Pakem, 16 September 2026 – Kegiatan ekstrakurikuler wajib pramuka di SMP Negeri 3 Pakem tidak hanya diisi dengan kegiatan tepuk tangan, atau menyanyi. Pramuka menjadi salah satu wadah bagi siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga mempraktikkan keterampilan, bekerja sama, dan belajar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan Experiential Learning Theory dari David A. Kolb, yang menekankan pembelajaran melalui pengalaman langsung dan penerapan dalam situasi nyata.
Pembina Pramuka SMPN 3 Pakem, Fernando Wenas, menjelaskan bahwa kegiatan Pramuka diarahkan pada keterampilan yang dapat berguna bagi siswa di kemudian hari.
“Di SMPN 3 Pakem bukan hanya menyanyi dan tepuk tangan, tapi lebih ke soft skill yang mungkin mereka akan terapkan di kemudian hari, seperti tali temali, membuat tenda darurat, terus P3K, mitigasi bencana dan lain sebagainya.” ujar Wenas.
Kegiatan Pramuka tersebut mendukung SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) karena Pramuka tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tetapi juga karakter, keterampilan, kepemimpinan, kerja sama, dan kemandirian siswa.
Selain pengembangan diri, Pramuka juga mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan. Siswa melakukan pemilahan sampah dan memanfaatkan sampah daun untuk membuat kompos dalam kegiatan Jumat Bersih. Wenas menjelaskan bahwa kompos tersebut kemudian dapat digunakan kembali untuk tanaman.
“Sampah daun diubah menjadi komposter. Setelah beberapa bulan dikasih tetes EM4 supaya jadi cepat proses komposternya, sampah-sampah daun tadi akhirnya buat ditanam lagi,” jelas Wenas.
Kegiatan Pramuka tersebut mendukung SDG 12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), karena siswa belajar mengelola dan memanfaatkan kembali sampah.
Pramuka juga mengajarkan siswa membuat penjernihan air sederhana dengan botol bekas yang diisi kapas, pasir, dan sabut kelapa. Kepedulian terhadap lingkungan juga diterapkan melalui kegiatan penanaman. Wenas menjelaskan, “Saat kemah, siswa juga melakukan penanaman bibit sebagai bagian dari program Adiwiyata di sekolah.” Kegiatan tersebut menjadi pengalaman langsung bagi siswa untuk mengenal dan merawat lingkungan sekitar.
Sementara itu, kegiatan penanaman bibit saat kemah menjadi bagian dari program Adiwiyata dan sejalan dengan SDG 15: Life on Land (Ekosistem Daratan), melalui pembiasaan menjaga dan merawat lingkungan.
Menurut Wenas, perubahan konsep kegiatan Pramuka juga berdampak pada ketertarikan siswa. Sebelumnya, sebagian siswa menganggap Pramuka sebagai kegiatan yang membosankan dan bahkan enggan mengikutinya. Namun, kegiatan yang lebih banyak memberikan pengalaman dan keterampilan membuat siswa menjadi lebih aktif.
“Kalau sekarang dengan kita kasih kegiatan bukan hanya nyanyi dan tepuk tangan, tapi memberikan soft skill dan keterampilan, anak sebenarnya lebih tertarik karena langsung ada dampaknya juga,” ujar Wenas.
Pihak sekolah turut mendukung dan memperkuat pelaksanaan kegiatan tersebut. Sebagai sekolah Adiwiyata, SMPN 3 Pakem berupaya memasukkan unsur kepedulian lingkungan dalam berbagai kegiatan sekolah, termasuk Pramuka. Wenas menyebutkan bahwa kepala sekolah, Adi Sudarmono, turut mendukung agar kegiatan kepramukaan tetap memiliki keterkaitan dengan program Adiwiyata.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Pramuka SMPN 3 Pakem sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan yang menjadi wadah bagi siswa untuk belajar dari pengalaman, mengembangkan karakter, dan peduli terhadap lingkungan.
Penulis:
Evita Rahmadani | Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) UNY 2026 di SMP Negeri 3 Pakem.