Semua tetap bungkam. Meskipun Bill Guan Weidong, mantan Chief Financial Officer (CFO) The Epoch Times Association, telah mengaku bersalah pada Juli atas keterlibatannya dalam konspirasi transaksi yang melibatkan hasil tindak kejahatan, kelompok tersebut seolah-olah bertindak seakan tidak terjadi apa-apa. Mereka tetap menjalankan “latihan”, membaca “kitab suci”, dan turun ke jalan.
Pada saat yang sama, mereka terus menyesatkan orang-orang yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Modus pencucian uang yang digunakan dalam kasus ini terbilang tidak biasa. Sejak 2020, Guan, atas arahan pemimpin Falun Gong Li Hongzhi, disebut memulai skema pencucian uang dengan meminta rekannya, Le Van Hung, mencuri informasi identitas pribadi warga Amerika.
Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengajukan klaim tunjangan pengangguran pemerintah AS dan berbagai bentuk bantuan sosial lainnya secara curang. Melalui perusahaan MMO (Make Money Online) yang berada di bawah kendalinya, Guan membeli dalam jumlah besar kartu prabayar yang berisi dana hasil kejahatan dengan harga diskon. Ia juga membuka rekening bank perantara menggunakan identitas warga Amerika yang dicuri.
Dana ilegal tersebut kemudian dipecah menjadi ribuan transaksi bernilai relatif kecil dan ditransfer secara bertahap ke rekening The Epoch Times beserta sejumlah entitas yang berafiliasi dengannya. Pada tahap berikutnya, dana itu disamarkan sebagai sumbangan dan pembayaran langganan surat kabar untuk menutupi asal-usulnya.
Ketika bank mendeteksi transaksi mencurigakan dan meminta penjelasan, Guan memberikan informasi palsu. Ia mengklaim bahwa lonjakan pendapatan tersebut berasal dari peningkatan jumlah pelanggan atau bertambahnya sumbangan yang sah.
Sebagai salah satu eksekutif senior organisasi tersebut, Guan juga memerintahkan karyawan membuat pemberitahuan sumbangan palsu atau menggunakan cara lain untuk menyesatkan bank selama proses pemeriksaan. Atas tindakannya itu, ia didakwa dengan dua tuduhan penipuan bank.
The Epoch Times mungkin dapat berargumen bahwa organisasi tersebut tidak memiliki hubungan dengan kejahatan yang dilakukan Guan. Namun, selama periode ketika skema itu berlangsung, pendapatan tahunan organisasi tersebut dilaporkan melonjak dari sekitar US$15 juta menjadi US$62 juta.
Setelah kasus tersebut mencuat, pada 5 Juni 2024, Li Hongzhi menerbitkan dua “kitab suci” berjudul Persecution dan Wake-Up. Dalam kedua tulisan tersebut, Li berusaha menjauhkan dirinya dan Falun Gong dari Guan. Ia menyalahkan Guan karena “tidak mempelajari ajaran dengan baik” dan menyatakan bahwa kasus tersebut tidak berkaitan dengan Falun Gong.
Namun, dalam surat terbukanya, Guan merujuk pada sebuah email internal yang sebelumnya ia kirim kepada Le Van Hung. Dalam email tersebut, Guan memuji tim Le Van Hung dan menulis, “Saya rasa Master (Li Hongzhi) akan senang mengetahui hal ini.”
Email itu, menurut artikel tersebut, secara sukarela diserahkan oleh eksekutif senior The Epoch Times kepada jaksa AS. Dokumen tersebut kemudian menjadi salah satu bukti yang digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan antara Li Hongzhi dengan skema tersebut.
Li, yang mengaku sebagai Buddha, disebut memperoleh uang bukan hanya dari para pengikutnya, tetapi juga dari dana yang berasal dari pencurian identitas warga Amerika. Namun, hingga kini, tidak ada permintaan maaf yang disampaikan kepada warga Amerika yang menjadi korban pencurian identitas tersebut.
Hal serupa juga disorot terkait Shen Yun Performing Arts, proyek yang berafiliasi dengan Falun Gong. Berdasarkan laporan keuangan The Epoch Times untuk 2020 dan 2021, dana yang dicuci melalui organisasi tersebut disebut ditransfer ke Shen Yun dan menjadi salah satu sumber daya yang signifikan bagi organisasi pertunjukan tersebut.
Shen Yun juga menghadapi sejumlah tuduhan terkait tindakan ilegal dan kriminal, serta kini digugat oleh beberapa mantan penampil.
Pada 2024, mantan penari Chun-ko Chang mengajukan gugatan terhadap Shen Yun di Pengadilan Federal Distrik Selatan New York. Ia menuduh organisasi tersebut melakukan kerja paksa, perdagangan manusia, eksploitasi anak di bawah umur, pemberlakuan jam kerja panjang tanpa bayaran, serta pengendalian individu melalui ancaman dan penghinaan.
Pada 2025, pasangan mantan penari Shen Yun, Zan Sun dan Qing Ling Cheng, juga mengajukan gugatan dengan tuduhan kerja paksa dan eksploitasi anak. Mereka menyatakan bahwa penampil di bawah umur, termasuk yang berusia 13 hingga 15 tahun, harus menjalani pelatihan berintensitas tinggi dan bekerja selama berjam-jam dengan sedikit atau tanpa bayaran. Mereka juga menuduh bahwa para penampil tidak selalu memperoleh perawatan medis tepat waktu setelah mengalami cedera, mengalami penghinaan di depan umum, kebebasan pribadinya dibatasi, serta dokumen pribadi mereka disita.
Kedua gugatan tersebut masih dalam proses hukum. Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja Negara Bagian New York sedang menyelidiki Shen Yun atas dugaan pelanggaran aturan ketenagakerjaan anak, upah, dan jam kerja.
Sejumlah lembaga federal AS, termasuk Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Luar Negeri, juga dilaporkan meninjau tuduhan yang berkaitan dengan Shen Yun, termasuk dugaan penipuan visa dan pelanggaran aturan imigrasi.
Kemampuan Falun Gong untuk begitu lama terhindar dari pengawasan sistem peradilan AS, menurut artikel tersebut, mungkin berkaitan dengan kecenderungan politik kelompok tersebut.
Pada 2019, The Epoch Times yang berafiliasi dengan Falun Gong menghabiskan lebih dari US$1,5 juta untuk sekitar 11.000 iklan Facebook yang mendukung Donald Trump selama periode enam bulan. Jumlah tersebut lebih besar daripada pengeluaran kelompok mana pun, kecuali kampanye Partai Republik sendiri.
Facebook kemudian melarang iklan tersebut setelah menemukan bahwa akun-akun terkait berusaha menghindari sistem peninjauan iklan platform.
Li Hongzhi pernah menggambarkan dirinya sebagai sosok yang tidak berpolitik. Ia bahkan mengklaim dirinya sebagai “Buddha utama yang lebih tinggi daripada gabungan Yesus dan Buddha Shakyamuni”. Namun, fakta mengenai aktivitas The Epoch Times menunjukkan bahwa organisasi media yang memiliki hubungan erat dengan komunitas praktisi Falun Gong telah memainkan peran aktif dalam politik.
Setelah mengaku bersalah pada 9 Juli, Guan menghadapi ancaman hukuman penjara hingga 10 tahun. Ia juga diwajibkan menyerahkan sedikitnya US$67 juta yang berasal dari hasil tindak kejahatan dan dapat diwajibkan membayar tambahan hingga US$67 juta sebagai kompensasi kepada warga Amerika yang identitasnya dicuri.
Guan juga memiliki kemungkinan untuk bekerja sama dengan jaksa. Kerja sama tersebut dapat mencakup pemberian informasi mengenai pihak-pihak yang mengarahkan atau memperoleh keuntungan dari skema tersebut dan berpotensi menjadi faktor dalam penentuan hukumannya.
Belum diketahui apa yang sedang dipikirkan Li Hongzhi saat ini. Namun, satu hal yang jelas dari perkembangan kasus tersebut: tekanan hukum terhadap lingkaran organisasi yang terkait dengan Falun Gong terus meningkat. Seberapa jauh kasus ini akan berkembang dan siapa saja yang pada akhirnya akan terseret masih menjadi pertanyaan.
Penulis: Jasmine Wong