Oleh Kelly Nuke Labartis
Persoalan sampah telah menjadi isu yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat perkotaan. Setiap hari, rumah tangga menghasilkan berbagai jenis sampah yang jumlahnya terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Ironisnya, sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemilahan. Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan sampah, pencemaran lingkungan, hingga hilangnya potensi ekonomi dari barang-barang yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.
Di sisi lain, perubahan menuju lingkungan yang lebih bersih tidak selalu membutuhkan teknologi yang canggih atau anggaran yang besar. Perubahan justru dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu memilah sampah sejak dari rumah. Kesadaran inilah yang menjadi semangat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Ampel Surabaya Kelompok Sidosermo RW 1 dalam menyelenggarakan Sosialisasi dan Pelatihan Pemilahan Sampah sebagai salah satu upaya membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat.
Kesadaran Lingkungan Harus Dibangun Bersama
Sosialisasi yang dilaksanakan tidak hanya berisi penyampaian teori mengenai jenis-jenis sampah organik dan anorganik, tetapi juga memberikan pemahaman bahwa sampah memiliki nilai apabila dikelola dengan benar. Melalui penyampaian materi dan diskusi interaktif, masyarakat diajak melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda, bukan lagi sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan. Respon masyarakat terhadap kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan masih sangat dibutuhkan.
Ibu-ibu PKK yang hadir mengikuti kegiatan dengan penuh antusias, aktif bertanya mengenai cara memilah sampah, proses pengelolaan, hingga peluang memperoleh manfaat ekonomi dari sampah anorganik. Antusiasme tersebut membuktikan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki kepedulian terhadap lingkungan, hanya saja mereka membutuhkan informasi, pendampingan, dan sistem yang mampu mendukung perubahan perilaku tersebut. Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Lingkungan yang bersih hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen masyarakat ikut terlibat dalam proses pengelolaannya.
Bank Sampah sebagai Solusi Berkelanjutan
Melihat antusiasme warga, mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel Surabaya memperkenalkan konsep Bank Sampah sebagai solusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Bank Sampah tidak hanya menjadi tempat mengumpulkan sampah anorganik yang telah dipilah, tetapi juga sarana pemberdayaan ekonomi. Sampah yang disetorkan akan ditimbang dan dicatat layaknya tabungan sehingga memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat. Konsep ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu berarti pengorbanan. Selain mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, masyarakat juga dapat memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang dikelola dengan baik.
Namun, keberhasilan Bank Sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas, melainkan juga pada komitmen dan partisipasi warga. Oleh karena itu, mahasiswa KKN membagikan kuesioner untuk mengukur tingkat antusiasme dan kesiapan masyarakat terhadap rencana pembentukan Bank Sampah di Sidosermo RW 1. Hasilnya diharapkan menjadi dasar penyusunan program yang sesuai dengan kebutuhan warga. Pendekatan ini dilakukan agar program yang dirancang benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar menjadi program jangka pendek yang berhenti setelah kegiatan KKN selesai.
Perubahan Berawal dari Langkah Sederhana
Banyak orang beranggapan bahwa menjaga lingkungan adalah pekerjaan yang berat. Padahal, perubahan besar sering kali berawal dari tindakan yang paling sederhana. Memilah sampah di rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mendukung keberadaan Bank Sampah merupakan langkah kecil yang apabila dilakukan secara konsisten akan menghasilkan dampak yang besar bagi lingkungan.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel Surabaya tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan perilaku harus dimulai dari diri sendiri. Ketika masyarakat mulai menyadari bahwa sampah memiliki nilai dan manfaat, maka budaya peduli lingkungan akan tumbuh dengan sendirinya.
Bank Sampah pada akhirnya bukan sekadar tempat menyimpan sampah, melainkan wadah untuk membangun kebiasaan baru, memperkuat semangat gotong royong, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Kesimpulan
Kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Pemilahan Sampah yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel Surabaya Kelompok Sidosermo RW 1 menunjukkan bahwa edukasi lingkungan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mulai memilah dan mengelola sampah dengan lebih baik. Antusiasme warga selama kegiatan berlangsung juga menjadi indikator bahwa masyarakat siap berpartisipasi dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan apabila diberikan edukasi dan pendampingan yang tepat.
Penawaran pembentukan Bank Sampah diharapkan menjadi langkah nyata dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah, dan perguruan tinggi, diharapkan budaya peduli lingkungan dapat terus tumbuh, sehingga perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara bersama.
Penulis:
Kelly Nuke Labartis | Mahasiswa Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya.