bernilai sering kali dibentuk melalui berbagai informasi yang beredar di ruang digital.
Menurut Clifford Geertz, budaya merupakan sistem makna yang digunakan manusia untuk memahami kehidupan sosialnya. Dalam konteks FOMO, media sosial dapat dipandang sebagai ruang yang penuh dengan simbol dan makna. Unggahan tentang pencapaian, gaya hidup, atau aktivitas tertentu sering diartikan sebagai tanda kesuksesan dan kebahagiaan. Akibatnya, banyak orang merasa perlu mengikuti standar tersebut agar tidak dianggap tertinggal dari lingkungan sosialnya.
Sementara itu, Bronislaw Malinowski menjelaskan bahwa berbagai perilaku manusia pada dasarnya muncul untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Dari sudut pandang ini, FOMO dapat dipahami sebagai upaya individu untuk memenuhi kebutuhan sosial, seperti diterima dalam kelompok, mendapatkan perhatian, dan menjaga hubungan dengan orang lain. Keinginan untuk selalu terhubung membuat seseorang terus mengikuti perkembangan yang terjadi di sekitarnya, terutama melalui media sosial.
Namun, kebutuhan untuk terus mengikuti perkembangan sosial tidak selalu memberikan dampak positif. Ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain, muncul perasaan tidak puas, cemas, bahkan rendah diri. Hal ini menunjukkan bahwa budaya digital tidak hanya menciptakan peluang untuk berinteraksi, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial yang sebelumnya tidak dirasakan secara langsung.
Dengan demikian, FOMO dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara kebutuhan sosial manusia dan budaya digital yang berkembang saat ini. Dari perspektif antropologi, fenomena ini bukan sekadar masalah individu, melainkan bagian dari perubahan budaya yang membentuk cara masyarakat memandang keberhasilan, kebahagiaan, dan penerimaan sosial.
Relevansi dengan Tasawuf dan Psikoterapi
Jika dilihat dari aspek kesehatan mental, FOMO dapat memicu berbagai perasaan negatif seperti cemas, gelisah, tidak puas terhadap diri sendiri, hingga stres akibat terus membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain. Ketika seseorang terlalu fokus pada apa yang dimiliki atau dicapai orang lain, ia cenderung mengabaikan potensi dan pencapaiannya sendiri.
Dalam perspektif spiritualitas Islam, fenomena FOMO menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan ketenangan batin. Tasawuf mengajarkan nilai qana'ah, yaitu sikap merasa cukup dan menerima apa yang telah diberikan Allah tanpa harus terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Prinsip tasawuf juga memiliki keterkaitan dengan psikoterapi Islam yang bertujuan membantu individu memperoleh ketenangan jiwa. Praktik seperti dzikir, muhasabah (introspeksi diri), dan memperkuat rasa syukur dapat menjadi cara untuk mengurangi kecemasan yang muncul akibat FOMO. Dengan membangun kesadaran bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh popularitas atau pencapaian yang ditampilkan di media sosial, seseorang akan lebih mampu menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat kondisi spiritualnya.
Penutup
FOMO merupakan fenomena yang semakin umum terjadi di era digital dan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Pada akhirnya, tidak semua hal yang terlihat di media sosial mencerminkan kenyataan yang utuh. Setiap individu memiliki perjalanan, tantangan, dan waktu pencapaiannya masing-masing yang tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan orang lain.
Oleh karena itu, penting untuk menggunakan media sosial secara bijak serta membangun rasa syukur terhadap kehidupan yang dimiliki. Daripada sibuk mengejar apa yang sedang dimiliki orang lain, akan lebih bermakna jika energi tersebut digunakan untuk mengembangkan diri dan menghargai proses yang sedang dijalani. Sebab, kebahagiaan yang sejati bukan berasal dari tidak tertinggal oleh orang lain, melainkan dari kemampuan untuk berdamai dengan diri sendiri.
Daftar Pustaka:
- Geertz, C. (1992). Tafsir kebudayaan (Terjemahan). Penerbit Kanisius.
- Johanda, D., Adiningsih, S., Azzahra, N. V., & Fikriyyah, H. S. (2025). Adaptasi dan uji psikometrik State Fear of Missing Out Inventory (SFOMOI) versi bahasa Indonesia. Acta Psychologia, 7(2).
- Koentjaraningrat. (2015). Pengantar ilmu antropologi (Edisi revisi). Rineka Cipta.
- Wibaningrum, G., & Aurellya, C. D. (2020). Fear of missing out scale Indonesian version: An internal structure analysis. JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia), 9(2).
Penulis:
Muhammad Faiq Rizqi | UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan.