Memutus Hubungan Pertemanan Menurut Pandangan Islam

Yuk bangun pertemanan yang sehat dengan memahami batas privasi, toleransi, silaturahmi, konflik, dan pentingnya memilih teman yang saling menguatkan.

Kita semua pasti memiliki teman, mulai dari teman sekolah, teman hidup, teman tetangga, teman seprofesi, teman komunitas, hingga teman yang baru dikenal di tempat umum maupun melalui media sosial. Untuk dapat berkenalan dengan seseorang, biasanya kita memulainya dengan obrolan ringan atau small talk. Percakapan sederhana tersebut menjadi langkah awal untuk saling mengenal, memahami karakter, dan menemukan kesamaan satu sama lain.

Teman-teman Tertawa di Taman yang Bermandikan Cahaya Matahari

Setelah mengenal seseorang, langkah berikutnya adalah membangun kedekatan secara perlahan melalui komunikasi yang tulus dan konsisten. Kedekatan dapat dimulai dari sapaan ringan, menanyakan kabar, atau membicarakan hal-hal santai seperti hobi dan kegiatan sehari-hari. Namun, dalam membangun hubungan pertemanan, seseorang juga perlu memiliki batasan terhadap dirinya sendiri, terutama agar tidak terlalu oversharing atau membagikan urusan pribadi secara berlebihan. Kedekatan yang sehat tetap membutuhkan batas privasi agar hubungan dapat berkembang dengan nyaman dan saling menghargai.

Memiliki teman merupakan salah satu anugerah dalam kehidupan. Teman dapat memberikan dukungan emosional, membantu menjaga kesehatan mental, serta menjadi tempat berbagi ketika menghadapi berbagai keadaan, baik dalam suka maupun duka. Pertemanan yang baik tidak hanya dibangun atas dasar kesamaan, tetapi juga membutuhkan sikap saling menghargai terhadap perbedaan.

Salah satu bentuk nyata dalam menjaga kerukunan adalah menerapkan sikap toleransi dan tidak membeda-bedakan teman berdasarkan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Islam mengajarkan manusia untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13:

Yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr.

Artinya: “Manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan serta dijadikan berbangsa-bangsa agar saling mengenal dan yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa perbedaan merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Keberagaman seharusnya menjadi jalan bagi manusia untuk saling mengenal, bukan menjadi alasan untuk saling merendahkan atau memusuhi. Dalam pertemanan, seseorang dapat menjalin hubungan dengan siapa saja selama tetap menjaga akhlak, menghormati perbedaan, dan tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Mempunyai teman yang saleh dan beriman juga merupakan sebuah keberuntungan. Teman yang baik dapat menjadi pengingat ketika seseorang mulai lalai, memberikan nasihat ketika berada dalam kesalahan, serta mengajak kepada kebaikan. Bahkan, terdapat nasihat dari Hasan Al-Bashri, seorang ulama besar dari generasi tabi'in yang dikenal karena ilmu, kezuhudan, dan keberaniannya, agar seseorang memperbanyak teman-teman yang beriman karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.

Dalam nasihat yang dinisbatkan kepada Hasan Al-Bashri tersebut, digambarkan bahwa ketika seseorang masuk surga dan tidak menemukan sahabatnya yang dahulu bersama-sama menjalankan ketaatan di dunia, ia akan memohon kepada Allah SWT agar mencari dan menanyakan keberadaan sahabatnya tersebut. Atas izin Allah SWT, orang saleh tersebut dapat memohon agar sahabatnya yang berada di neraka karena dosa-dosanya dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga bersamanya. Gambaran tersebut menjadi pengingat bahwa pertemanan bukan hanya memiliki nilai dalam kehidupan dunia, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang menuju akhirat.

Dalam menjalin hubungan pertemanan, setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Perbedaan karakter tersebut dapat saling melengkapi kehidupan seperti warna-warni pelangi. Namun, pada saat yang sama, pertemanan juga sering menghadirkan dinamika yang kompleks, mulai dari ketulusan yang murni hingga kepura-puraan yang melelahkan.

Tidak semua orang yang disebut teman selalu hadir dalam keadaan sulit. Ada teman yang hanya hadir ketika suasana sedang menyenangkan atau ketika memiliki kepentingan tertentu. Ada pula hubungan pertemanan yang dipenuhi rasa iri, sikap menjatuhkan, bullying, hingga kepura-puraan demi mendapatkan penerimaan dari kelompok. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat kehilangan keberanian untuk mempertahankan kebenaran karena lebih memilih membela orang yang disukai atau dianggap memberikan manfaat kepadanya.

Salah satu persoalan yang sering terjadi dalam kelompok pertemanan adalah sikap ikut-ikutan memusuhi seseorang. Perilaku tersebut dapat disebut sebagai konformitas negatif atau peer pressure, yaitu tekanan dari teman sebaya yang membuat seseorang mengikuti sikap kelompok meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan keyakinan atau penilaiannya sendiri. Seseorang dapat melakukan hal tersebut karena ingin mendapatkan pengakuan, diterima oleh kelompok, atau takut dikucilkan. Jika dibiarkan, perilaku semacam ini dapat merusak hubungan pertemanan yang sehat dan menumbuhkan permusuhan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Dalam pandangan Islam, perselisihan antarsesama muslim juga memiliki batasan. Mendiamkan atau tidak bertegur sapa dengan sesama muslim akibat pertengkaran atau perselisihan mengenai urusan duniawi tidak diperbolehkan jika berlangsung lebih dari tiga hari. Batas waktu tersebut memberikan kesempatan bagi seseorang untuk meredakan emosi, menghilangkan kejengkelan, dan menenangkan diri sebelum kembali memperbaiki hubungan.

Apabila pertengkaran dan sikap saling mendiamkan terus berlangsung lebih dari tiga hari karena persoalan duniawi, tindakan tersebut menjadi sesuatu yang dilarang dan dapat termasuk dosa karena memutus hubungan persaudaraan. Oleh karena itu, ketika terjadi konflik, seseorang sebaiknya memberikan waktu yang cukup untuk menenangkan diri, kemudian berusaha mencari jalan keluar dan memperbaiki hubungan apabila memungkinkan.

Islam juga pada dasarnya melarang memutus tali silaturahmi. Namun, terdapat keadaan tertentu ketika seseorang perlu membatasi hubungan apabila hubungan tersebut membawa mudarat besar terhadap agama, keselamatan jiwa, atau menyebabkan kezaliman yang terus-menerus tanpa adanya niat perbaikan dari pihak yang bersangkutan. Pengecualian tersebut bukan berarti membenci seseorang atau menghilangkan hak dan kewajiban mendasar dalam hubungan keluarga, melainkan membatasi interaksi agar tidak menimbulkan keburukan yang lebih besar.

Dengan demikian, menjaga silaturahmi tidak selalu berarti seseorang harus terus-menerus berada dalam hubungan yang penuh konflik. Hubungan dapat dibatasi seperlunya tanpa harus ikut masuk ke dalam pusaran masalah yang merusak. Sikap tersebut dapat menjadi bentuk menjaga diri sekaligus mencegah munculnya konflik yang lebih besar.

Hal yang sama dapat diterapkan ketika seseorang ingin menjalin kembali hubungan dengan teman yang sering menimbulkan masalah. Memperbaiki hubungan tidak berarti harus kembali dekat seperti sebelumnya. Batasan yang tegas tetap diperlukan agar kesehatan mental dan ketenangan diri tetap terjaga. Misalnya, durasi pertemuan dapat dibatasi, topik pembicaraan dapat dipilih dengan lebih hati-hati, atau komunikasi dapat dilakukan melalui pesan singkat apabila bertemu secara langsung terasa terlalu berat.

Pertemanan yang sehat bukan hanya tentang memiliki banyak teman, tetapi tentang memiliki hubungan yang dibangun atas dasar ketulusan, saling menghargai, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Teman yang baik tidak selalu membenarkan semua tindakan kita, tetapi berani mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan. Sebaliknya, kita juga perlu belajar menjadi teman yang mampu memberikan dukungan tanpa kehilangan batasan diri.

Memilih lingkungan pertemanan dengan bijak merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan. Pertemanan yang baik dapat menjadi sumber dukungan dan membawa seseorang semakin dekat kepada kebaikan, sedangkan pertemanan yang dipenuhi tekanan, kepura-puraan, dan perilaku merusak perlu dihadapi dengan batasan yang sehat. Dengan menjaga komunikasi, toleransi, silaturahmi, serta memilih teman yang dapat saling menguatkan dalam kebaikan, hubungan pertemanan dapat menjadi sesuatu yang bernilai bukan hanya di dunia, tetapi juga sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

Bambang Suharto

Penulis:

Bambang Suharto, S.H. merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo bergelar Sarjana Hukum (S.H.) Ia suka membaca dan menulis waktu kuliah, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana ia berkarir sebagai Human Resourse Departemen (HRD) di perusahaan, sekarang berprofesi sebagai wiraswasta pemilik minimarket sembako yang menjual aneka kebutuhan pokok keperluan rumah tangga. Selain itu juga hobi membaca media online dan media cetak serta menulis artikel, puisi, cerpen, esai, quote dan juga aktif mengikuti seminar online maupun offline untuk menambah wawasan dan relasi.

Penulis bisa disapa di Instagram @mas_bambang.s

© Sepenuhnya. All rights reserved.