Tempat Pelepasan Suara, Suara Siapa yang Dilepas?

Seberapa bebas masyarakat menyampaikan suaranya? Temukan jawabannya dalam teater TPS yang memadukan humor, ironi, dan kritik sosial yang relevan.

Oleh Queendi Kumala

MERDEKA, katanya. Kata siapa? Kata Gabus TPS nomor tiga, yang katanya menjual kebebasan tanpa tahu arti bebas itu sendiri. Berdiri di atas kaki individualisme sambil menjilat kata tersebut tiada henti. Nyatanya, kebebasan masyarakat hanyalah seonggok ucap yang disogok. Mau bebas malah harus mengeluarkan uang, buat apa? Buat jadi uang haram. Oleh haram, menjadi haram, untuk haram. Siklus haram dengan embel-embel kebebasan katanya. Kata siapa? Kata penulis yang sehabis menonton pertunjukan teater TPS karya Syafril T. dan disutradakan Nikicha Myomi.

Teater

Pada hari pertama pertunjukan dari acara Festival Teater Indonesia 2026: Kilas Lakon Perempuan hasil kerja sama jurusan Sastra Indonesia dengan Teater Langkah, penulis benar-benar dibuat puas ketika menontonnya. Baru hari pertama, sudah mampu mengundang nyinyir dibalut gelak tawa. Ada dua penampilan teater, yaitu Nurani dan TPS. Fokus utama penulis kali ini adalah TPS, yang memang sudah lama ingin penulis ulas.

Sebelum mulai, penulis sangat penasaran akibat properti yang disuguhkan berbeda dari pertunjukan biasanya. Ada semacam bilik warna hijau, kuning, dan merah, serta beda ukuran pula. Adegan awal, diperlihatkan tiga orang memakan baju tai cicak (hitam putih), tetapi terdapat penanda merah, kuning, dan hijau. Mirip chipmunk, film tiga tupai. Dengan pencahayaan remang-remang dari penata cahaya amatiran, penulis tergelak tawa saat trio tersebut melakukan aksi silat asal-asal. Ah, ini pelatihan militer KopDes, ya?

Tak berselang lama, trio chipmunk berpencar ke bilik masing-masing sesuai warna topi mereka. Di atasnya juga ada tulian TPS 1, TPS 2, dan TPS 3. Masuklah lelaki kemeja merah yang disebut Gabus, duduk di samping TPS 3. Kemudian, pasutri masuk. Si istri sangat rewel ingin pulang, tetapi ditahan suami yang tidak tahan melepaskan sesuatu. Ambigu. Ternyata setelah masuk bilik TPS 3, melepas suara. Suara pasutri bertengkar. Satunya berselingkuh, satunya lagi mantan pelacur. Memang masyarakat bobrok, tidak kalah bobrok juga dengan masyarakat di masa yang mendatang.

Lampu mati. Saat dihidupkan, sudah lengkap anggota Gabus bilik, dilengkapi kemeja serasi warna bilik. Mereka gencar menawarkan bilik, seakan-akan penonton akan maju jika mereka menawarkan janji manisnya. Ketika melihat mereka bertiga, penulis merasa tidak asing. Eh… mirip debat capres-cawapres dua tahun yang lalu.

Gabus TPS 1 berlagak yakin, pintar rupanya, sangat menjanjikan, walau hanya bualan semata. Gabus TPS 2 penuh percaya diri, kuningnya sangat mentereng sehingga membuat orang salah fokus. Gabus TPS 3 sibuk menjual kebebasan dan individualisme, bualan belaka, artikulasi tidak jelas! Mereka terus saja beradu siapa yang paling hebat biliknya. Penulis kira, mereka kampanye pemerintah, ternyata hanya promosi. Promosi hak bersuara sampai suara jadi didebatkan.

Setelah selesai promosi, masyarakat mulai berdatangan. TPS 1 isinya satu orang, TPS 2 isinya dua orang, dan TPS 3 isinya tiga orang. Dari perempuan, laki-laki, pekerja kantoran, ibu rumah tangga, tetangga julid, orang depresi, bahkan maling pun ikut andil melepaskan suara mereka. Tidak tanggung-tanggung, seorang lelaki belok nan centil juga dihadirkan, mewakilkan suatu ‘kaum’, agar bisa melepaskan unek-unek sebagai ‘penyimpangan’ bagi masyarakat. Pride month, walau sudah berlalu.

Syaratnya hanya satu, bayar. Bersuara kok harus bayar? Memangnya kalau tidak bayar, bisa mati, ya? Karena sistem bayar, ada masyarakat yang menganggap bisa melepaskan air seni juga! “Penghinaan!”, kata Gabus TPS 1. Akibatnya, bilik hijau menjadi bau dan pesing. Sangat penghinaan! Harusnya semua bilik diberi pelepasan air seni, agar adil rasanya ikut merayakan penghinaan! Sialnya, malah chipmunk hijau yang disuruh membersihkannya seorang diri. Si Gabus? Oh, istrinya sedang menunggu di rumah, ia takut malah dicap sebagai hina oleh si istri.

Adegan berlanjut mendekati puncak. Seorang perempuan tengah bersendu hati, ingin melepaskan suara, kebetulan hanya ada TPS 1 yang masih buka. Perempuan ditawarkan teks agar tidak bingung sekaligus diputarkan saluang, Ratok Aji rupanya. Baru saja si perempuan hendak bersua, datang polisi yang ditugaskan untuk mengamankan TPS. Sudah tidak aman, sebab ada umpatan kasar, ucapnya. Loh, katanya bebas, kok ini sampai datang polisi?

Gabus TPS 1 bersembunyi dibalik tirai, sedang si perempuan sibuk membaca teks. Trio chipmunk bergegas menahan polisi tersebut, berkata bahwa semuanya aman-aman saja. Polisi yang menjalankan tugasnya itu mengecek bilik TPS 1 lalu keluarlah si perempuan. Dan yap… “Halo dek”, … polisi kampret! tai kucing!

Setelah dibujuk ini-itu, akhirnya polisi menyerah. Menyerah dalam artian juga ingin melepaskan suaranya juga. Tentu si pemilik bilik TPS 1 langsung nongol. Sebelum masuk, polisi diharapkan melepaskan barang-barang yang terkait aparat. Tentunya senjata api, sangat tidak diperbolehkan. Hanya itu saja penulis rasa… tapi itu bajunya emang perlu dilepas juga ya?… aduh, mana kaos hitam… aduh makjang…. bahkan bajunya juga dilepas. Penulis tidak tau tujuannya apa, mungkin takut ketahuan orang luar.

Selepas mengeluarkan keluh-kesah sebagai polisi bawah yang kesal terhadap atasannya, ia ke luar, seperti Joker yang baru saja mengalahkan Batman, terus tersenyum. Seram, pikir penulis. Polisi kelar, lampu padam. Ada beberapa kali penulis lihat, dua orang, mungkin tukang renov, kabur-kaburan. Sehabis adegan mereka lewat, dilaporkan ada mayat di TPS 3. Gabus TPS 2 dan 3 menuduh penjaga TPS 1, sebab ia yang datangnya paling awal. Tidak terima dituduh, Gabus TPS 1 membela, serangan bertubi-tubi dating, apalagi Gabus TPS 3 yang sibuk menuduh.

“Assalamualaikum!”, pak haji datang menengahi, juga membawa polwan untuk menyelidik apa yang terjadi. Polwan itu, dengan tampang songong dan cantiknya berkali-kali mengatakan “kalian tidak ada yang mau mengaku?”, bisa dibilang ada 3x ia mengetes mereka dan 3x pula mereka bergeleng tidak tau. Dan ternyata… Itu hanya boneka. Iya, boneka. Para penjaga dan Gabus tertawa, lelucon macam apa ini! Polwan pun pamit undur diri. Pak haji belum beranjak, ia malah menasihati para Gabus, “saudara-saudaraku….” Namun, ada yang janggal, ke mana perginya penjaga TPS 1? Hilang mendadak. Sebelum rasa penasaran penulis tuntas, pak haji menutup khotbahnya, “saya akan kembali menjadi ustad biasa di Solok.”

Lampu perlahan mati. Berganti adegan selanjutnya, di mana para Gabus tak ada dan meninggalkan trio chipmunk menjaga, tentunya penjaga hijau telah kembali. Bersama rombongan masyarakat yang akan mengeluarkan suara, yang beribu sayang berhenti sejenak akibat polwan kembali datang untuk memeriksa sesuatu. Ia berteriak, menyuruh semua orang angkat tangan, yang keteknya basah nahan malu. Semua orang dicek, alasannya simple, ada yang mengawasi mereka. Selama ini mereka tidak pernah aman. Selesai melaksanakan tugasnya, polwan tersebut pergi, menggantungkan ketakutan kepada masyarakat sipil.

Rasa muak, marah, kesal, dan sedih bercampur. Masyarakat telah dikhianat, TPS jadi saksi bisu sekaligus pelepas amarah. Semua hancur, tidak bersisa. Bilik yang dibuat selama beberapa minggu, hancur dalam hitungan menit. Suara yang dibayar bahkan tidak mampu menutup mata pengawasan. Pertunjukan ditutup dengan tawa orang gila.

Sorak-sorai menutup acara. Selepas acara selesai, penulis menghampiri beberapa pemain. Effendi yang empat kali berganti peran mengutarakan bahwasanya latar pertunjukan berada pada tahun 70-an semasa periode orba di bawah pemerintahan Soeharto. Hal tersebut didukung oleh hak berbicara yang dibungkam sampai gertakan boneka mayat agar pelepasan suara dibubarkan. Menariknya lagi, TPS sebenarnya dirancang oleh pemerintah dan didirikan oleh pak haji. Sosok terduga bermuka agamis, malah berperan pembawa kritis.

Tambahan fakta dari trio chipmunk yaitu pertunjukan TPS membawa nama-nama partai terkenal seperti PDI, Golkar, dan PKB berdasarkan warna topi serta bilik mereka. Jadi, kampanye oleh para Gabus bukan sebagai pemilihan presiden, melainkan promosi partai dengan berbagai tawaran rasa aman dan bebas. Nihil, janji manis tetaplah hanya manis yang dirasakan tak untuk dilakukan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.