KKN Kolaborasi UIN Gus Dur dan UIN Surakarta tentang Makna Nyata Moderasi Beragama

Yuk ikuti perjalanan KKN Kolaborasi UIN Gus Dur dan UIN Surakarta di Belang Wetan, tempat keberagaman agama tumbuh dalam harmoni dan kebersamaan.

Oleh Ahmad Habiburrahman

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Desa Belang Wetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, kami datang membawa semangat pengabdian dan setumpuk rencana. Kami bukanlah tim KKN biasa, melainkan sebuah KKN Kolaborasi yang menyatukan mahasiswa dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Kelompok 2 dan UIN Raden Mas Said Surakarta Kelompok 103. Berangkat dari dua perguruan tinggi keislaman yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, kami menyatukan visi untuk menjalankan salah satu program kerja (proker) unggulan kami: Moderasi Beragama.

KKN Kolaborasi UIN Gus Dur dan UIN Surakarta

Niat awal kami sangat idealis: menyosialisasikan pentingnya toleransi, membangun kesadaran akan keberagaman, dan mengedukasi masyarakat tentang cara hidup rukun di tengah perbedaan keyakinan. Namun, apa yang kami temukan di Belang Wetan justru memutarbalikkan naskah kami. Desa ini memberikan kejutan luar biasa yang membuka mata kami lebar-lebar.

Potret Keragaman yang Hidup Berdampingan

Desa Belang Wetan adalah sebuah mozaik kehidupan yang kaya. Di sini, kami menemukan masyarakat yang dipenuhi dengan berbagai macam latar belakang agama. Mereka memeluk keyakinan yang berbeda-beda, namun sama sekali tidak ada sekat tak kasat mata yang memisahkan mereka dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Alih-alih melihat ketegangan antarumat beragama, kami dari KKN Kolaborasi justru disambut oleh pemandangan harmoni yang menghangatkan hati. Kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana tetangga yang berbeda agama saling bertukar sapa dengan tulus. Saat ada warga yang menggelar hajatan, membangun fasilitas desa, atau mengalami kedukaan, seluruh elemen masyarakat turun tangan bahu-membahu tanpa pernah mempertanyakan apa agama orang yang sedang mereka bantu.

Ketika Mahasiswa KKN Berbalik Menjadi Murid

Seiring berjalannya waktu, proker Moderasi Beragama yang kami susun sedemikian rupa dari kampus perlahan mengalami pergeseran makna. Baik kami yang berasal dari UIN Gus Dur maupun UIN Surakarta, menyadari satu kebenaran yang sangat fundamental: kami sama sekali tidak perlu mengajarkan moderasi beragama kepada warga Belang Wetan, karena mereka sudah menghidupinya setiap hari.

Mata kami terbuka lebar. Desa ini adalah miniatur nyata dari semboyan agung bangsa kita, Bhinneka Tunggal Ika. Di Belang Wetan, moderasi beragama bukanlah sekadar teori di bangku kuliah, bukan jargon kampanye, dan bukan sekadar materi seminar. Moderasi di sini adalah tindakan nyata. Ia terwujud dari harmoni suara azan yang berkumandang beriringan dengan kedamaian ibadah di gereja dan tempat ibadah lainnya, tanpa ada yang merasa terusik atau dihakimi. Tidak ada mayoritas yang arogan, dan tidak ada minoritas yang terpinggirkan. Semua melebur menjadi satu: Warga Belang Wetan.

Refleksi Akhir Sebuah Kolaborasi Pengabdian

Pada akhirnya, proker Moderasi Beragama kami berubah wujud. Dari yang awalnya dirancang sebagai bentuk "sosialisasi atau penyuluhan", beralih menjadi sebuah "selebrasi, apresiasi, dan dokumentasi". Kami belajar dan merayakan kerukunan warga desa, lalu berusaha membagikan kisah indah dari Belang Wetan ini ke dunia luar agar bisa menjadi inspirasi.

Bagi kami, kolaborasi antara UIN Gus Dur Kelompok 2 dan UIN Surakarta Kelompok 103 di Belang Wetan ini lebih dari sekadar menunaikan kewajiban SKS. Pengalaman ini adalah perjalanan spiritual dan sosial yang tak akan tergantikan. Desa Belang Wetan membuktikan kepada kami bahwa ketika agama dipahami secara moderat dan dijalankan dengan welas asih, yang lahir adalah sebuah simfoni kehidupan yang luar biasa indah.

Terima kasih, Belang Wetan. Kalian telah menjadi guru terbaik bagi kami dan menunjukkan wajah toleransi Indonesia yang sesungguhnya.

© Sepenuhnya. All rights reserved.