Mentari belum sepenuhnya tinggi ketika halaman kampus IKIP Widya Darma sudah berdenyut oleh energi yang berbeda dari hari-hari perkuliahan biasa. Tepat pukul 07.00 WIB pada Minggu, 6 September 2026, barisan dosen, tenaga kependidikan (tendik), hingga petugas kebersihan tumpah ruah di area halaman. Hari itu, sekat-sekat birokrasi dan hierarki struktural ditanggalkan sejenak. Di bawah komando Rektor Dr. Drs. Nur Sukri, M.Si., seluruh civitas akademika bersiap melebur dalam satu irama kebersamaan menuju bumi perkemahan dan wisata Bernah de Vallei, Pacet, Kabupaten Mojokerto. Dua armada Toyota Hiace yang membawa rombongan bergerak meninggalkan pelataran kampus, membelah pagi menuju pelukan kaki Gunung Welirang dan Anjasmoro.
Perjalanan darat menuju kawasan Pacet tidak sekadar menjadi perpindahan fisik dari satu titik ke titik lain, melainkan sebuah ruang rekreasi komunal yang hidup. Di dalam armada yang memuat gelak tawa, Assoc. Prof. Dr. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd., sosok akademisi yang lekat dengan julukan seniman kampus sekaligus penyanyi legendaris IKIP Widya Darma, mengambil alih suasana. Suaranya yang khas melantunkan tembang-tembang kenangan lintas dekade. Alunan lagu-lagu nostalgia tersebut mengalir di sepanjang perjalanan, mencairkan ketegangan rutinitas akademik mingguan, dan menyatukan napas penumpangnya dalam harmoni masa lalu yang hangat.
Setibanya di Bernah de Vallei, gerbang petualangan langsung menyambut fisik para peserta. Bus dan kendaraan tidak bisa merangsek hingga titik kegiatan utama, mengharuskan rombongan menapaki jalur setapak yang menantang. Mereka harus berjalan kaki menelusuri kontur jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun secara ekstrem, mengingatkan siapapun pada lirik lagu anak-anak legendaris tentang naik ke puncak gunung. Napas memburu dan tetesan keringat di dahi seketika terbayar lunas ketika kaki-kaki lelah itu menjejak di sebuah hamparan tanah lapang yang dinaungi rimbunnya pepohonan pinus. Udara pegunungan yang bersih, dingin, dan kaya oksigen menyambut paru-paru mereka, memberikan transisi kontras dari pengapnya ruang kerja urban.
Sesi pertama dari rangkaian kegiatan luar ruang langsung dimulai di bawah naungan rindang hutan pinus tersebut. Tim pemandu wisata lokal merancang sesi pembuka yang berfokus pada pencairan kebekuan (ice breaking) berbasis kearifan lokal. Permainan tradisional bertajuk "Ontong-Ontong Bolong" digelar dengan melibatkan tembang rakyat sebagai pengiringnya. Dalam gim ini, para peserta dibagi ke dalam regu-regu kecil beranggotakan lima orang. Uniknya, ikatan fisik yang merekatkan kelompok tersebut adalah tautan ibu jari dari setiap anggota. Filosofi sederhananya kasat mata: kekuatan kolektif berawal dari genggaman jempol yang saling mengunci, menyimbolkan bahwa putus satu kaitan berarti runtuhnya kestabilan kelompok. Gelak tawa langsung pecah tatkala ritme lagu rakyat bertubrukan dengan kelucuan gerakan para peserta yang berusaha menjaga tautan jempol agar tidak terlepas di tengah tempo yang kian cepat.
Tak berhenti pada permainan jempol, tensi keakraban digenjot naik melalui pembagian kelompok yang lebih besar. Tim pemandu memecah seluruh peserta ke dalam empat pleton unik yang dinamai dengan fauna: Kelompok Kucing, Kelompok Kambing, Kelompok Kupu-Kupu, dan Kelompok Kuda. Dinamika kelompok ini diuji melalui tantangan yel-yel kreatif. Aturannya sederhana namun memicu adrenalin komunal: kelompok yang "ketiban sampur" atau mendapat giliran lemparan tantangan dari kelompok lain harus segera merespons dengan yel-yel khas disertai peragaan gerakan tubuh yang sengaja dibuat selucu mungkin. Aksi para dosen senior dan tenaga kependidikan yang berjoget menirukan gaya kupu-kupu atau ringkikan kuda dengan ekspresi jenaka menghadirkan gelombang tawa tanpa henti, meruntuhkan batasan formalitas institusional yang selama ini melekat di ruang-ruang kuliah.
Usai menguras energi lewat gelak tawa dan yel-yel, ritme kegiatan bergeser dari sekadar kelucuan fisik menuju petualangan yang memacu adrenalin. Panitia telah menyiapkan armada jeep off-road tangguh untuk memboyong para peserta membelah medan perbukitan Pacet yang terkenal terjal. Kendaraan bermesin gahar itu menderu menaiki tanjakan curam, meliuk-liuk di atas jalur tanah berbatu, dan merayap di tepi jurang yang menganga di sisi lembah. Di dalam kabin terbuka jeep, suasana berubah menjadi riuh rendah yang didominasi oleh koor teriakan histeris, pekikan kaget, dan tawa lepas. Sensasi meluncur di atas punggung bukit yang curam di antara sela-sela jurang memberikan suntikan dopamin instan bagi setiap akademisi yang kesehariannya akurat berkutat di balik meja kerja dan laptop.
Rangkaian ketegangan fisik tersebut kemudian dinetralkan dengan agenda yang lebih hangat dan reflektif. Sesampainya kembali di basecamp utama, acara bertransisi ke sesi ramah tamah yang cair. Momen ini sekaligus dimanfaatkan untuk menutup secara resmi kepanitiaan Wisuda ke-35 IKIP Widya Darma di bawah kepemimpinan M. Riadhos Solichin, SE., S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Panitia, sebuah hajatan besar institusi yang baru saja rampung digelar dengan sukses. Suasana kekeluargaan semakin kentara tatkala panitia membagikan berbagai macam doorprize menarik. Undian nomor kupon diwarnai sorak-sorai gembira tatkala nama-nama dosen atau tenaga kebersihan keluar sebagai pemenang hadiah utama, menciptakan pemerataan kebahagiaan di antara seluruh lini civitas akademika.
Sebagai penutup sesi darat sebelum beranjak pulang, panggung kecil di tengah hutan pinus kembali dihangatkan oleh penampilan maestro internal kampus. Assoc. Prof. Dr. Edy Suseno kembali mengambil mikrofon, melantunkan deretan lagu cinta dan nostalgia yang meresap syahdu di antara desau angin lereng gunung. Lirik-lirik romantis tempo dulu itu menghadirkan memori kolektif, membuat sebagian peserta ikut bernyanyi pelan sambil merangkul pundak rekan sejawat. Lagu-lagu tersebut bertindak sebagai medium katarsis emosional, merangkum perjalanan satu hari penuh ke dalam sebuah kenangan manis tentang arti sebuah keluarga kedua di tempat kerja.
Namun, petualangan hari itu rupanya belum benar-benar usai sebelum ditutup dengan sebuah ujian keberanian terakhir. Sebelum berjalan kaki menuju titik parkir kendaraan, para peserta diberi kesempatan menjajal wahana flying fox yang membentang tepat di atas jurang yang curam dan dalam. Satu per satu, baik dosen senior maupun staf tendik, memberanikan diri mengenakan tali pengaman, meluncur deras dari ketinggian menyeberangi lembah hijau. Jeritan-jeritan tertahan yang berujung pada senyum kelegaan menandai keberhasilan mereka menaklukkan rasa takut. Dari bilik jurang yang curam itu, terselip sebuah metafora tak terucap: bahwa bersama institusi tercinta, tantangan sebesar apapun akan terasa ringan jika dilewati bersama-sama. Langkah kaki pun kembali diayunkan menyusuri jalan setapak menuju armada Hiace, membawa pulang jiwa-jiwa yang telah segar dan siap kembali merajut masa depan pendidikan tinggi di kampus IKIP Widya Darma.
Penulis:
- Assoc. Prof. Dr. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd.
- M. Riadhos Solichin, SE, S.Pd., M.Pd.
- Ira Wulan Sari, S.Pd., M.Pd.
Para penulis merupakan dosen tetap di IKIP Widya Darma, dari Program Studi Pendidikan: Bahasa Inggris, Ekonomi, dan Matematika.