Masa kecil sering kali menjadi ruang tempat kita menyimpan ingatan-ingatan paling jujur sekaligus paling penuh sesal. Yang kemudian ada dalam ingatan saya, masa kanak-kanak pernah sedemikian dekatnya. Ada kenangan manis saat berpergian bersama Ayah, Ibu, dan seorang abang yang usianya berjarak tiga tahun di atas saya. Namun, sebagai anak yang cengeng, keras kepala, dan selalu menuntut keinginannya diturutin, saya perlahan menjadi sebab dari banyak gesekan.
Setiap kali saya menangis, abang yang selalu disalahkan. Dialah yang diminta mengalah dan menahan diri demi memuaskan keegoisan seorang adik. Di balik kesabarannya, mungkin terbentuk pemahaman diam-diam bahwa adiknya ini adalah sosok yang merepotkan. Padahal, di tengah situasi itu, ada satu momen sederhana yang tak pernah luntur dari ingatan: saat saya berulang tahun, ia menyerahkan kepingan uang receh miliknya sebagai hadiah. Nilainya mungkin tak seberapa, tetapi ketulusannya menjadi hal paling membahagiakan yang terus saya kenang hingga hari ini.
Seiring berjalannya waktu, kedekatan itu perlahan memudar. Terlebih saat saya memutuskan keluar dari rumah untuk menempuh pendidikan di pesantren sejak SMP, jarak fisik makin memperlebar jarak emosional. Kami beranjak dewasa seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah satu atap. Bertahun-tahun kami hidup tanpa tegur sapa dan tanpa komunikasi. Rasa canggung dan luka masa kecil yang tak pernah dibicarakan memisahkan kami selama hampir 15 tahun.
Hingga akhirnya, momen yang tak disangka-sangka itu hadir. Karena suatu urusan di kota tempat saya tinggal sekarang, ia menyempatkan diri datang menjenguk. Ia mengajak saya meluangkan waktu sejenak untuk sekadar berlibur bersama.
Meski diawali rasa canggung, percakapan demi percakapan mulai mencairkan dinding tebal yang terbangun sejak belasan tahun. Pertemuan yang singkat itu membawa kehangatan luar biasa yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Saat duduk dan tertawa dengannya, sebuah perasaan hangat membuncah di dalam dada: oh, seperti ini rasanya memiliki seorang abang yang sesungguhnya.
Hubungan persaudaraan memang rumit. Kadang kita harus melalui tahun-tahun hening dan jarak yang jauh hanya untuk menyadari betapa berharganya satu sama lain. Keegoisan masa kecil dan jarak ribuan hari ternyata tidak benar-benar menghapus rasa kasih sayang yang pernah ada; ia hanya tertimbun oleh waktu dan menunggu momen yang tepat untuk bangkit kembali.
Terima kasih untuk waktu yang singkat namun sangat berarti itu. Semoga langkah dan rezekimu selalu dilancarkan. Dan dari lubuk hati yang paling dalam, saya berharap momen ini bukan sekadar penutup dari masa lalu yang dingin, melainkan awal baru bagi kita untuk bertumbuh sebagai kakak dan adik sebagaimana mestinya.
Penulis:
Warda Maulida, biasa dipanggil Warda, berasal dari Jakarta, seorang mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra Arab, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.