Setiap perjalanan punya cara sendiri untuk menguji kita. Bukan sekadar tentang sejauh apa kaki melangkah atau seberapa indah pemandangan di titik akhir, melainkan tentang apa yang kita temukan di sepanjang trek yang menanjak. Hari itu, cerita itu bermula dari sebuah pertanyaan sederhana di samping mabna.
"Mau enggak mendaki gunung? Mumpung libur tiga hari."
Pertanyaan iseng yang ternyata disambut hangat oleh Samirah, Warda, dan Arsya. Pukul 20.30 WIB, kami berempat melangkah meninggalkan mabna menuju Bukit Jabal. Tanpa pengalaman melimpah, hanya berbekal peta offline dari aplikasi dan antusiasme yang menggebu.
Pelajaran di Tengah Tanjakan
Malam makin larut ketika jarum jam menyentuh angka 00.00 WIB. Kita diizinkan memulai pendakian di jam 12 tepat. Setelah doa bersama di basecamp, langkah kaki kami mulai membelah kegelapan. Dari basecamp hingga Pos 1, semuanya terasa ramah. Namun, gunung selalu punya cara untuk menguji ketahanan. Dari Pos 3 menuju Pos 4, trek berubah menjadi tanjakan tanpa henti, tanpa memberi bonus jalan landai sedikit pun.
Di titik itulah ketahanan kami diuji. Rasa lelah mulai menutup rasa semangat. Lalu, di tengah sunyinya malam dan deru napas yang memburu, terdengar suara isakan yang samar. Warda menangis. Bukan karena terluka, tapi karena fisik yang sudah tak sanggup menahan lelah.
Di situasi itu, aku menyadari sesuatu. Gunung sering kali mengelupas lapisan terluar diri kita hingga yang tersisa hanya kejujuran. Aku tidak tertawa. Aku mendekat, menggandeng tangannya pelan-pelan, dan melangkah bersama. Perjalanan ini bukan lagi soal siapa yang paling cepat sampai, melainkan tentang bagaimana kita saling menuntun agar tidak ada yang tertinggal.
Puncak dan Rasa Pasrah
Pukul 05.20 WIB, plakat puncak akhirnya terlihat. Tubuh-tubuh yang lelah itu langsung terhempas ke tanah. Namun, di balik rasa tepar itu, ada ketenangan yang mengalir pelan. Setelah membasuh wajah dengan air pegunungan dan menunaikan salat subuh, langit perlahan terang.
Sebagian orang bilang, capek-capek naik gunung rugi jika mendapatkan kabut. Tapi bagi aku, puncak cerah hanyalah bonus. Pelajaran sejati ada pada proses menerima: menerima medan yang terjal, menerima napas yang terengah, dan menerima apa pun yang diberikan alam di atas sana, baik kabut maupun cerah. Dengan rasa syukur aku menerimanya.
Menjalani Perjalanan Selanjutnya
Pengalaman pertama itu meninggalkan jejak yang dalam di pikiranku. Ia mengubah cara aku melihat banyak hal. Sejak itu aku mulai menyisihkan uang saku, mengurangi jajan, dan melengkapi peralatan pendakian satu demi satu. Bukan untuk sekadar bergaya atau FOMO, melainkan karena ada rasa rindu akan ketenangan dan rasa persaudaraan yang hangat di atas gunung.
Mendaki gunung tidak ada bedanya dengan menjalani hidup. Kita akan selalu bertemu dengan tanjakan yang membuat ingin menyerah, rasa lelah yang memancing tangis, atau jalan licin yang membuat ragu. Namun selama kita mau melangkah pelan-pelan, saling bantu, dan menerima setiap prosesnya, kita akan selalu menemukan jalan untuk sampai dan pulang dengan hati yang lebih kaya.
Semoga wishlist-ku satu persatu bisa terwujud, menginjakkan ke gunung-gunung yang menjadi impianku.
Penulis:
Maslahatul Himmah merupakan seorang pembelajar yang saat ini menempuh pendidikan di jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim. Ketertarikannya pada bidang kebahasaan dan literatur mendorongnya untuk terus menuangkan pemikiran ke dalam bentuk esai. Ia terbuka untuk berbagai diskusi dan dapat disapa di Instagram @mslhtl24.