Stunting Bukan Takdir: Saatnya Bergerak Bersama Mewujudkan Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat

Yuk bersama cegah stunting melalui pemenuhan gizi, lingkungan sehat, pola asuh tepat, dan edukasi sejak dini demi masa depan generasi Indonesia.

Oleh Anasha Dini Audiva

Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan melalui langkah nyata. Salah satunya dengan memastikan setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sejak awal kehidupan. Anak yang sehat hari ini bukan hanya kebanggaan keluarga, tetapi juga bagian penting dari masa depan bangsa.

Stunting

Tangisan bayi yang baru lahir membawa harapan akan masa depan yang cerah. Namun, harapan tersebut dapat menghadapi tantangan ketika kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupannya. Pada periode inilah stunting dapat terjadi. Menurut World Health Organization (WHO), stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berkaitan dengan gizi yang buruk, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi psikososial, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). (World Health Organization, 2016).

Salah satu tantangan dalam penanganan stunting adalah masih adanya pemahaman yang kurang tepat di masyarakat. Stunting kerap dianggap hanya sebagai kondisi tubuh pendek atau bahkan dikaitkan dengan faktor keturunan. Padahal, stunting merupakan masalah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor dan dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.

Stunting tidak muncul karena satu penyebab saja. Kondisi ini merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari pemenuhan gizi ibu dan anak, infeksi berulang, pola asuh, hingga kondisi sanitasi dan lingkungan. WHO juga menempatkan sistem kesehatan, pendidikan, kondisi sosial, pangan, serta air dan sanitasi sebagai bagian dari faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting. Karena itu, pencegahannya tidak dapat dilakukan hanya dengan memberikan makanan bergizi, tetapi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

Stunting bukan sekadar masalah tubuh yang lebih pendek. Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan kognitif lebih rendah, mengalami kesulitan belajar, dan mencapai pendidikan yang lebih rendah. Penelitian Lestari et al. (2024) terhadap 4.379 anak di Indonesia menunjukkan bahwa stunting berkaitan dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah dan pencapaian pendidikan yang lebih rendah. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa gangguan pertumbuhan pada masa kanak-kanak berkaitan dengan berkurangnya potensi pendapatan sepanjang kehidupan melalui kemampuan kognitif dan pendidikan yang lebih rendah. Dengan demikian, dampak stunting dapat berlanjut hingga usia dewasa.

Kondisi tersebut masih menjadi persoalan di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional turun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. Penurunan ini merupakan capaian positif, tetapi berarti sekitar satu dari lima balita di Indonesia masih mengalami stunting. Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa jumlah balita stunting terbesar terkonsentrasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Banten. (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2025).

Pemerintah juga perlu terus memperkuat program pencegahan dan penanganan stunting. Penurunan prevalensi dari 21,5% menjadi 19,8% menunjukkan adanya kemajuan, tetapi tantangan masih besar. Kementerian Kesehatan menargetkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 14,2% pada 2029, sehingga diperlukan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat. (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Namun, kebijakan yang baik tidak cukup hanya berhenti pada target angka. Tantangan terbesar justru terletak pada pelaksanaan di tingkat keluarga dan masyarakat. Program harus benar-benar sampai kepada ibu hamil, bayi, balita, kader, dan keluarga yang berada di wilayah dengan risiko tinggi. Jangan sampai keberhasilan hanya terlihat pada laporan, sementara keluarga yang paling membutuhkan justru belum memperoleh pendampingan yang memadai.

Menurut saya, tantangan Indonesia bukan hanya mempertahankan program penurunan stunting, tetapi memastikan bahwa masyarakat memahami pentingnya pencegahan sejak dini. Pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi. Sebaik apapun kebijakan yang dibuat, hasilnya akan lebih optimal apabila keluarga mampu menerapkan perilaku kesehatan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Era digital juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat upaya pencegahan stunting. Edukasi mengenai gizi, tumbuh kembang, dan pencegahan stunting dapat disampaikan melalui media sosial, video pendek, webinar, maupun berbagai platform digital lainnya. Penelitian Faridah et al. (2024) menunjukkan bahwa intervensi edukasi secara daring dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu dalam memberikan stimulasi perkembangan pada balita stunting. Namun, pengetahuan yang baik perlu didukung oleh lingkungan yang sehat agar dapat diterapkan secara optimal dalam kehidupan sehari-hari.

Lingkungan yang sehat merupakan bagian penting dalam pencegahan stunting. Ketersediaan air bersih, sanitasi yang layak, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, serta kebersihan lingkungan rumah dapat membantu mencegah infeksi yang berulang dan mengganggu pertumbuhan anak. Dengan demikian, pencegahan stunting tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga perlu memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung perkembangannya.

Di sinilah generasi muda, termasuk mahasiswa keperawatan, dapat mengambil peran. Kita tidak harus menunggu menjadi tenaga kesehatan profesional untuk berkontribusi. Membagikan informasi berbasis bukti, meluruskan mitos tentang stunting, membantu edukasi di masyarakat, dan mengajak keluarga memanfaatkan Posyandu merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak sekarang.

Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan stunting tidak ditentukan oleh satu pihak. Ibu membutuhkan dukungan selama kehamilan, anak membutuhkan gizi dan lingkungan yang sehat, orang tua membutuhkan informasi yang tepat, kader membutuhkan keterampilan deteksi dini, tenaga kesehatan membutuhkan dukungan sistem, dan pemerintah perlu memastikan seluruh program berjalan hingga tingkat masyarakat. Ketika setiap pihak menjalankan perannya, pencegahan stunting menjadi gerakan yang nyata, bukan sekadar target angka.

Menurut saya, inilah makna dari Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat. Mencegah stunting bukan hanya tentang menurunkan angka prevalensi, tetapi tentang memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal. Stunting bukan takdir. Dengan pengetahuan yang benar, pencegahan sejak dini, dan gerakan bersama, masa depan generasi Indonesia dapat kita jaga mulai dari sekarang.

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

Referensi:

  • Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2025). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dalam angka. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/5861/
  • Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2025). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dalam angka. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/?utm
  • Faridah, F., Anies, A., Kartasurya, M. I., & Widjanarko, B. (2024). Online educational intervention: Improving maternal knowledge and attitudes in providing developmental stimulation for stunting toddlers. Narra J, 4(1), e591. https://doi.org/10.52225/narra.v4i1.591
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, May 26). SSGI 2024: Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%. https://kemkes.go.id/id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2025–2029. https://jdih.kemkes.go.id/
  • Lestari, E., Siregar, A. Y. M., Hidayat, A. K., & Yusuf, A. A. (2024). Stunting and its association with education and cognitive outcomes in adulthood: A longitudinal study in Indonesia. PLOS ONE, 19(5), e0295380. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0295380
  • World Health Organization. (2016). Childhood stunting: Context, causes and consequences. World Health Organization. https://www.who.int/publications/m/item/childhood-stunting-context-causes-and-consequences-framework

Penulis:

Anasha Dini Audiva | Poltekkes Kemenkes Surakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.