Dari Madu Jadi Sabun, KKN-T 21 dan 22 Umsida Berinovasi

Yuk simak pelatihan pembuatan sabun madu yang digelar Umsida bersama PCM Tarik. Temukan inovasi pemberdayaan masyarakat & kolaborasi mahasiswa KKN-T.

Oleh Nabila Wulyandini

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melalui Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tarik menggelar pelatihan pembuatan sabun berbahan dasar madu di Gedung Dakwah PCM Tarik, Sidoarjo, Jumat (7/8/2026).

KKN-T 21 dan 22 Umsida

Kegiatan turut melibatkan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Tarik serta mahasiswa KKN-T Umsida Kelompok 21 dan 22.

Kegiatan diawali sambutan Ketua DRPM Umsida Prof. Dr. Sigit Hermawan SE MSi, dilanjutkan sambutan Ketua PCM Tarik Ustaz Galih.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara DRPM Umsida dan PCM Tarik sebagai penguatan kerja sama dalam program pemberdayaan masyarakat.

Hadir dari DRPM Umsida Dr. Noor Fatimah SH MH. Sementara dari Pusat Studi Pangan dan Perikanan (PSPP) hadir Dr. Lukman Hudi STP MMT, Dr. Poppy Diana Sari STP MP, serta Prof. Dr. Ir. Andriani Eko Prihatiningrum MSi.

“Kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat membuka ruang kolaborasi lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” menjadi poin yang ditekankan dalam agenda kerja sama tersebut.

Madu Dikembangkan Menjadi Produk Bernilai Guna

Usai penandatanganan MoA, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan pelatihan pembuatan sabun madu yang dipandu Dr. Poppy Diana Sari.

KKN-T Kelompok 21

Pelatihan tersebut diarahkan sebagai salah satu bentuk diversifikasi produk turunan madu sehingga potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan peluang ekonomi.

Dalam pemaparannya, peserta dikenalkan dengan bahan utama berupa madu, minyak kelapa, minyak zaitun, air, NaOH untuk sabun batang, serta essential oil. 

NaOH berperan dalam proses saponifikasi, sedangkan minyak kelapa dan minyak zaitun menjadi komponen utama pembentuk sabun. 

Madu dimanfaatkan sebagai bahan tambahan yang membantu memberikan karakter pada produk.

Ketua KKN-T Kelompok 21, Muhammad Ali Fikri, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa.

“Kami tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga melihat bagaimana program mahasiswa bisa disinergikan dengan DRPM, PCM, dan PCA sehingga manfaatnya bisa lebih luas,” ujarnya.

Peserta Praktik Langsung Membuat Sabun

Pada sesi praktik, peserta terlebih dahulu mencampurkan air dengan NaOH secara perlahan menggunakan perlengkapan pelindung.

Mahasiswa KKN-T

Minyak kelapa dan minyak zaitun kemudian dicampurkan pada wadah berbeda. Setelah larutan siap, campuran NaOH dimasukkan perlahan ke dalam minyak sambil terus diaduk.

Madu kemudian ditambahkan sedikit demi sedikit, dilanjutkan essential oil hingga seluruh bahan tercampur merata dan mencapai tahap mengental sebelum dimasukkan ke cetakan. 

Materi pelatihan juga menekankan penggunaan sarung tangan dan kacamata pelindung serta pelaksanaan kegiatan di ruangan dengan ventilasi baik. 

Sabun yang telah dicetak perlu dibiarkan mengeras 24–48 jam dan menjalani proses pematangan sekitar 30 hari sebelum digunakan.

Praktik diikuti bersama oleh unsur PCM, PCA Tarik, mahasiswa KKN-T, serta peserta lainnya dengan pendampingan tim PSPP Umsida.

Mahasiswa KKN-T Ikut Mendukung Kolaborasi

“Kami senang bisa terlibat langsung dalam pelatihan ini. Selain mendapat keterampilan baru membuat sabun madu, kami juga belajar bahwa program KKN akan lebih berdampak ketika dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak,” kata Ahmad ketua KKN T kelompok 22.

Dari unsur PCM Tarik hadir Ustaz Galih, Ustaz Muad, Ustaz Sugeng Murtadoh, Romi, Aryanto, dan Sigit. Ketua PCA Tarik Winarti turut hadir bersama anggota PCA. 

KKN-T 21 dan 22 Umsida Berinovasi

Sejumlah peserta muda, yakni Risky, Ridho, dan Nanda, juga mengikuti kegiatan.

Salah satu mahasiswa peserta menyampaikan, “Kegiatan seperti ini menarik karena kami mendapat keterampilan baru sekaligus belajar bagaimana membangun program bersama masyarakat dan Muhammadiyah di tingkat cabang.”

Rangkaian kegiatan ditutup dengan foto bersama antara DRPM Umsida, PSPP, PCM Tarik, PCA Tarik, serta mahasiswa KKN-T. 

Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi awal program berkelanjutan yang dapat menghubungkan hasil riset dan keahlian perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat di Kecamatan Tarik.

Penulis:

Nabila Wulyandini. Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang aktif sebagai jurnalis Umsida di bawah naungan fakultas. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, komunikasi, dan kreativitas visual. Di sela kegiatan akademik dan kepenulisan, ia juga gemar menggambar sebagai sarana mengekspresikan ide, mengembangkan kreativitas, serta mengasah kepekaan terhadap detail.

© Sepenuhnya. All rights reserved.