Puisi: Pantun Di Sawah Jangan Memukat Ikan (Karya Marah Roesli)

Pantun "Di Sawah Jangan Memukat Ikan" karya Marah Roesli merupakan pantun klasik yang menggambarkan beratnya penderitaan hidup dan ketidakberdayaan ..
Pantun Di Sawah Jangan Memukat Ikan
(Pantun Sitti Nurbaya)

Di sawah jangan memukat ikan,
ikan bersarang dalam padi.
Susah tak dapat dikatakan,
ditanggung saja dalam hati.

Gantungan dua tergantung,
tergantung di atas peti.
Ditanggung tidak tertanggung,
sakit memutus rangkai hati.

Buah pinang di dalam puan,
tumpul kacip asah di batu.
Tidaklah iba gerangan tuan,
kepada adik yatim piatu?

Labuk baik kuala dalam,
pasir sepanjang muaranya,
Buruk baik minta digenggam,
badanlah banyak sengsaranya.

Ikatkan mati pisang berjantung,
hunus keris letakkan dia.
Niat hati hendak bergantung,
putus tali apakan daya.

Catatan:
Pantun di atas merupakan bagian dari buku Sitti Nurbaya (1920).

Analisis Puisi:

Pantun "Di Sawah Jangan Memukat Ikan" merupakan salah satu pantun yang terdapat dalam novel Sitti Nurbaya (1920) karya Marah Roesli. Sebagai bagian dari karya sastra klasik Indonesia, pantun ini menampilkan kekayaan bahasa Melayu yang sarat dengan ungkapan perasaan, terutama mengenai penderitaan batin, kepasrahan, dan harapan yang tidak tercapai. Setiap bait diawali dengan sampiran yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, kemudian diakhiri isi pantun yang menyampaikan makna emosional secara mendalam.

Tema

Tema utama pantun ini adalah kesedihan, penderitaan hidup, dan kepasrahan terhadap nasib. Penyair menggambarkan seseorang yang harus menanggung beban hidup seorang diri, menghadapi kesulitan, kehilangan harapan, serta memendam luka yang tidak mudah diungkapkan kepada orang lain.

Makna Tersirat

Makna tersirat pantun ini mengajarkan bahwa tidak semua penderitaan dapat disampaikan kepada orang lain. Ada luka yang harus dipikul sendiri karena keadaan tidak memungkinkan untuk mencari jalan keluar.

Selain itu, pantun ini juga menyiratkan bahwa manusia sering kali dihadapkan pada kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Walaupun keinginan hati begitu kuat, hasil akhirnya tetap berada di luar kuasa manusia. Oleh sebab itu, ketabahan dan kesabaran menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari pantun ini antara lain:
  • Bersabarlah ketika menghadapi penderitaan hidup.
  • Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan mudah, sehingga diperlukan keteguhan hati.
  • Jangan mudah menyerah meskipun keadaan terasa sangat berat.
  • Milikilah rasa empati terhadap orang yang hidup dalam kesusahan, terlebih mereka yang kehilangan tempat bergantung.
  • Terimalah bahwa ada hal-hal dalam kehidupan yang berada di luar kendali manusia.
Pantun "Di Sawah Jangan Memukat Ikan" karya Marah Roesli merupakan pantun klasik yang menggambarkan beratnya penderitaan hidup dan ketidakberdayaan manusia menghadapi takdir. Melalui rangkaian sampiran yang indah dan isi yang penuh makna, pantun ini menyampaikan bahwa kesabaran, ketabahan, serta kepasrahan merupakan sikap yang penting ketika menghadapi cobaan. Meskipun ditulis lebih dari satu abad yang lalu sebagai bagian dari novel Sitti Nurbaya (1920), pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap relevan dengan kehidupan manusia hingga saat ini.

Puisi: Pantun Di Sawah Jangan Memukat Ikan
Puisi: Pantun Di Sawah Jangan Memukat Ikan
Karya: Marah Roesli

Biodata Marah Roesli:
  • Marah Roesli (dieja Marah Rusli) lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 7 Agustus 1889.
  • Marah Roesli meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 17 Januari 1968 (pada usia 78 tahun).
  • Marah Roesli adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
© Sepenuhnya. All rights reserved.