Depok, 11 September 2026 – Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi setiap peserta didik untuk belajar, berkembang, dan berinteraksi tanpa rasa takut. Namun, keberagaman karakteristik peserta didik di sekolah inklusi juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam membangun hubungan sosial yang positif. SMP Muhammadiyah 2 Depok sebagai sekolah inklusi memiliki peserta didik dengan karakteristik dan kebutuhan yang beragam, termasuk peserta didik dengan ADHD, hambatan pendengaran, hiperaktif, dan kebutuhan lainnya. Dalam kondisi tersebut, perilaku bullying menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat mempengaruhi rasa aman dan kenyamanan peserta didik di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) melaksanakan sosialisasi anti-bullying sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai bullying serta mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih aman dan saling menghargai. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDGs) 4: Quality Education, yang menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan lingkungan belajar yang aman.
Sosialisasi anti-bullying membahas beberapa hal yang berkaitan dengan bahaya bullying bagi korban, bentuk-bentuk perilaku bullying, serta langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi bullying. Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh peserta didik dan dikaitkan dengan situasi yang dapat mereka temui dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Selain penyampaian materi, mahasiswa menggunakan poster anti-bullying sebagai media edukasi untuk memperkuat pesan yang disampaikan. Dalam kegiatan ini, penulis berperan dalam merancang poster yang berisi pesan mengenai dampak bullying dan pentingnya menghentikan perilaku tersebut. Dengan adanya media visual, pesan anti-bullying diharapkan dapat lebih mudah diingat dan menjadi pengingat bagi peserta didik dalam berinteraksi dengan teman-temannya.
Kegiatan ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk memahami bahwa bullying bukan sekadar candaan, tetapi merupakan perilaku yang dapat memberikan dampak negatif kepada korban. Peserta didik juga diperkenalkan pada beberapa tindakan yang dapat dilakukan ketika menghadapi atau melihat bullying, seperti tidak ikut melakukan bullying, memberikan dukungan kepada korban, dan melaporkan kejadian kepada orang dewasa yang dapat membantu. Selain materi utama mengenai bullying, peserta didik juga menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari bahasa isyarat. Ketertarikan tersebut kemudian direspons melalui pembuatan poster sederhana mengenai bahasa isyarat. Bagian ini menjadi pendukung kegiatan karena memperkenalkan bentuk komunikasi yang dapat membantu peserta didik lebih menghargai teman dengan hambatan pendengaran. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berupaya mencegah bullying, tetapi juga menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah keberagaman peserta didik.
Melalui sosialisasi ini, mahasiswa PK berharap kesadaran peserta didik mengenai bullying dapat terus berkembang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Pencegahan bullying tidak cukup dilakukan melalui satu kegiatan, tetapi membutuhkan kepedulian dan keterlibatan seluruh warga sekolah. Peserta didik diharapkan mampu menciptakan interaksi yang lebih positif, menghargai perbedaan, serta berani mengambil tindakan yang tepat ketika menemukan perilaku bullying. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan memberikan kesempatan yang setara bagi setiap peserta didik, sesuai dengan semangat SDGs 4.
Penulis:
Faisal Alwi Ramadhan | Mahasiswa PK UNY 2026 di SMP Muhammadiyah 2 Depok.