Psikologi di Balik FOMO

Mengapa media sosial sering membuat kita merasa tertinggal? Yuk kenali fenomena FOMO beserta analisis antropologi, tasawuf, dan psikoterapi Islam.

Oleh Nafakhatul Azkiya

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, masyarakat kini dapat mengakses berbagai informasi hanya dalam hitungan detik. Media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang untuk berbagi pengalaman, pencapaian, gaya hidup, hingga aktivitas sehari-hari. Namun, di balik manfaat tersebut muncul sebuah fenomena psikologis yang semakin sering dialami, terutama oleh generasi muda, yaitu perasaan khawatir ketika merasa tertinggal dari apa yang sedang dilakukan atau dimiliki orang lain.

FOMO

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa cemas yang muncul ketika seseorang merasa tidak ikut serta dalam pengalaman, informasi, atau tren yang sedang berlangsung di lingkungan sosialnya. Akibatnya, sebagian orang merasa perlu selalu terhubung dengan dunia digital agar tidak dianggap tertinggal. Kondisi ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar kebiasaan mengikuti tren, melainkan fenomena yang berkaitan erat dengan aspek psikologis dan kebutuhan manusia untuk memperoleh pengakuan serta rasa diterima dalam lingkungan sosialnya.

Deskripsi Fenomena

Fenomena FOMO dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan pengguna media sosial. Banyak orang merasa perlu terus memeriksa notifikasi, mengikuti tren yang sedang populer, atau mengetahui informasi terbaru agar tidak merasa tertinggal. Berbagai unggahan mengenai pencapaian, perjalanan, maupun aktivitas menarik sering kali membuat individu membandingkan kehidupannya dengan orang lain dan muncul keinginan untuk memperoleh pengalaman yang serupa.

Berbagai laporan mengenai kesehatan mental menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens dapat meningkatkan kecenderungan FOMO. Tidak sedikit pengguna yang merasa cemas ketika tidak mengetahui informasi terbaru atau ketika melihat orang lain menikmati suatu pengalaman tanpa dirinya. Dalam lingkungan pertemanan, kondisi ini dapat menimbulkan perasaan kurang nyaman dan mendorong seseorang untuk terus memantau aktivitas sosial di dunia digital.

FOMO juga terlihat dalam berbagai keputusan sehari-hari. Sebagian orang terdorong membeli barang, mengikuti tren, atau menghadiri suatu kegiatan karena takut dianggap tertinggal oleh lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku individu tidak selalu didasarkan pada kebutuhan pribadi, tetapi sering kali dipengaruhi oleh keinginan untuk tetap diterima dan terhubung dengan kelompok sosialnya.

Analisis Antropologis

Fenomena FOMO dapat dipahami melalui perspektif antropologi yang memandang manusia sebagai makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan budaya. Menurut Clifford Geertz, budaya merupakan sistem makna yang dibangun dan dipahami bersama oleh Masyarakat (Nordin et al., 2026). Dalam era digital, media sosial menjadi ruang budaya yang memengaruhi cara individu memandang keberhasilan, kebahagiaan, dan status sosial. Unggahan tentang pencapaian, gaya hidup, atau pengalaman pribadi sering kali menjadi acuan dalam menilai diri sendiri maupun orang lain.

Dari perspektif Geertz, FOMO muncul ketika individu memberi makna tertentu pada berbagai simbol sosial yang beredar di media digital. Pengalaman yang ditampilkan oleh orang lain kerap dianggap sebagai ukuran keberhasilan atau penerimaan sosial, sehingga memunculkan keinginan untuk terus mengikuti perkembangan yang ada. Oleh karena itu, FOMO tidak hanya berkaitan dengan ketertinggalan informasi, tetapi juga dengan dorongan untuk memperoleh pengakuan dalam lingkungan sosial.

Selain itu, teori fungsionalisme yang dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa FOMO banyak ditemukan dalam masyarakat modern. Malinowski berpendapat bahwa berbagai praktik sosial berkembang untuk memenuhi kebutuhan manusia, baik kebutuhan biologis maupun sosial (Adha, 2022). Dalam kehidupan digital, media sosial berfungsi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi, rasa memiliki, dan penerimaan sosial. Ketika seseorang merasa tidak terlibat dalam aktivitas yang sedang berlangsung di lingkungannya, muncul kekhawatiran bahwa kebutuhan sosial tersebut tidak terpenuhi, sehingga memicu perasaan FOMO.

Menurut Malinowski, keinginan untuk selalu mengikuti informasi dan aktivitas sosial berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk menjadi bagian dari suatu kelompok. Media sosial memperluas ruang interaksi sehingga kebutuhan akan penerimaan sosial semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, FOMO dapat dipahami sebagai gejala sosial yang muncul seiring perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi masyarakat.

Relevansi dengan Tasawuf dan Psikoterapi

Fenomena FOMO berkaitan dengan kesehatan mental karena dapat memicu kecemasan dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Menurut Przybylski et al. (2013), FOMO adalah kekhawatiran ketika seseorang merasa orang lain memperoleh pengalaman yang lebih menyenangkan tanpa dirinya. Perasaan tersebut mendorong individu untuk terus terhubung dengan media sosial dan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menurunkan kesejahteraan psikologis.

Dalam perspektif tasawuf, FOMO dapat diatasi melalui penguatan spiritual, seperti menumbuhkan rasa syukur dan sikap qana’ah. Al-Ghazali (2011) menjelaskan bahwa ketenangan batin diperoleh ketika kebahagiaan tidak bergantung pada pencapaian duniawi. Nilai-nilai tersebut membantu individu lebih fokus pada pengembangan diri dan hubungan dengan Tuhan daripada terus membandingkan diri dengan orang lain.

Selain pendekatan spiritual, psikoterapi Islam juga menawarkan cara yang dapat membantu individu mengelola dampak negatif FOMO. Menurut Adz-Dzaky (2006), proses penyembuhan psikologis dalam Islam dapat dilakukan melalui penguatan keimanan, dzikir, doa, muhasabah (introspeksi diri), serta pembentukan pola pikir yang positif. Pendekatan tersebut dapat membantu individu mengurangi kecemasan yang muncul akibat tekanan sosial dan keinginan untuk selalu mengikuti perkembangan orang lain.

Penutup

Fenomena FOMO menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara individu memandang dirinya dan lingkungan sosialnya. Keinginan untuk selalu mengikuti informasi, tren, maupun aktivitas orang lain merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial.

Namun, ketika keinginan tersebut berubah menjadi kecemasan yang berlebihan, FOMO dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang. Dari perspektif psikologi, antropologi, tasawuf, dan psikoterapi Islam, dapat dipahami bahwa FOMO bukan sekadar persoalan penggunaan media sosial, melainkan berkaitan dengan kebutuhan manusia akan pengakuan, penerimaan sosial, dan pencarian makna dalam kehidupannya.

Referensi:

  • Adha, N. (2022). Teori fungsionalisme dilihat dari sudut pandang antropologi. OSF Preprints, 1–7.
  • Adz-Dzaky, H. B. (2006). Psikoterapi dan Konseling Islam. Fajar Pustaka.
  • Al-Ghazali. (2011). Ihya Ulumuddin. Republika.
  • Nordin, M. A., Cob, S. A. C., & Ciding, M. I. (2026). Tafsiran Budaya dan Estetika: Menggali Simbolisme dalam Konteks Budaya Menurut Clifford Geertz.
  • Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.

Penulis:

Nafakhatul Azkiya | UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.