Bayangkan di Minggu yang cerah, kamu dan keluargamu sedang menikmati keindahan Danau Toba. Udaranya sejuk menyapamu lembut, sementara itu gelombang air danau terlihat indah di bawah perbukitan hijau Prapat yang megah. Indonesia sangat dianugerahi kelimpahan alam pariwisata yang luar biasa memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Wisatawan dari berbagai penjuru Nusantara hingga mancanegara datang untuk menikmati keindahan pesona alam yang dimiliki Danau Toba.
Namun, di tengah kekagumanmu terhadap keindahan Danau Toba ini, pernahkah kamu merenungkan pertanyaan seperti, “Bagaimana jika tiba-tiba terdapat wisatawan yang sedang asyik menikmati keindahan alam ini mengalami kondisi darurat medis?”
Ketika berbicara mengenai fasilitas Kesehatan di daerah destinasi wisata atau daerah berkembang, publik sering kali terbentuk dengan stigma, “Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) identik dengan pelayanan seadanya, antrean yang sangat panjang, fasilitas terbatas, dan sangat kalah dibandingkan rumah sakit swasta yang sudah bertaraf internasional. Jika terjadi gawat darurat atau membutuhkan tindakan spesialis medis yang canggih, rujukannya harus melintasi perjalanan darat berjam-jam untuk sampai ke kota besar dan rumah sakit yang lebih canggih.” Stigma ini seolah sangat mendukung pandangan bahwa rumah sakit milik pemerintah daerah hanya menjadi “pilihan kedua.”
Namun pertanyaannya, “Apakah RSUD memang ditakdirkan untuk selalu berada di bawah dan belakang RS swasta?” Jawabannya adalah TIDAK. RSUD sebenarnya sangat layak, mampu, dan memiliki potensi finansial maupun strategis untuk tampil menyaingi RS swasta modern yang berkualitas tinggi, khususnya ketika berdiri di kawasan wisata nasional.
Pertanyaan yang sering muncul ketika membahas modernisasi RSUD Adalah, “Apakah pembangunan fasilitas yang lebih canggih akan membebani APBD?” Gambaran mengenai hal tersebut menurut Pinem dan Sembiring (2024), yang mengkaji kelayakan finansial pengembangan RSUD Parapat di Kabupaten Simalungun.
Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa RSUD Parapat yang semula berstatus rumah sakit tipe D direvitalisasi menjadi rumah sakit tipe C di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba. Pengembangan ini didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Kesehatan sebesar Rp43,78 miliar, sekaligus memperluas kawasan rumah sakit dari 1.785 meter persegi menjadi sekitar 12.966,68 meter persegi.
Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa proyek ini memiliki prospek yang baik. Nilai Net Present Value (NPV) diproyeksikan mencapai Rp105,43 miliar pada tahun 2044 dengan tingkat diskonto hingga 15%. Selain itu, Internal Rate of Return (IRR) mencapai 23%, lebih tinggi daripada tingkat bunga acuan sebesar 15%. Dari sisi arus kas, proyeksi menunjukkan kondisi positif mulai tahun kelima operasional, yaitu pada tahun 2028.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan RSUD di kawasan wisata tidak hanya layak dari sisi pelayanan kesehatan, tetapi juga memiliki prospek yang baik secara finansial. Dengan pengelolaan yang tepat, RSUD dapat menjadi aset daerah yang berkelanjutan, bukan sekadar pusat pengeluaran anggaran.
Keunggulan lain yang dapat dikembangkan oleh RSUD di Kawasan pariwisata Adalah penerapan konsep medical tourism atau wisata kesehatan. Dalam studi kelayakan pembangunan RSUD Parapat, rumah sakit ini tidak hanya dirancang sebagai fasilitas pelayanan kesehatan umum, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan wisatawan melalui Kawasan Wisata Kesehatan seluas sekitar 1.700 meter persegi. Area tersebut direncanakan dilengkapi dengan fasilitas kebugaran (gym), layanan spa medis, ruang perawatan kecantikan, hingga studio yoga.
Konsep ini menunjukkan bahwa rumah sakit daerah dapat bertransformasi menjadi fasilitas kesehatan yang lebih modern tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai penyedia pelayanan publik.
Wisatawan yang datang ke kawasan Danau Toba tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memperoleh rasa aman karena tersedia layanan kesehatan yang memadai apabila terjadi keadaan darurat. Bagi wisatawan lanjut usia maupun penderita penyakit kronis, adanya layanan jantung, stroke, kanker, serta fasilitas penunjang seperti Cathlab dan CT-Scan menjadi nilai tambah yang dapat meningkatkan kepercayaan aman untuk berwisata.
Dengan demikian, sektor kesehatan dan pariwisata sebenarnya memiliki hubungan yang saling mendukung. Destinasi wisata yang didukung rumah sakit dengan fasilitas lengkap akan lebih mampu memberikan rasa aman kepada wisatawan, sementara meningkatnya kunjungan wisata juga dapat mendorong perkembangan pelayanan kesehatan di daerah tersebut.
Keberhasilan revitalisasi RSUD Parapat dapat menjadi contoh bagi daerah wisata lain seperti Labuan Bajo, Likupang, Mandalika, dan Bromo. Agar model ini dapat diterapkan secara lebih luas, akan tetapi ada beberapa langkah strategis yang perlu diperhatikan.
Pertama, pengelolaan rumah sakit perlu diperkuat melalui sistem Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sehingga rumah sakit memiliki keluwesan dalam mengelola pendapatan untuk pemeliharaan alat kesehatan, pengembangan layanan, dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.
Kedua, pemerintah daerah perlu mengoptimalkan dukungan pendanaan, termasuk Dana Alokasi Khusus (DAK), serta membangun kerja sama dengan sektor pariwisata agar pelayanan kesehatan dapat menjadi bagian dari daya tarik destinasi wisata.
Ketiga, transformasi tidak cukup dilakukan pada aspek fisik dan teknologi saja, tetapi juga pada budaya pelayanan. Tenaga kesehatan perlu didorong untuk mengembangkan budaya pelayanan yang lebih ramah, komunikatif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Pengalaman pasien yang positif akan meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat citra RSUD sebagai rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan berkualitas.
Sudah saatnya pandangan bahwa RSUD selalu berada di bawah rumah sakit swasta mulai ditinggalkan. Studi Kelayakan Pembangunan RSUD Parapat di kawasan Danau Toba menunjukkan bahwa rumah sakit daerah memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi fasilitas kesehatan yang modern, berkualitas, dan mampu mendukung kebutuhan masyarakat maupun sektor pariwisata.
Dengan perencanaan yang baik, dukungan kebijakan, serta pengelolaan yang profesional, RSUD dapat memberikan pelayanan yang tidak kalah dengan rumah sakit swasta tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai rumah sakit publik. Pada akhirnya, penguatan RSUD bukan hanya berdampak pada meningkatnya kualitas layanan kesehatan, tetapi juga menjadi investasi penting bagi pembangunan daerah dan kemajuan destinasi wisata di Indonesia.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI
Referensi:
- Pinem, D. E., & Sembiring, R. D. (2024). Studi kelayakan finansial RSUD Parapat. Jurnal Darma Agung, 32(3), 373–385. https://doi.org/10.46930/ojsuda.v32i3.4468
Penulis:
Arimbi Genta Wardani, akrab disapa Arimbi/Arim, lahir di Lamongan dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Poltekkes Kemenkes Surakarta, tepatnya pada prodi Sarjana Terapan Keperawatan.