BON yang Dianjurkan

Apa yang terjadi saat gempa 7,7 magnitudo mengguncang Flores, NTT, dan bagaimana kepanikan, doa, serta kepedulian menyatukan keluarga dan warga?

Apapun bisa terjadi jika Yang Mahakuasa sudah berkehendak. Yah, sama halnya dengan kejadian yang menimpa saudara-saudaraku di Flores, Nusa Tenggara Timur. Pagi hari saat semua orang memulai aktivitasnya, guncangan menyapa tanpa aba-aba. Huruhara dan kegaduhan sangat terasa.

BON yang Dianjurkan

Aku memang sedang tidak berada di sana, tak merasakan getaran dahsyat yang dialami bumi. Tapi rasa sedih sekaligus khawatir selalu menghantui pikiran dan diri. Wajar jika seperti itu, karena banyak keluarga dan kerabatku yang merasakan guncangan tersebut.

Sabtu, 15 Agustus 2026, alarm bumi berkekuatan 7,7 magnitudo menggemparkan tanah kelahiranku. Ya, aku menyebutnya sebagai alarm 7,7. Sebab aku merasa guncangan itu telah membangunkan semua orang di pagi itu, bahkan orang-orang yang paling sulit untuk menyapa terangnya mentari.

Hari itu aku hanya menunggu notifikasi pesan dari keluargaku, berharap ada kabar yang cukup meyakinkanku untuk tetap tenang di tempatku berpijak sekarang. Harapan yang ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan; bunyi notifikasi tak kunjung datang, ditambah spam chat-ku yang hanya memperlihatkan warna abu-abu tanpa sempat berubah biru. Aku mulai menerka-nerka sambil meyakinkan diri bahwa mereka semua akan baik-baik saja. Semoga begitu.

Kejadian tersebut kembali menyadarkanku bahwa sepertinya kita perlu ditegur untuk lebih mengingat Sang Maha Penguasa. Aku sangat yakin betapa banyak jiwa yang mulai berdoa dan memohon kepada-Nya untuk tetap terjaga dan terhindar dari kejadian serupa, begitupun diriku.

Saat malam tiba, dering telepon terdengar dan segera kuangkat. Alhamdulillah, mereka dalam keadaan baik-baik saja. Listrik padam selepas guncangan dan sinyal pun ikut hilang, itu sebabnya mereka baru bisa menghubungiku di malam hari. Pembicaraan tentang keadaan, situasi di sana, dan hal-hal kecil lainnya terjalin malam itu. Seketika aku sadar betapa jarangnya aku menghubungi mereka sekadar untuk menanyakan kabar. Mungkin ini juga jadi pelajaran untukku agar lebih bisa menghargai waktu dan kesempatan yang dimiliki.

Di hari yang sama, gempa susulan masih terus terjadi dan berpotensi tsunami. Bisa kubayangkan betapa tidak nyamannya mereka saat itu. Ketakutan, trauma, dan kesedihan datang beriringan menyapa. Kala itu aku melihat kiriman gambar dari kakakku; mereka yang tidur menatap langit di hamparan kain mota tebal berwarna biru dengan angin malam yang begitu dingin. Hatiku serasa tertancap duri dan air mataku bercucuran di atas pipi.

Media sosial mulai gempar dengan guncangan yang menimpa saudara-saudaraku di sana. Banyak unggahan tentang bencana dan doa baik untuk mereka. "Pray for Flores, NTT" menjadi kata-kata yang ramai dibagikan di setiap status media sosial.

Sebagai seorang anak sekaligus mahasiswa, pasti ada keinginan untuk bisa membantu mereka yang tertimpa musibah tersebut. Akhirnya aku bersama teman-teman sedaerah sepakat melakukan penggalangan dana untuk para korban gempa di tanah kelahiran kami. Alhamdulillah, walaupun sedikit, itu sangat membantu daripada kami hanya berdiam diri melihat semua kerusakan akibat guncangan dahsyat itu.

Dalam situasi seperti ini, hal yang paling dibutuhkan saudara-saudaraku adalah perhatian pemerintah setempat. Begitu banyak bantuan dari pemerintah luar daerah yang disalurkan kepada para korban guncangan itu. Tapi ironisnya, gubernur daerahku malah menyarankan untuk bon di toko-toko warga yang masih punya persediaan barang makanan. Alih-alih memberi bantuan langsung, hal itu justru terasa menambah beban para korban. Entah kapan akan dilunasi olehnya, siapa yang tahu?

Penulis:

Firda Alin lahir pada tanggal 7 Juli 2005 | Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang.

© Sepenuhnya. All rights reserved.