Puisi: Pantun Encik Amat Mengaji Tamat (Karya Marah Roesli)

Puisi "Pantun Encik Amat Mengaji Tamat" karya Marah Roesli mengandung nasihat tentang pentingnya kesabaran, ketekunan, dan kehati-hatian dalam ...
Pantun Encik Amat Mengaji Tamat

Encik Amat mengaji tamat,
mengaji Quran di waktu fajar.
Biar lambat asal selamat,
tidak lari gunung dikejar.

Catatan:
Pantun di atas merupakan bagian dari buku Sitti Nurbaya (1920).

Analisis Puisi:

Puisi "Pantun Encik Amat Mengaji Tamat" karya Marah Roesli merupakan pantun lama yang mengandung nasihat tentang pentingnya kesabaran, ketekunan, dan kehati-hatian dalam menjalani kehidupan. Pantun ini menyampaikan pesan moral yang tetap relevan hingga saat ini. Dengan menggunakan sampiran yang menggambarkan aktivitas mengaji dan isi yang berisi petuah, pantun ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak harus diraih dengan tergesa-gesa.

Tema

Tema utama dalam pantun ini adalah kesabaran dan kehati-hatian dalam mencapai tujuan. Penyair mengingatkan bahwa proses yang dilakukan dengan perlahan namun benar akan memberikan hasil yang lebih baik daripada tindakan yang terburu-buru.

Puisi ini bercerita tentang pentingnya menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran. Sampiran menggambarkan Encik Amat yang telah selesai mengaji Al-Qur'an pada waktu fajar, memberikan nuansa religius dan disiplin. Sementara itu, isi pantun menegaskan pepatah terkenal, "Biar lambat asal selamat, tidak lari gunung dikejar," yang mengajarkan agar seseorang tidak tergesa-gesa dalam mengejar cita-cita maupun menyelesaikan pekerjaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam pantun ini adalah bahwa kesuksesan membutuhkan proses. Tidak semua hal harus dicapai dengan cepat. Justru, sikap sabar, teliti, dan penuh pertimbangan akan menghindarkan seseorang dari kesalahan yang dapat merugikan di kemudian hari.

Selain itu, pantun ini juga mengandung nilai bahwa setiap tujuan memiliki waktunya sendiri. Selama seseorang tetap berusaha dan tidak menyerah, kesempatan untuk berhasil akan selalu ada.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat atau pesan yang disampaikan dalam pantun ini adalah:
  • Bersikap sabar dalam menghadapi setiap proses kehidupan.
  • Jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau mengejar tujuan.
  • Ketelitian dan kehati-hatian lebih penting daripada kecepatan yang berisiko menimbulkan kesalahan.
  • Teruslah berusaha karena tujuan tidak akan hilang hanya karena prosesnya membutuhkan waktu lebih lama.
Puisi "Pantun Encik Amat Mengaji Tamat" karya Marah Roesli mengajarkan bahwa kesabaran merupakan kunci dalam meraih keberhasilan. Melalui bahasa yang sederhana dan mudah diingat, pantun ini menyampaikan pesan bahwa proses yang dilakukan dengan hati-hati akan membawa hasil yang lebih baik daripada tindakan yang tergesa-gesa. Nilai moral tersebut menjadikan pantun ini tetap relevan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Puisi: Pantun Encik Amat Mengaji Tamat
Puisi: Pantun Encik Amat Mengaji Tamat
Karya: Marah Roesli

Biodata Marah Roesli:
  • Marah Roesli (dieja Marah Rusli) lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 7 Agustus 1889.
  • Marah Roesli meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 17 Januari 1968 (pada usia 78 tahun).
  • Marah Roesli adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
© Sepenuhnya. All rights reserved.