Seminar Pendidikan dan Pembekalan UNS Mengajar Batch 6

: Membumikan Benih Potensi, Menyemai Transformasi, Melangitkan Pijar Daya Generasi, Memahat Jejak Cendikia di Jantung Nusantara

Surakarta – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS), melalui Kementerian Sosial Masyarakat menyelenggarakan Seminar Pendidikan dan Pembekalan UNS Mengajar Batch 6 “Membumikan Benih Potensi, Menyemai Transformasi, Melangitkan Pijar Daya Generasi, Memahat Jejak Cendikia di Jantung Nusantara”.

Seminar Pendidikan UNS
Suasana pembukaan Seminar Pendidikan UNS Mengajar Batch 6 di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram, S.H., UNS

Seminar Pendidikan ini dilaksanakan pada hari Rabu (8/07/26) dan Kamis (9/07/26). Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–15.00 WIB tersebut diikuti oleh Panitia UNS Mengajar Batch 6 2026 bertempat di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram, S.H., Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini merupakan rangkaian pembekalan wajib bagi seluruh panitia sebelum diterjunkan langsung ke lokasi pengabdian. Seminar Pendidikan menjadi gerbang awal sekaligus fondasi bagi panitia UNS Mengajar Batch 6 untuk memahami esensi mengajar dan mengabdi, sebelum hari pelaksanaan (H) program yang akan berlangsung pada tanggal 26 Juli hingga 10 Agustus 2026 di desa-desa dampingan. Melalui pembekalan ini, panitia diharapkan tidak hanya siap secara teknis mengajar, tetapi juga siap secara mental, empati, dan kepekaan sosial dalam membersamai masyarakat serta siswa-siswa di pedesaan.

Hari Pertama: Membangun Praktik Mengajar yang Humanis

Roy Ardiansyah
Pembicara Day 1 Oleh Dr. Roy Ardiansyah, S.Pd.,M.Pd.

Pada hari pertama, Rabu (8/07/26), seminar menghadirkan Dr. Roy Ardiansyah, S.Pd., M.Pd. sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Gurunya Manusia: Membangun Praktik Mengajar Humanis yang Memerdekakan Peserta Didik”. Materi ini menjadi bekal utama bagi panitia dalam memahami peran guru bukan sekadar sebagai pemberi materi, melainkan sebagai fasilitator yang memerdekakan potensi setiap peserta didik.

Dalam pemaparannya, Pembicara menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari teacher centered learning menuju student centered learning, di mana peserta didik ditempatkan sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran, bukan sekadar objek yang menerima informasi. Ia mengaitkan pergeseran ini dengan empat pilar pendidikan UNESCO, yakni learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together, sebagai fondasi menuju masyarakat pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner) yang mampu membebaskan diri dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan.

Roy Ardiansyah
Pembicara memaparkan materi Gurunya Manusia: Membangun Praktik Mengajar Humanis yang Memerdekakan Peserta Didik

Materi juga membahas kerucut pengalaman belajar (cone of experience), yang menunjukkan bahwa daya ingat siswa jauh lebih tinggi ketika mereka terlibat langsung dalam praktik dan simulasi dibandingkan hanya membaca atau mendengarkan. Poin ini menjadi penekanan khusus bagi panitia UNS Mengajar Batch 6 2026, mengingat metode pembelajaran yang akan diterapkan di desa-desa marginal perlu melibatkan peserta didik secara aktif, bukan sekadar ceramah satu arah.

Selain aspek pedagogik, Pembicara turut menguraikan karakteristik perkembangan kognitif anak menurut tahapan Piaget serta tahapan perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar. Pemahaman terhadap karakter siswa berdasarkan usia ini penting agar panitia mampu menyesuaikan pendekatan mengajar, memberikan dukungan yang tepat, serta menghindari perlakuan yang dapat membuat anak merasa gagal atau rendah diri. Materi ditutup dengan pembahasan mengenai keterampilan dasar mengajar, mulai dari keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, hingga mengelola kelas dan membimbing diskusi kelompok kecil, sebagai bekal teknis yang perlu terus dilatih oleh calon pengajar.

Hari Kedua: Mengabdi dengan Hati, Menorehkan Jejak untuk Negeri

Ahmad Zamzami
Foto Bersama Pembicara Day 2 Oleh Ahmad Zamzami, S.Ag

Memasuki hari kedua, Kamis (9/07/26), seminar dilanjutkan dengan materi bertajuk “Mengabdi dengan Hati, Menorehkan Jejak untuk Negeri” yang disampaikan oleh Ahmad Zamzami, S.Ag., seorang praktisi pendidikan dengan pengalaman lebih dari delapan tahun dalam pemberdayaan masyarakat, pengembangan sekolah, dan penguatan kapasitas guru, termasuk pengalaman relawan pendidikan di berbagai kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) di Indonesia.

Berbeda dengan hari pertama yang berfokus pada aspek pedagogis di dalam kelas, materi hari kedua ini lebih menyoroti aspek mental, empati, dan kesiapan panitia dalam membersamai kehidupan masyarakat desa. Ahmad Zamzami membuka materi dengan memaparkan kondisi pendidikan Indonesia saat ini, mulai dari kekurangan sekitar 561 ribu guru di seluruh Indonesia, fenomena learning loss yang masih membayangi banyak siswa, hingga masih adanya 2,92 juta anak usia sekolah yang belum mengenyam pendidikan secara layak. Menurutnya, kondisi ini menegaskan bahwa “Negeri ini tidak kekurangan masalah, negeri ini kekurangan orang yang mau turun tangan”, sebuah pesan yang ia tekankan berulang kali agar tertanam dalam semangat panitia sebelum terjun ke lapangan.

Ia juga mengajak panitia untuk memahami pentingnya peran anak muda di tengah momentum bonus demografi Indonesia. Menurutnya, jendela emas ini hanya akan menjadi berkah apabila generasi muda memiliki kualitas dan keterampilan yang memadai, dan sebaliknya dapat menjadi beban apabila potensi tersebut tidak diarahkan dengan baik. Ahmad Zamzami menegaskan bahwa siapa pun bisa mengabdi tanpa harus menunggu kaya, menjadi profesor, atau menjabat sebagai pejabat, selama memiliki tiga modal utama yakni hati, pengetahuan, dan kemauan.

Ahmad Zamzami
Pembicara Memaparkan Materi Mengabdi dengan Hati, Menorehkan Jejak untuk Negeri

Salah satu bagian yang paling banyak mendapat perhatian peserta adalah pembahasan mengenai empat tingkatan mendengarkan (levels of listening), mulai dari sekadar mendengarkan untuk menegaskan opini yang sudah dimiliki, mendengarkan fakta baru, mendengarkan secara empatik dengan memahami sudut pandang orang lain, hingga mendengarkan secara generatif yang membuka ruang bagi perubahan diri dan gagasan baru. Materi ini relevan bagi panitia yang nantinya akan tinggal dan berinteraksi langsung dengan warga desa, sehingga kemampuan mendengarkan menjadi kunci untuk benar-benar memahami kebutuhan masyarakat, bukan sekadar menjalankan program dari sudut pandang panitia semata. Ia merangkum konsep pengabdian yang ingin dibangun melalui rumusan: mendengarkan, learning agility, memberdayakan, meningkatkan, dan mengambil tindakan.

Suasana Kegiatan

UNS Mengajar
Peserta antusias mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab.

Kegiatan berlangsung interaktif selama dua hari penuh. Panitia UNS Mengajar Batch 6 tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara, mulai dari pemaparan materi, sesi tanya jawab, hingga diskusi ringan mengenai gambaran kondisi desa yang akan mereka kunjungi. Beberapa peserta turut berbagi kekhawatiran maupun harapan mereka sebelum diterjunkan, yang kemudian direspons langsung oleh kedua narasumber dengan berbagai kiat praktis, mulai dari cara membangun kedekatan dengan siswa, memahami karakter anak desa yang beragam, hingga menjaga sikap dan etika selama tinggal bersama masyarakat.

Penutup

UNS Mengajar
Foto bersama sekaligus penutup.

Melalui Seminar Pendidikan dan Pembekalan UNS Mengajar Batch 6 ini, BEM UNS melalui Kementerian Sosial Masyarakat berharap seluruh panitia benar-benar siap, baik dari sisi keterampilan mengajar yang humanis maupun kesiapan hati dalam mengabdi, sebelum diterjunkan ke desa-desa dampingan pada 26 Juli hingga 10 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen mahasiswa dalam menghadirkan pendidikan yang bermakna hingga ke pelosok negeri, sejalan dengan semangat “Membumikan Benih Potensi, Menyemai Transformasi, Melangitkan Pijar Daya Generasi, Memahat Jejak Cendikia di Jantung Nusantara” yang diusung dalam program UNS Mengajar Batch 6 2026.

© Sepenuhnya. All rights reserved.